RADAR BOGOR - Pelatih Inter Milan Simone Inzaghi punya satu senjata musim ini.
Yakni bola mati dan disebut sebagai ‘Inzagata’.
Sebutan tersebut muncul seusai Inter menang 3-0 atas Cagliari di Serie A pada Minggu (29/12) lalu.
Tiga gol Inter saat itu tercipta seluruhnya lewat skema bola mati.
Nah, Jumat (3/1) dini hari WIB, skema bola mati itu kembali membantu Inter Milan.
Tepatnya, saat gol pertama kemenangan 2-0 atas Atalanta dalam semifinal Supercoppa Italiana di Al-Awwal Park, Riyadh, Arab Saudi.
Gol pada menit ke-49 itu tercipta setelah Yan Bisseck meneruskan bola sepak pojok kepada Denzel Dumfries.
Sempat melakukan sekali kontrol, Dumfries lalu melepaskan bicycle kick.
Bek asal Belanda itu kemudian jadi aktor kemenangan Inter lewat gol keduanya dari luar kotak penalti pada menit ke-61.
Inter pun melaju ke final yang akan diselenggarakan pada Selasa (7/1) dini hari WIB.
"Itulah cara kami bermain: para pemain belakang sering kali berada dalam situasi mencetak gol. Dumfries, misalnya, selalu mencetak gol. Baik bersama Nerazzurri maupun melawan Belanda. Dan untuk menciptakan semua peluang itu butuh kualitas dan kami menunjukkannya di lapangan,” kata Simone.
Akan tetapi, gol pertama lewat sepak pojok itu mendapat kecaman keras dari pelatih Atalanta Gian Piero Gasperini.
Sosok yang pernah menangani Inter tahun 2011 itu menilai sepak pojok tidak seharusnya terjadi.
"Itu (seharusnya, Red) bukan tendangan sudut, lalu Stefan de Vrij dalam posisi offside karena berdiri di depan kiper, ditambah lagi ada pelanggaran Dumfries yang sangat jelas terhadap Giorgio Scalvini, dia mendorongnya dengan dua tangan,” keluh Gasperini.
Di laga penting itu, Gasperini sempat memberi kejutan.
Dia tidak menurunkan tiga pemain pilar sejak menit awal.
Yaitu, Charles De Ketelaere, Ademola Lookman juga Ederson.
Sebelumnya, Atalanta juga sudah harus tampil tanpa Mateo Retegui dan Juan Cuadrado yang cedera.
Saat konferensi pers Gasperini menjawab kritik mencadangkan tiga pemain itu dengan nada agak kesal.
Dia menilai pemain pengganti seperti Lazar Samardzic, Giorgio Scalvini, Nicolo Zaniolo dan Marco Brescianini juga memiliki kemampuan mumpuni.
“Kalian selalu menganggap pemain yang bermain sejak awal sebagai pemain inti, tetapi saya selalu melakukan lima pergantian pemain dan mereka juga pemain inti. Mereka masuk untuk mengubah permainan," kata Gasperini.
Ya, De Ketelaere, Lookman dan Ederson tetap masuk sebagai pemain pengganti.
Gasperini pun menegaskan jika timnya tetap berusaha memenangkan pertandingan.
“Tetapi kami bertemu dengan tim yang sangat kuat, dan De Ketelaere serta Lookman tidak dapat memainkan 56 pertandingan selama 90 menit,” tuturnya. (ka/ady)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim