Beras Merauke Bidik Pasar Papua, Tim TEP IPB Dorong Penguatan RMU hingga Merek Lokal

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 17:45 WIB
Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Tata Kelola Rantai Nilai dan Ekosistem Bisnis Padi Terintegrasi Hulu-Hilir Berbasis One Village One CEO (OVOC). Foto: IPB for Radar Bogor
Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Tata Kelola Rantai Nilai dan Ekosistem Bisnis Padi Terintegrasi Hulu-Hilir Berbasis One Village One CEO (OVOC). Foto: IPB for Radar Bogor

RADAR BOGOR – Beras lokal Merauke, Papua Selatan, mulai dipersiapkan untuk memperluas jangkauan pemasaran ke sejumlah wilayah di Papua. Namun, upaya tersebut masih membutuhkan penguatan dari sisi kualitas, pasokan, kemasan, hingga strategi pemasaran.

Persoalan beras Merauke, Papua itu menjadi salah satu pembahasan Tim 5 Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University 2026 dalam Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Tata Kelola Rantai Nilai dan Ekosistem Bisnis Padi Terintegrasi Hulu-Hilir Berbasis One Village One CEO (OVOC).

FGD digelar di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Merauke, Selasa, 15 September 2026. Forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem bisnis padi di Kawasan Transmigrasi Salor.

Baca Juga: Gol Cepat Membuat Persib Unggul Atas FC Seoul 1-0

Ketua Tim 5 TEP IPB University, Doni Sahat Tua Manalu, mengatakan kegiatan tersebut dilakukan untuk menghimpun masukan dari berbagai pihak sekaligus memvalidasi data yang telah dikumpulkan selama tim berada di lapangan.

“Kami ingin mengumpulkan masukan dari berbagai pihak sekaligus mengonfirmasi dan memvalidasi data yang sudah diperoleh selama kegiatan di lapangan,” kata Doni.

Menurutnya, pengembangan ekosistem padi membutuhkan kolaborasi dari berbagai pelaku. Mulai dari petani, penyedia sarana produksi, pengelola Rice Milling Unit (RMU), lembaga pemasaran, hingga konsumen akhir.

RMU dan Merek Jadi Kunci

Baca Juga: Cara Mudah Cek Penerima BLT Dana Desa September 2026, Cukup Pakai NIK KTP

Koordinator Lapangan Tim 5 TEP IPB University, Doki Efendi, mengatakan perluasan pasar harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas produksi dan pengolahan.

“Kami melihat peluang untuk mengembangkan beras lokal Merauke melalui penguatan RMU, pengembangan merek, dan perluasan pasar,” ujarnya.

Doki menyebut beras lokal Merauke memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang membawa identitas daerah. Namun, kualitas produk, kontinuitas pasokan, kemasan, dan jalur distribusi harus dipastikan secara konsisten.

Salah satu RMU yang menjadi perhatian tim berada di Kampung Sumber Harapan (SP3), Distrik Tanah Miring. Fasilitas tersebut telah memiliki sejumlah sarana, mulai dari penggilingan, pengering, penyimpanan, hingga pengemasan.

Baca Juga: Tak Cuma Belajar di Kelas, Siswa SMK Amaliah 1 Ciawi Bogor Intip Langsung Dunia Industri

RMU itu juga telah memproduksi beras dengan merek Nona Merauke, yang diarahkan untuk menyasar pasar beras lokal dengan nilai tambah lebih tinggi.

Anggota Tim 5 TEP IPB University, Putri Valentine, menilai pengembangan pemasaran perlu berjalan beriringan dengan penguatan identitas produk.

“Beras lokal Merauke perlu memiliki identitas yang kuat agar mudah dikenali dan memiliki daya saing,” tuturnya.

Menurut Putri, kemasan, informasi mengenai asal produk, kualitas beras, serta kepastian ketersediaan menjadi sejumlah aspek penting untuk membangun kepercayaan konsumen.

Dalam FGD, peserta juga membahas kemungkinan pengembangan merek lain. Beberapa gagasan nama seperti Pace Merauke dan Mace Merauke muncul dalam diskusi, meski keduanya masih berupa usulan awal dan membutuhkan pembahasan lebih lanjut.

Baca Juga: Bansos PKH BPNT Kembali Cair, KPM Exclude Ada yang Statusnya Aktif Lagi

Bidik Pasar Hotel hingga Papua Pegunungan

Tim 5 TEP IPB University turut memetakan sejumlah segmen konsumen yang dapat menjadi sasaran pemasaran. Di antaranya toko pengecer, hotel, restoran, kafe, konsumen langsung, hingga lembaga yang membutuhkan pasokan beras dalam jumlah tertentu.

Peluang ekspansi juga terbuka ke wilayah Papua lainnya, termasuk Papua Pegunungan. Namun, kualitas dan kontinuitas pasokan menjadi faktor yang harus dipastikan sebelum pasar diperluas.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Merauke dalam FGD turut membagikan pengalaman pengiriman beras ke Jayapura yang sempat menghadapi kendala kualitas.

Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi agar ekspansi pemasaran berikutnya dilakukan dengan persiapan lebih matang.

Baca Juga: Kasus Dugaan Korupsi HGB Bogor, Summarecon Tegaskan Siap Kooperatif dengan KPK

Dari sisi produksi, ketersediaan beras lokal juga menghadapi tantangan akibat kemarau panjang.

Perwakilan Bulog Merauke, Ashari, mengatakan kondisi cuaca tersebut turut memengaruhi produksi padi petani.

“Kondisi produksi saat ini menghadapi tantangan karena kemarau panjang,” kata Ashari.

Menurutnya, pasokan beras dari luar Merauke masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus membantu menjaga stabilitas harga.

Baca Juga: Bermodal Tekad dan Pembiayaan UMi, Mawiyah Berhasil Ubah Jualan Online Jadi Kedai

Karena itu, pendampingan di tingkat on-farm dinilai perlu terus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas petani. Dengan produksi yang semakin kuat, pasokan beras lokal Merauke diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pasar secara lebih berkelanjutan.

FGD tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya yang digelar pada 29 Agustus 2026. Selama hampir dua bulan, Tim 5 TEP IPB melakukan kajian, pemetaan, dan pendampingan terhadap rantai usaha padi di Kawasan Transmigrasi Salor.

Hasil kajian tersebut kemudian diarahkan untuk memperkuat keterhubungan pelaku usaha padi dari sektor hulu hingga hilir. Penguatan RMU, kemitraan, identitas merek, serta jaringan pemasaran menjadi bagian dari strategi yang tengah disusun Tim 5 TEP IPB berbasis OVOC. (uma)

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
ipb papua merauke beras