RADAR BOGOR - Penyakit pada saluran pencernaan masih menjadi masalah kesehatan di banyak negara ber-kembang, termasuk Indonesia.
Salah satu penyebabnya adalah parasit protozoa yaitu Entamoeba histolytica. Parasit ini masuk ke tubuh manusia melalui makanan dan air yang terkontaminasi melaui tinja dari manusia atau primata.
Parasit ini bersifat zoonosis artinya dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Infeksi yang ditimbulkan dikenal sebagai amebiasis atau disentri amuba.
Banyak orang menganggap diare sebagai penyakit ringan, padahal pada beberapa kasus infeksi amoeba dapat menyebabkan luka pada usus, diare berdarah, bahkan menyebar ke organ lain seperti hati (membentuk abses hati yang berbahaya) dan otak (abses otak).
Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami cara penularan, gejala, pencegahan, dan pengobatan penyakit ini agar dapat melindungi diri dan keluarga.
Apa Itu Amoeba?
Amoeba adalah parasit protozoa, organisme bersel satu yang dapat dilihat menggunakan mikroskop.
Baca Juga: SPMB 2026 di Bogor Resmi Dibuka, SMAN 4 Cibinong Siapkan Kuota 432 Siswa Baru
Parasit ini hidup di lingkungan lembap seperti air, tanah, dan saluran pencernaan manusia dan primata.
Salah satu jenis amoeba yang berbahaya bagi manusia adalah Entamoeba histolytica.
Parasit ini hidup di usus besar manusia dan primata dan memiliki dua bentuk utama:
1. Kista
- Bentuk tahan hidup di lingkungan luar.
- Dapat bertahan hidup pada makanan, air, atau tangan yang kotor.
- Menjadi sumber utama penularan.
2. Trofozoit
- Bentuk aktif yang hidup di dalam usus manusia dan primata.
-Dapat merusak dinding usus dan menyebabkan luka.
Ketika seseorang menelan kista melalui makanan atau minuman yang tercemar, kista akan berubah menjadi trofozoit di dalam usus dan mulai berkembang biak.
Selain di usus, melalui peredaran darah parasit ini dapat menuju ke hati, paru-paru dan otak.
Bagaimana Penularannya?
Penularan Entamoeba histolytica terjadi melalui jalur fekal-oral, yaitu ketika kista parasit dari tinja masuk ke mulut .
Beberapa sumber penularan yang umum antara lain:
Baca Juga: Kejar Sanitasi Layak, Pemkot Bogor Genjot Septic Tank Komunal dan Sambungan Air Limbah untuk Warga
1. Air minum tercemar
Air yang tidak dimasak atau terkontaminasi tinja dapat mengandung
kista amoeba.
2. Makanan yang tidak higienis
Sayuran mentah, buah yang tidak dicuci bersih, atau makanan yang diolah tanpa menjaga kebersihan dapat menjadi media penularan.
3. Tangan yang kotor
Tidak mencuci tangan setelah buang air besar atau sebelum makan dapat memindahkan kista ke makanan.
4. Lalat dan Kecoa
Lalat rumah dan kecoa dapat membawa kista amoeba dari tempat kotor ke makanan manusia. Serangga ini sering hinggap di sampah, tinja, dan saluran pembuangan sebelum hinggap di makanan.
5. Sanitasi Buruk
Lingkungan dengan jamban yang tidak layak, air kotor, dan sistem pembuangan limbah yang buruk meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
Gejala Klinis
Sebagian orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala. Namun, pada kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi penyakit serius.
Gejala Ringan
- Nyeri perut
- Diare ringan
- Perut kembung
- Mual
- Nafsu makan menurun
Gejala Berat
- Diare berdarah
- Lendir pada tinja
- Demam
- Nyeri perut hebat
- Penurunan berat badan
- Tubuh lemas
Komplikasi Berbahaya
Pada kasus tertentu, parasit dapat menyebar melalui aliran darah menuju hati menyebabkan abses hati amuba.
Jika infeksi menyebar lebih jauh, parasit dapat melewati sirkulasi darah (seringkali melalui paru-paru) hingga mencapai sistem saraf pusat (otak).
Di dalam jaringan otak, parasit membentuk lesi atau rongga yang berisi jaringan mati, darah, dan amoeba. Gangguan yang ditimbulkan pada otak dikenal sebagai abses otak amuba (amebiasis serebral).
Kondisi ini memicu peradangan hebat dan pembengkakan, yang akan meningkatkan tekanan intrakranial (tekanan di dalam rongga kepala).
Gejala abses hati amuba meliputi:
- Nyeri perut kanan atas
- Demam tinggi
- Pembesaran hati
- Kulit tampak kuning
Jika tidak segera diobati, kondisi ini dapat mengancam jiwa.
Gejala abses otak amuba meliputi:
- Sakit kepala parah yang bersifat progresif.
- Kejang.
- Mual dan muntah.
- Penurunan kesadaran .
Kelemahan pada salah satu sisi tubuh, gangguan penglihatan, atau kesulitan berbicara.
Abses otak amuba adalah komplikasi yang sangat fatal. Tanpa penanganan medis yang cepat dan akurat, angka kematiannya sangat tinggi.
Pencegahan
Pencegahan amebiasis sangat penting dan terutama berkaitan dengan kebersihan pribadi dan sanitasi lingkungan.
1. Mencuci Tangan
Cuci tangan menggunakan sabun:
- Sebelum makan
- Setelah dari toilet
- Setelah memegang sampah
2. Mengonsumsi Air Bersih
- Minum air yang sudah dimasak
- Hindari air mentah yang tidak jelas kebersihannya
3. Menjaga Kebersihan Makanan
- Cuci buah dan sayuran dengan air bersih
- Masak makanan hingga matang
- Tutup makanan agar tidak dihinggapi lalat
4. Mengendalikan Lalat dan Kecoa
- Buang sampah secara rutin
- Bersihkan saluran air
- Gunakan penutup makanan
- Jaga kebersihan dapur dan toilet
5. Memperbaiki Sanitasi Lingkungan
- Gunakan jamban sehat
- Hindari pembuangan tinja sembarangan
- Pastikan air limbah dikelola dengan baik
Pengobatan
Infeksi Entamoeba histolytica dapat diobati dengan obat antiparasit yang diresepkan dokter.
Beberapa obat yang umum digunakan:
- Metronidazole
- Tinidazole
- Paromomycin
Pengobatan bertujuan:
- Membunuh parasit di usus
- Mengatasi gejala
- Mencegah komplikasi
Pasien dianjurkan:
- Menghabiskan obat sesuai anjuran dokter
- Banyak minum untuk mencegah dehidrasi
- Menjaga kebersihan agar tidak menularkan ke orang lain
- Pada kasus abses hati, pasien mungkin memerlukan perawatan rumah sakit.
Kesimpulan
Entamoeba histolytica adalah parasit protozoa penyebab amebiasis yang menular melalui makanan dan air yang terkontaminasi.
Penyakit ini dapat menyebabkan disentri, diare berdarah hingga komplikasi serius seperti abses hati dan otak.
Pencegahan utama dilakukan dengan menjaga kebersihan tangan, makanan, air minum, serta sanitasi lingkungan.
Pengendalian lalat dan kecoa juga penting karena kedua serangga tersebut dapat membantu penyebaran parasit.
Dengan edukasi dan perilaku hidup bersih, risiko infeksi amoeba dapat dikurangi sehingga kesehatan masyarakat menjadi lebih baik. (***)
Penulis :
Umi Cahyaningsih
Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB