Ini 5 Kebiasaan yang Wajib Dihindari Kalau Nggak Mau Mesin Motor Rusak Diam-diam

Kholikul Ihsan • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 15:41 WIB
ilustrasi hal yang merusak mesin motor diam-diam (ilustrasi GeminiAI)
ilustrasi hal yang merusak mesin motor diam-diam (ilustrasi GeminiAI)

RADAR BOGOR - Sejumlah kebiasaan pengendara motor yang selama ini dianggap normal dan bahkan dipercaya sebagai solusi praktis, ternyata justru berpotensi merusak komponen penting kendaraan dalam jangka panjang. 

Kemudahan mengakses informasi otomotif di media sosial membuat banyak pemilik motor menelan bulat-bulat berbagai trik yang beredar tanpa memahami risiko sebenarnya, sehingga penting bagi masyarakat pengguna motor untuk mengetahui kebiasaan mana saja yang sebaiknya dihindari agar kendaraan tetap awet.

1. Menuangkan Oli Melebihi Kapasitas Standar

Kebiasaan menambah oli melebihi takaran standar sering dilakukan oleh pemilik motor berusia lebih dari tiga hingga lima tahun yang mesinnya cepat kehilangan oli.

Baca Juga: PMI Kabupaten Bogor Masih Buka Donasi untuk Korban Gempa NTT, Bantuan Rp1 Miliar Sudah Disalurkan

Daripada repot menuang oli setiap beberapa hari sekali, sebagian pengendara memilih mengisi oli dalam jumlah lebih banyak dengan asumsi kelebihannya akan menguap dengan sendirinya. Padahal cara ini bukan solusi yang tepat.

Pada mesin yang sudah aus, biasanya ring piston dan seal katup sudah renggang. Jika oli dimasukkan melebihi kapasitas, kelebihan oli tersebut akan terkocok oleh kruk as sehingga memicu tekanan hidrolik yang sangat tinggi di dalam bak mesin.

Tekanan ini kemudian memaksa oli menerobos ring piston yang sudah lemah dan masuk ke ruang bakar dalam jumlah besar. Akibatnya, oli tidak hanya menguap karena panas, tetapi juga ikut terbakar, sehingga motor justru terkesan semakin boros oli.

Baca Juga: Catat, Tiga Bansos Ini Berakhir Per 30 September 2026, KPM Cepat Ambil Bantuan

Sementara pada mesin yang masih normal dan belum aus, oli yang berlebih akan berbusa ketika berputar di dalam mesin. Kondisi oli yang berbusa ini membuat daya pelumasannya berkurang drastis, bahkan berisiko membuat seal di dalam mesin jebol akibat tekanan yang terlalu tinggi.

Aturan sederhananya, jika kapasitas mesin tertera 800 ml, gunakan oli sesuai takaran tersebut dan jangan tergoda menambahkannya hingga satu liter.

2. Menggeber Motor saat Berada di Standar Dua

Kebiasaan menggeber gas motor sampai limit ketika kendaraan berada di standar dua kerap dilakukan setelah mencuci motor, selesai ganti oli, atau sekadar ingin memamerkan suara knalpot.

Baca Juga: Lampu PJU Padam, Jalan Pajajaran Bogor Gelap Gulita hingga Pengendara Kurangi Kecepatan

Bahkan di sejumlah bengkel umum, kebiasaan menggeber motor sampai limit beberapa kali usai servis juga masih sering ditemui dengan tujuan merontokkan sisa partikel di dalam mesin.

Padahal, tindakan ini justru berbahaya bagi kesehatan mesin. Menggeber motor tanpa beban dalam waktu lama berisiko membuat mesin mengalami overheat. Kondisi ini bisa membuat piston memuai lebih cepat dibanding dinding silinder, sehingga piston berpotensi macet atau jebol.

Selain itu, kebiasaan menggeber motor di standar dua secara berulang juga dapat merusak kualitas oli karena menerima suhu yang jauh melebihi batas normal.

Baca Juga: Meat Night Club, Surga Steak Tenda dengan Porsi Rame-Rame di Kota Wisata Cibubur

3. Mengisi Bensin Eceran dalam Botol

Ketika antrean di SPBU terasa panjang, sebagian pengendara memilih jalan pintas dengan membeli bensin eceran dalam botol yang dijual di pinggir jalan. Namun, proses di balik penjualan bensin eceran ini ternyata menyimpan sejumlah risiko tersembunyi bagi kesehatan motor.

Penjual bensin eceran umumnya membeli bahan bakar menggunakan motor yang tangkinya sudah dimodifikasi, kemudian menuangkannya kembali ke dalam jerigen.

