Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Swasembada Gula Jadi Prioritas Pemerintah, Impor Dikurangi Lewat Perluasan Lahan Tebu

Yosep Awaludin • Jumat, 17 Juli 2026 | 09:30 WIB
Wamenko Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, saat menghadiri kegiatan panen tebu di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis 16 Juli 2026.
Wamenko Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, saat menghadiri kegiatan panen tebu di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis 16 Juli 2026.

RADAR BOGOR – Pemerintah terus mempercepat langkah menuju swasembada gula nasional sebagai bagian dari program ketahanan pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden. 

Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan produksi tebu, modernisasi industri gula, hingga penguatan kesejahteraan petani.

Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, saat menghadiri kegiatan panen tebu di Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Kamis 16 Juli 2026.

Hanif menjelaskan, program swasembada pangan tidak hanya difokuskan pada komoditas padi dan jagung yang saat ini dinilai telah mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Pemerintah kini juga mengarahkan perhatian pada pencapaian swasembada gula konsumsi atau gula kristal putih yang menjadi target pada 2026.

Menurutnya, upaya mewujudkan kemandirian gula nasional sudah tidak bisa ditunda lagi karena selama bertahun-tahun sektor tersebut belum memperoleh perhatian yang optimal.

Baca Juga: Michael Olise Ingin Gabung Real Madrid, Munchen Sebut Tak Masuk Daftar Jual 

"Swasembada gula merupakan target yang harus diwujudkan. Pemerintah kini memberikan perhatian lebih besar terhadap komoditas ini, termasuk melalui pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk mempercepat program swasembada pangan secara nasional," ujar Hanif.

Ia mengungkapkan, kebutuhan gula konsumsi nasional saat ini mencapai sekitar 2,8 juta ton per tahun.

Meski target swasembada telah ditetapkan, pemerintah tetap menyesuaikan langkah dengan perkembangan kondisi di lapangan.

Hanif juga mengakui bahwa Indonesia masih bergantung pada impor gula rafinasi untuk memenuhi kebutuhan sektor industri.

Karena itu, pemerintah memperkirakan diperlukan tambahan lahan perkebunan tebu sekitar 700 ribu hektare yang akan dikembangkan secara bertahap guna meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.

Selain memperkuat ketahanan pangan, pengurangan impor gula dinilai akan memberikan dampak positif terhadap penciptaan lapangan pekerjaan.

Baca Juga: Resep Telur Asam Manis, Menu Praktis dengan Cita Rasa ala Resto yang Segar dan Menggugah Selera

"Setiap sekitar 3,5 ton gula rafinasi yang selama ini diimpor setara dengan peluang terciptanya satu lapangan kerja apabila diproduksi dari tebu dalam negeri. Karena itu, pengembangan industri gula juga memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat," jelasnya.

Hanif menambahkan, pemerintah akan membangun ekosistem industri gula secara menyeluruh, mulai dari penguatan sektor hulu, peningkatan kapasitas produksi, hingga pengembangan hilirisasi.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap gula impor.

Dalam kesempatan tersebut, Hanif juga memberikan apresiasi terhadap pola kemitraan yang dijalankan petani tebu dengan Pabrik Gula Krebet (Rajawali I) di Kabupaten Malang.

Menurutnya, model kerja sama tersebut dapat menjadi contoh pengembangan industri gula berbasis kolaborasi antara koperasi, petani, dan korporasi.

Meski demikian, ia menyoroti masih rendahnya tingkat rendemen tebu nasional yang rata-rata berada di kisaran 7 persen, jauh di bawah sejumlah negara produsen gula yang telah mampu mencapai 12 hingga 13 persen.

Baca Juga: Penampilannya Disorot, 4 Pemain Inggris Ini Dinilai Tak Layak Masuk Skuad Lagi

"Pemerintah menargetkan peningkatan rendemen secara bertahap, mulai dari 8 persen hingga mencapai 10 persen. Hal ini perlu didukung melalui modernisasi peralatan, revitalisasi proses pascapanen, serta peningkatan produktivitas. Ketika kesejahteraan petani meningkat, target swasembada akan lebih mudah dicapai," katanya.

Sementara itu, Bupati Malang Muhammad Sanusi menegaskan pemerintah daerah terus mendukung pengembangan sektor pertebuan melalui berbagai program pembinaan teknis yang dilaksanakan Dinas Pertanian.

Menurut Sanusi, pembinaan tersebut meliputi penyuluhan, pendampingan, pengawasan, hingga pengawalan berbagai program yang ditujukan bagi petani tebu agar produktivitas terus meningkat.

Ia menyebut Kabupaten Malang saat ini memiliki areal perkebunan tebu seluas sekitar 48 ribu hektare dengan total produksi mencapai 43 juta kuintal atau sekitar 4,3 juta ton tebu per tahun.

Sanusi optimistis kapasitas produksi tersebut dapat menjadi salah satu penopang penting dalam mendukung target swasembada gula nasional.

"Pemerintah Kabupaten Malang terus memberikan pendampingan kepada petani melalui Dinas Pertanian, mulai dari penyuluhan, pengawasan, hingga pengawalan berbagai program pengembangan sektor tebu dan industri gula," ungkapnya. (***)

Editor : Yosep Awaludin
ketahanan pangan swasembada gula