RADAR BOGOR – Petinju putri India Jaismine Lamboria memasang target besar pada Commonwealth Games 2026 di Glasgow.
Setelah membawa pulang medali perunggu pada edisi 2022, juara dunia kelas 57 kilogram itu kini bertekad mempersembahkan medali emas bagi negaranya sekaligus melanjutkan kiprah gemilang di panggung tinju internasional.
Perjalanan Lamboria menuju Commonwealth Games 2026 tidak hanya menjadi misi pribadi untuk meningkatkan prestasi, tetapi juga mencerminkan perkembangan pembinaan atlet perempuan di India.
Atlet berusia 24 tahun tersebut bahkan mencatat sejarah sebagai petinju wanita pertama yang bergabung dengan Corps of Military Police Angkatan Darat India.
Kesempatan itu datang setelah keberhasilannya meraih medali perunggu di Commonwealth Games 2022.
Saat ini, Lamboria menjalani program pembinaan di bawah Mission Olympics Wing dan berlatih secara intensif di Army Sports Institute (ASI) yang berlokasi di Pune.
Baca Juga: Lolos Verifikasi, Cecep Fajar dan Karjito Siap Bertarung di Muscab VII Hiswana Migas Bogor
"Menjadi perempuan pertama yang dipercaya membuka jalan ini adalah sebuah kebanggaan bagi saya. Saya berharap perjalanan ini bisa menjadi inspirasi bagi atlet-atlet putri lainnya untuk berani mengejar impian mereka," ujar Lamboria, seperti dikutip dari wawancaranya bersama BBC.
Keterlibatan militer dalam pembinaan olahraga perempuan di India juga terus diperkuat.
Sejak awal 2024, Angkatan Darat India meluncurkan program Girls Sports Company, sebuah inisiatif yang bertujuan menjaring atlet putri berusia 12 hingga 16 tahun untuk dibina menuju level internasional sekaligus membuka peluang berkarier di lingkungan militer.
Kemampuan bertinju Lamboria tumbuh dari lingkungan yang memang lekat dengan olahraga tersebut.
Ia dibesarkan di Bhiwani, Haryana, daerah yang dikenal sebagai "Mini Kuba" karena konsisten melahirkan petinju-petinju elite India.
Lamboria juga berasal dari keluarga yang memiliki sejarah panjang di dunia tinju. Ia merupakan cicit Hawa Singh, legenda tinju kelas berat India yang pernah meraih dua medali emas Asian Games pada 1966 dan 1970 sekaligus mendirikan Bhiwani Boxing Club.
Sejak berusia 14 tahun, Lamboria mulai menekuni dunia tinju di bawah arahan para pamannya.
Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan ayah yang bekerja sebagai petugas keamanan dan ibu yang berperan sebagai ibu rumah tangga.
Perjalanan kariernya sempat menemui tantangan saat tampil di Olimpiade Paris 2024.
Bertanding di kelas yang bukan spesialisasinya membuat langkah Lamboria terhenti lebih awal. Namun, ia mampu bangkit setelah kembali bertarung di kelas 57 kilogram.
Kebangkitan tersebut berbuah manis ketika Lamboria sukses merebut gelar Juara Dunia 2025 di Liverpool.
Dalam partai final, ia mengalahkan peraih medali perak Olimpiade asal Polandia, Julia Atena Szeremeta, sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai salah satu petinju terbaik dunia di kelasnya.
Menjelang persaingan sengit di Glasgow, Lamboria mengaku banyak belajar dari sosok legenda kriket India, MS Dhoni, terutama dalam menjaga ketenangan ketika menghadapi tekanan besar.
"Saya sangat mengagumi cara MS Dhoni menghadapi pertandingan. Julukan 'Captain Cool' yang melekat padanya lahir karena kemampuannya tetap tenang dalam situasi apa pun. Itulah mentalitas yang ingin saya terapkan setiap kali naik ke atas ring," ungkap Lamboria.
Cabang olahraga tinju pada Commonwealth Games 2026 telah mulai dipertandingkan sejak 24 Juli, sementara laga-laga final dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli dan 1 Agustus.
Bagi Jaismine Lamboria, ajang di Glasgow bukan sekadar kesempatan memperbaiki pencapaian dari empat tahun lalu.
Turnamen ini juga menjadi panggung penting untuk membuktikan kapasitasnya sebagai juara dunia sekaligus menginspirasi generasi baru atlet perempuan India agar berani bermimpi dan berprestasi di level tertinggi. (Rana/Tazkia)
Editor : Yosep Awaludin