Proses pengocokan bensin di dalam tangki sepanjang perjalanan, ditambah penuangan melalui corong terbuka, membuat senyawa hidrokarbon ringan yang bertugas menjaga nilai oktan ikut menguap ke udara. Akibatnya, kualitas pembakaran bensin tersebut menurun dibanding bensin yang dibeli langsung di SPBU.

Baca Juga: Desil 5-10 Bisa Dapat Bansos PKH BPNT? Cek Perubahan Data September 2026

Selain itu, ada risiko serpihan karat dari dalam tangki BBM motor pengecer ikut terlarut ke jerigen, yang dapat membuat motor berkerak. Masalah semakin diperparah jika bensin dijual dalam kemasan botol yang dibiarkan di luar ruangan sepanjang siang dan malam.

Perubahan suhu yang terjadi memicu proses pengembunan di dalam botol, sehingga air bisa tercampur dengan bensin. Jika campuran ini masuk ke saluran pembakaran, sistem injeksi motor berisiko tersumbat. Ditambah lagi, bensin yang disimpan berhari-hari di dalam botol cenderung sudah kehilangan tingkat volatilitasnya, sehingga tidak terbakar sempurna di ruang bakar.

4. Membiarkan Tangki Kosong Tapi Motor Terus Dijalankan

Kebiasaan menunda-nunda mengisi bensin, baik karena tidak membawa cukup uang maupun malas mengantre di SPBU, juga termasuk kebiasaan yang berisiko merusak motor. Padahal, menjalankan motor dalam kondisi tangki nyaris kosong dapat berdampak langsung pada kerusakan fuel pump.

Baca Juga: Mulai 2027, 3 Kebijakan Baru Guru PPPK Diterapkan dan Panduan Kesiapan Pensiun ASN

Fuel pump dirancang untuk selalu terendam di dalam bensin, karena cairan bahan bakar tersebut berfungsi sebagai pendingin alami komponen ini. Ketika fuel pump bekerja, ia berputar dengan kecepatan tinggi dan menghasilkan panas. Jika fuel pump jarang terendam bensin akibat tangki yang sering dibiarkan kosong, komponen ini berisiko mengalami overheat.

Selain itu, fuel pump yang terus-menerus menyedot bensin dari dasar tangki juga rawan tersumbat, karena setiap tangki biasanya menyimpan endapan kotoran mulai dari partikel mikro hingga residu karat.

5. Menyiram Air ke Piringan Rem yang Sedang Panas

Kebiasaan terakhir yang perlu diwaspadai adalah menyiram air ke piringan rem atau disk brake yang masih panas setelah melibas turunan panjang. Kekhawatiran rem blong akibat kepanasan memang beralasan, namun cara mengatasinya dengan menyiram air justru bukan solusi yang tepat.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 2,3 Guncang Sukabumi, BMKG: Dipicu Aktivitas Sesar Aktif

Tindakan menyiram disk brake yang panas dengan air berisiko menyebabkan piringan rem melengkung akibat perubahan suhu yang terlalu drastis. Selain melengkung, disk brake juga berpotensi mengalami retak rambut, merusak kampas rem, hingga merusak seal karet pada kaliper.

Meski dampaknya tidak langsung terasa dalam sekali kejadian, kebiasaan ini jika dilakukan berulang kali dapat mempercepat kerusakan komponen sistem pengereman. Cara yang lebih aman adalah menepi sejenak dan membiarkan rem mendingin secara alami sebelum melanjutkan perjalanan.

Kebiasaan Kecil, Dampak Besar bagi Usia Motor

Kelima kebiasaan tersebut, mulai dari menambah oli berlebihan, menggeber motor di standar dua, mengisi bensin eceran botol, membiarkan tangki kosong, hingga menyiram rem panas dengan air, memang tidak langsung menimbulkan kerusakan dalam sekali dilakukan.

Baca Juga: Isu OTT KPK Memanas, M-ONE Institute Minta Pemkab Bogor Waspada Propaganda

Namun jika terus berulang, dampaknya dapat mempercepat kerusakan komponen vital motor dan menambah biaya perbaikan yang seharusnya bisa dihindari.

Memahami cara perawatan motor yang tepat menjadi langkah penting bagi setiap pengendara agar kendaraan kesayangan tetap awet dan performanya terjaga dalam jangka panjang.***

Editor : Asep Suhendar
Sumber : youtube Fuse Box Moto
tips otomotif kebiasaan merusak motor bensin eceran tips perawatan rambut otomotif