RADAR BOGOR - Combat sport kerap dipandang sebagai olahraga dengan risiko benturan fisik yang tinggi. Namun, International Sport Kickboxing Association (ISKA) menerapkan sistem pertandingan berdasarkan usia dan tingkat kemampuan untuk mengutamakan keselamatan peserta.
Pegiat combat sport, Harlan Bengardi, mengatakan olahraga bela diri kini mulai dilirik sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Menurutnya, minat terhadap olahraga tersebut tumbuh seiring semakin beragamnya pilihan aktivitas bagi anak muda.
“Kita juga harus realize bahwa ada certain population dari Kota Bogor itu yang ternyata besar sekali, anak muda sekitar 30 persen sudah. Mau tidak mau, kita juga harus mencari kegiatan-kegiatan yang memang suitable pada populasi tersebut,” kata Harlan.
Menurut Harlan, combat sport menjadi salah satu aktivitas yang belum banyak terekspos. Ia melihat olahraga tersebut dapat menjadi pilihan positif bagi masyarakat untuk berolahraga sekaligus membangun kebiasaan hidup sehat.
“Di dalam situ, ternyata ada kegiatan-kegiatan yang tidak terekspos atau terekspos dengan hal negatif, salah satunya adalah combat sports,” ujarnya.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sop Buntut, Kuliner Legendaris di Kota Bogor Hadir Sejak 1927
Ketertarikan Harlan terhadap combat sport juga berawal dari aktivitasnya di gym. Ia kemudian bertemu dengan sejumlah Personal Trainer (PT) yang memiliki ketertarikan terhadap olahraga seperti powerlifting dan tinju.
“Memang secara tidak kebetulan, gue lagi doyan nge-gym nih, lagi nagih-nagihnya, dulu berat gue 138 kg, sekarang turun 50 kg. Di gym itu ada teman-teman Personal Trainer (PT) yang membuat satu perkumpulan namanya Overdose,” katanya.
Dari lingkungan tersebut, Harlan mulai melihat potensi combat sport untuk dikembangkan menjadi aktivitas yang dapat diikuti masyarakat lebih luas. Ia kemudian berkomunikasi dengan Presiden ISKA Indonesia, Mustadi Anetta.
Menurut Harlan, aspek keamanan menjadi salah satu alasan combat sport dapat diperkenalkan kepada kelompok usia yang lebih beragam. Ia menyebut olahraga tersebut dapat menjadi aktivitas yang menarik bagi anak-anak, remaja hingga perempuan.
“Alhamdulillah, saya dapat berkomunikasi dengan Coach Mustadi, kebetulan ISKA ini adalah turunan dari internasional dan the safest combat sports in the world, secara safety paling aman,” ujarnya.
Harlan menilai combat sport memiliki manfaat yang lebih luas dari sekadar kemampuan bertanding. Aktivitas tersebut juga dapat menjadi bagian dari olahraga rutin dan tren healthy living.
“Makanya kenapa akhirnya gue tergerak, that's the reason kenapa orang tua yang kalangan middle class membolehkan anak-anaknya yang berumur 8 tahun, remaja, hingga perempuan untuk ikut. Sangat seru dan aku melihat ini adalah suatu kegiatan yang multi-benefit,” katanya.
Sementara itu, Presiden ISKA Indonesia Mustadi Anetta menjelaskan, aspek safety diterapkan melalui pembagian kategori pertandingan. Peserta tidak langsung bertanding pada level yang sama, tetapi disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“Sejauh yang saya lihat di ISKA, baik internasional maupun yang saya bawa ke Indonesia, ISKA diakui sebagai the safest combat sport. Kenapa? Karena di internasional sendiri, ISKA benar-benar memilah satu jenis pertandingan sesuai dengan level kategori kemahiran,” kata Mustadi.
Ia mengatakan ISKA memiliki jenjang Beginner, Elite, Semi-Pro hingga Pro. Sistem tersebut dibuat agar peserta dapat berkembang secara bertahap tanpa harus langsung berhadapan dengan lawan pada level yang jauh berbeda.
“Anda bisa mendaftarkan di level Beginner, Elite, Semi-Pro, baru ke Pro,” ujarnya.
Menurut Mustadi, aturan pertandingan juga membatasi sejumlah teknik pada kategori tertentu. Ketentuan tersebut berlaku terutama pada kelas amatir dan junior.
“Di ajang amatir organisasi lain, peserta boleh melakukan serangan lutut ke kepala. Nah, di ISKA pada segmen amatirnya, bahkan di K-1 rules kategori junior, dilarang melakukan serangan lutut ke kepala,” katanya.
Selain serangan lutut ke kepala, teknik seperti spinning backfist juga dilarang pada kategori tertentu. Pembatasan tersebut menjadi bagian dari sistem pertandingan yang menyesuaikan tingkat kemampuan dan usia peserta.
Mustadi mengatakan penerapan aturan keselamatan memungkinkan atlet mengikuti pertandingan dengan lebih terukur. Ia mencontohkan salah satu atlet ISKA yang pernah tampil delapan kali dalam sehari pada kejuaraan internasional ISKA Asia Pacific.
“Atlet kita di kejuaraan internasional ISKA Asia Pacific bertanding 8 kali dalam sehari dan berhasil menyabet 3 medali emas. Artinya, ada prosedur games yang dibuat seaman mungkin (safety) sehingga atlet bisa enjoy menikmati permainan berulang kali tanpa cedera parah,” ujarnya.
Dalam ISKA, arena pertandingan juga dibagi menjadi tiga jenis, yakni Tatami, Ring, dan Cage. Kategori Tatami seperti Kick-Light dapat diikuti praktisi bela diri lain, termasuk Taekwondo dan Pencak Silat, karena memiliki aturan yang dinilai mirip.
Bahkan, Mustadi mengatakan praktisi yang belajar bela diri secara otodidak tetap memiliki kesempatan untuk bertanding. Peserta harus memahami aturan, tidak melanggar ketentuan, serta berada dalam pengawasan profesional.
“Kalau ada yang belajar otodidak dari YouTube dan tidak punya perguruan, tetap bisa daftar selama tahu rules, tidak melanggar peraturan, dan ada profesional yang menjaga,” katanya.
Penerapan sistem tersebut membuat combat sport memiliki jenjang yang dapat diikuti dari level pemula hingga profesional. Atlet juga memiliki jalur prestasi mulai dari National Champion, Juara Asia, Inter-continental hingga Juara Dunia.
Konsep tersebut akan diterapkan dalam gelaran B2 Unleashed di Kopi Nako Kuntum, Bogor, pada 31 Oktober 2026. Ajang ini mempertandingkan Boxing, Kickboxing, dan Muaythai dengan kelompok usia mulai Children U-10, Pra-Cadet U-13, Cadet U-15, Younger Junior U-17, Junior U-19 hingga Senior 19 tahun ke atas.
Pendaftaran gelombang pertama dibuka hingga 31 Agustus 2026. Biaya pendaftaran berkisar Rp350 ribu hingga Rp450 ribu, tergantung kategori pertandingan. Peserta juga mendapatkan asuransi wajib.
B2 Unleashed menjadi ruang bagi fighter pemula hingga berpengalaman untuk menguji kemampuan dan mengejar prestasi dengan sistem pertandingan yang disesuaikan berdasarkan usia serta tingkat kemahiran. (uma)
Editor : Eka Rahmawati