BMKG Ungkap Gempa Magnitudo 7,6 Sulawesi Utara Termasuk Megathrust, Potensi Tsunami Tinggi Ancam 3 Provinsi Ini

Lucky Lukman Nul Hakim • Dipublikasikan Kamis, 2 April 2026 | 10:29 WIB
Gempa mengguncang perairan Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Gempa mengguncang perairan Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

RADAR BOGOR - Guncangan kuat terjadi di wilayah utara Indonesia pada Kamis pagi 2 April 2026), ketika gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang perairan Sulawesi Utara dan Maluku Utara. 

Peristiwa ini langsung memicu kekhawatiran luas, terutama karena karakteristik gempa yang dinilai berpotensi memicu tsunami.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, gempa tersebut termasuk dalam kategori megathrust, yakni jenis gempa besar yang terjadi di zona pertemuan lempeng tektonik. 

Baca Juga: Bansos April 2026 Cair Lagi: Bantuan Beras 20 Kg dan Minyak 4 Liter Dibagikan, Simak Syarat dan Wilayahnya

Dalam penjelasannya, Direktur Informasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Riyono menyampaikan, gempa ini memiliki kedalaman yang relatif dangkal, sehingga energinya terasa lebih kuat di permukaan.

Ia menjelaskan, gempa dengan kedalaman sekitar puluhan kilometer di zona subduksi seperti ini tergolong sebagai gempa megathrust. 

Selain itu, karena sumber gempa berada di bawah laut dan memiliki mekanisme sesar naik, potensi terjadinya tsunami menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan jenis gempa lainnya.

Baca Juga: SMA YPHB Kota Bogor Umumkan Puluhan Siswa yang Masuk Perguruan Tinggi Dalam dan Luar Negeri Jalur Mandiri, SNBP hingga Jarvis, Berikut Daftarnya

Lebih lanjut, Rahmat Riyono menuturkan, aktivitas gempa berasal dari subduksi Laut Maluku yang memanjang hingga wilayah Sulawesi Utara. 

Kondisi ini mendorong BMKG untuk segera mengeluarkan peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah yang dinilai berisiko terdampak.

"Kami sudah buat peringatan sebab gempa naik itu berpotensi menimbulkan tsunami tinggi dibandingkan mekanisme mendatar. Tilis peringatan dini tsunami di beberapa wilayah juga sudah kami rilis," paparnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama mengungkapkan, dampak gempa dirasakan cukup luas, terutama di tiga provinsi di kawasan utara Sulawesi dan Maluku. 

Baca Juga: Prioritaskan Guru, Baru Bicara Mutu Pendidikan

Wilayah yang paling merasakan guncangan kuat meliputi Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo.

Gempa ini sendiri tercatat terjadi pada pukul 05.48 WIB, dengan lokasi episenter berada di koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur. 

Kedalaman gempa tercatat sekitar 62 kilometer di bawah permukaan laut, yang memperkuat klasifikasi sebagai gempa dangkal.

Baca Juga: Review Kafe Alam Baru di Bogor: Kembali ke Alam Bubulak Jadi Spot Nongkrong Paling Teduh Buat Healing Tanpa Harus ke Puncak

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan, gempa dipicu oleh deformasi kerak bumi akibat aktivitas subduksi di Laut Maluku. 

Berdasarkan hasil analisis, mekanisme pergerakan gempa menunjukkan pola sesar naik atau thrust fault, yang dikenal memiliki daya rusak tinggi serta potensi tsunami yang signifikan.

BMKG juga mencatat adanya gelombang tsunami yang terdeteksi di dua wilayah, sehingga masyarakat di daerah pesisir diminta untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait.

Baca Juga: YASPI Ash Shoheh Gelar Halal Bihalal, Perkuat Kebersamaan Keluarga Besar Pendidikan

Peristiwa ini menjadi pengingat kuat bahwa wilayah Indonesia, khususnya kawasan timur, berada di jalur cincin api Pasifik yang aktif secara tektonik. 

Dengan kondisi tersebut, kesiapsiagaan dan respons cepat menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko bencana di masa mendatang. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
tsunami gempa sulawesi utara bmkg maluku utara