RADAR BOGOR – Marc Marquez, seperti yang diketahui menjadi juara Motogp musim 2025 dan masih berada di bawah naungan resmi pabrikan Ducati.
Pada gelaran World Ducati Week 2026, Marc Marquez secara blak-blakan mengungkap transformasi gaya balapnya.
Dilansir dari kanal @startinggrid, menjelaskan perubahan drastis yang dialami oleh Marc Marquez.
Ungkapan itu menjadi sebuah rahasia yang ia lontarkan, bahwa transformasi radikal cara balap yang menjadi kunci utama dalam kemenangannya.
Dengan merekronstruksi total cara insting, bukan sekedar pengubahan dan penyesuaian posisi duduk biasa di atas motor.
Dikenal dengan gaya liar, penggunaan ilmu jalanan, serta menjadi pribadi yang gampang terprovokasi.
Baca Juga: Wilayah Ujung Timur Kabupaten Bogor Mulai Kekurangan Air Bersih
Marc selalu memacu dan tidak melihat bagaimana kondisi motor yang ia tunggangi, melampaui batas dan pada akhirnya terjatuh.
Dari titik jatuh itulah ia kemudian bisa mengetahui secara pasti di mana letak batas maksimal cengkeraman ban, serta kemampuan sasis motornya bekerja.
Namun, pasca mengalami cedera patah tulang lengan kanan atau humerus yang sangat masif pada musim balap 2020.
Mengharuskan Marc absen dari balapannya, hal tersebut ia baru sadari bisa mengancam karirnya.
Dalam jangka pendek tentu karirnya melesat, namun jika ia paksakan dengan cara gaya balap liarnya, jangka panjang ia akan kehilangan posisi sebagai pembalap.
Setiap kali dirinya terjatuh di lintasan, taruhannya adalah masa depan karirnya sendiri.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya seringkiali baru menyadari batas kemampuan motor setelah, benar-benar terjatuh ke area gravel.
Karena ia tidak mampu melihat atau merasakan batasan tersebut sebelum insiden terjadi. Kini, para pakar menyebut Marc dikenal cara berpikirnya yang berfilosofis.
Setelah berada di atas motor Desmosa di Ducati, pembalap asal Spanyol tersebut akhirnya memutuskan untuk membuang jauh-jauh DNA lama yang beresiko tinggi itu demi keselamatan jangka panjang.
Marc Marquez menjadi pribadi yang banyak perhitungan saat dilintasan. Ia menyebutkan juga bahwa kelemahan terbesarnya adalah melawan insting liarnya, yang tidak mengenal rasa takut sehingga membuat para rival tak berkutik saat berhadapan dengan Marc.
Baca Juga: Desa Pancawati Caringin Bogor Sasaran Program P3-TGAI, Dorong Peningkatan Irigasi
Karena baginya, kelemahan tersebut selalu menghantuinya ketika ia memacu sekitar diatas 300 kilometer/jam.
Langkah ini diakuinya sangat membantu karena situasi saat ini menuntut dirinya untuk mampu mengelola kondisi fisik dengan jauh lebih baik.
Dengan penerapkan metode barunya yang jauh lebih mengalir dan halus, ia kini bisa memanfaatkan efisiensi secara maksimal serta menjaga ritme balap tanpa melakukan pemaksaan performa motor.
Berkurangnya intensitas kecelakaan, tim mekanik Ducati mampu bekerja lebih fokus pada pengembangan performa motor daripada harus terus-menerus memperbaiki kerusakan pada motor.
Kini, perubahan gaya balapan Marc Marquez justru menjadi sebuah tantangan bagi para musuh.
Pasalnya, yang akan dihadapi adalah cara baru Marc yang lebih dewasa, serta mampu mengendalikan manuver motor dengan baik saat di lintasan. (Irsyad/Unpak)
Editor : Yosep Awaludin