5 Saran dr. Tirta bagi Warga Jabodetabek yang Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau

Eli Kustiyawati • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 10:59 WIB
dr. Tirta Beri saran kesehatan untuk warga yang terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau (a Instagram @dr.tirta)
dr. Tirta beri saran kesehatan untuk warga yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (Instagram @dr.tirta)

RADAR BOGOR - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda membuat hujan abu vulkanik menyebar ke berbagai wilayah, mulai dari Banten hingga sejumlah kawasan di Jabodetabek dan Jawa Barat.

Menanggapi kondisi ini, dr. Tirta Mandira Hudhi membagikan sejumlah saran kesehatan bagi masyarakat yang terdampak melalui unggahan video di akun media sosial pribadinya pada 6 September 2026.

Dalam penjelasannya, dr. Tirta mengaku memiliki pengalaman serupa saat wilayahnya pernah terdampak abu vulkanik dari erupsi Gunung Kelud dan Gunung Merapi.

Baca Juga: Penerbangan Terganggu Erupsi Gunung Anak Krakatau, PT KAI Pastikan Perjalanan Kereta Tetap Lancar

Berdasarkan pengalaman tersebut, ia membagikan lima langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Selalu Gunakan Masker Saat Beraktivitas di Luar Ruangan

Menurut dr. Tirta, penggunaan masker menjadi hal pertama yang wajib diperhatikan, bahkan ketika abu vulkanik yang turun terlihat tipis sekalipun.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi, Warga Diminta Jaga Jarak

"Kalian kalau ke mana-mana aktivitas outdoor walaupun abunya tipis itu harus memakai masker," ujar dr. Tirta.

Ia menjelaskan, abu vulkanik yang terhirup terlalu sering ke saluran pernapasan dapat memicu reaksi alergi hingga gangguan pada saluran pernapasan bagian atas.

Bahkan pada kondisi yang lebih parah, paparan abu vulkanik secara terus-menerus berpotensi menyebabkan bronkitis.

Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi Pagi Ini, Kolom Abu Capai 1.000 Meter

"Karena abunya itu kalau terhirup terlalu sering ke dalam saluran pernapasan itu bisa menyebabkan reaksi alergi dan bisa menyebabkan gangguan saluran pernapasan pada atas, bahkan pada kondisi parah bisa menyebabkan bronkitis," jelasnya.

Jangan Menyapu Abu, Siram dengan Air

Saran kedua yang disampaikan dr. Tirta berkaitan dengan cara membersihkan abu vulkanik yang menempel di rumah maupun halaman.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak membersihkan abu dengan cara disapu dalam kondisi kering.

Baca Juga: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Sampai Bogor, Begini Cara Lindungi Diri

"Kalau kalian mau bersihin abu yang ada di rumah, di halaman, jangan disapu, itu tambah terbang, tambah sesak nafas dan batuk-batuk. Disiram pakai air ya, disiram pakai air," kata dr. Tirta.

Gunakan Facial Wash yang Tepat Jika Wajah Terkena Abu

Selain itu, dr. Tirta juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati apabila wajah terkena abu vulkanik. Ia menyarankan penggunaan facial wash yang sesuai dan menghindari kebiasaan langsung menggosok wajah.

"Kalau kena muka itu sebenarnya gunakan facial wash yang proper, jangan langsung ngegesek karena bisa baret-baret, serius coy," ucapnya.

Baca Juga: Abu Anak Krakatau Terdeteksi, Bandara Soekarno-Hatta Ditutup

Maklumi Bau Abu Vulkanik yang Tidak Sedap

Poin keempat yang disampaikan dr. Tirta adalah mengenai bau yang ditimbulkan oleh abu vulkanik.

Menurutnya, masyarakat perlu memaklumi kondisi tersebut karena memang menjadi karakteristik dari abu vulkanik itu sendiri.

"Maklumi kalau baunya itu agak aneh ya, namanya juga abu vulkanik," ujarnya.

Baca Juga: ASN Tak Lagi Hanya Dinilai dari Kehadiran, Kinerja Jadi Sorotan: Apa Dampaknya bagi Karier?

Alihkan Olahraga Outdoor ke Indoor

Saran terakhir ditujukan bagi masyarakat yang gemar berolahraga di luar ruangan. dr. Tirta menyarankan agar sementara waktu aktivitas olahraga dipindahkan ke dalam ruangan guna menghindari risiko terhirup abu vulkanik dalam jumlah yang lebih banyak.

"Buat teman-teman yang hobi berolahraga outdoor diganti dulu di indoor ya, daripada Anda berisiko terhirup abu vulkanik semakin banyak, kecuali Anda olahraga outdoornya mau pakai masker," katanya.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Tak Bisa Dipecat Sembarangan? Ini Alasan yang Bisa Membuat Status Berakhir

Erupsi Anak Krakatau Sebabkan Sebaran Abu hingga Jabodetabek

Diberitakan sebelumnya, hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu malam.

Keesokan paginya, sejumlah unggahan di media sosial menunjukkan abu vulkanik Anak Krakatau telah mencapai sejumlah wilayah, termasuk Depok dan Bintaro.

Berdasarkan analisis BMKG, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, salah satunya bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, serta Jawa Barat.

Baca Juga: Bukan Otomatis Diangkat, Ini 2 Hal yang Menentukan PPPK Paruh Waktu Bisa Jadi Penuh Waktu

Kondisi ini membuat aktivitas gunung api yang berpusat di Selat Sunda tersebut mulai bersinggungan dengan wilayah Jabodetabek maupun jalur penerbangan, hingga sempat berdampak pada operasional Bandara Soekarno-Hatta.

Selama status Gunung Anak Krakatau masih berada pada level siaga, masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari pihak berwenang seperti PVMBG dan BMKG, sembari menerapkan langkah-langkah pencegahan seperti yang disampaikan dr. Tirta demi menjaga kesehatan diri dan keluarga selama masa erupsi berlangsung.***

Editor : Eli Kustiyawati
Sumber : BMKG, Instagram @dr.tirta
Erupsi Gunung Anak Krakatau saran kesehatan jabodetabek abu vulkanik dr. Tirta