Benarkah Motor Zaman Sekarang Lebih Cepat Rusak Dibanding Motor Jadul? Ini Faktanya

Kholikul Ihsan • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 18:08 WIB
Motor jadul Honda GL 100 (ilustrasi Gemini AI)
Motor jadul Honda GL 100 (ilustrasi Gemini AI)

RADAR BOGOR - Anggapan bahwa motor zaman dulu lebih kuat dan awet dibandingkan motor keluaran terbaru masih sering muncul di kalangan masyarakat Indonesia, terutama saat melihat legenda seperti Honda GL100, Yamaha RX King, atau Suzuki A100 yang masih bisa beroperasi hingga puluhan tahun lamanya. 

Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar, apakah motor yang diproduksi tahun 2026 masih sanggup bertahan hingga tahun 2070 mendatang.

Sebelum menyalahkan kualitas motor zaman sekarang, penting untuk memahami bahwa tidak semua motor lawas benar-benar awet seperti yang terlihat saat ini. 

Baca Juga: Usut Kasus Dugaan Jual Beli Jabatan di Pemkab Bogor, Dirkrimsus Polda Jabar Dilibatkan

Motor-motor legendaris seperti GL100, RX King, dan A100 yang masih sehat hingga 2026 sebenarnya merupakan unit-unit survivor yang berhasil melewati seleksi alam selama lebih dari empat dekade, sementara banyak unit sejenis lainnya sudah menjadi rongsokan atau dimodifikasi hingga bentuk aslinya tidak lagi dikenali.

Konstruksi Sederhana Jadi Kunci Ketahanan Motor Lawas

Dikutip dari kanal YouTube Ottoped, salah satu faktor utama yang membuat motor jadul mampu bertahan lama terletak pada konstruksinya yang jauh lebih sederhana dibandingkan motor modern. 

Sistem karburator, kabel gas, pengapian, kopling, dan gearbox pada motor lawas masih bersifat mekanis, sehingga ketika terjadi kerusakan, mekanik dapat dengan mudah membongkar, mencari sumber masalah, mengganti komponen, dan motor pun bisa kembali beroperasi normal.

Baca Juga: Polytron Fox 350 Resmi Meluncur, Motor Listrik Rp16,5 Juta Ini Bawa Skema Sewa Baterai

Berbeda dengan motor keluaran terbaru yang sudah dilengkapi ECU, sensor oksigen, fuel injection, throttle body, sistem ABS, hingga berbagai modul elektronik canggih. 

Meski teknologi tersebut memberikan banyak keuntungan seperti konsumsi bahan bakar lebih irit, emisi lebih rendah, dan performa yang lebih baik.

Namun, konsekuensinya adalah semakin banyak komponen elektronik yang digunakan, semakin besar pula potensi terjadinya kerusakan pada salah satu bagian, meski kondisi mesin secara keseluruhan masih dalam keadaan sehat.

Baca Juga: Seberapa Bahaya Abu Vulkanik dari Erupsi Anak Gunung Krakatau? Ini Penjelasannya

Bukan Soal Kualitas Menurun, Tapi Standar yang Berubah

Menariknya, penurunan daya tahan motor modern bukan berarti kualitas produksinya semakin buruk dari waktu ke waktu, melainkan definisi motor yang bagus itu sendiri telah mengalami pergeseran makna. 

Jika dulu motor bagus diartikan sebagai motor yang bandel, mudah diperbaiki, dan mampu bertahan puluhan tahun, kini standar motor bagus lebih mengarah pada efisiensi bahan bakar, tenaga yang memadai, tingkat keamanan tinggi, kenyamanan berkendara, serta emisi gas buang yang rendah.

Produsen motor saat ini dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan era sebelumnya, karena harus memenuhi berbagai tuntutan sekaligus seperti efisiensi bahan bakar, emisi rendah, tingkat keamanan tinggi, bobot yang ringan, performa optimal, fitur lengkap, namun tetap dengan harga yang terjangkau bagi konsumen. 

Baca Juga: Bukan Cuma Cek PKH BPNT! 5 Bansos yang Cair September Ini Masih Bisa Jadi Hak KPM Loh

Kondisi inilah yang membuat sejumlah aspek daya tahan jangka panjang terpaksa dikompromikan demi memenuhi berbagai regulasi dan kebutuhan pasar yang terus berkembang.

Perbandingan Harga Motor Dulu dan Sekarang Ternyata Mengejutkan

Menariknya, jika ditelusuri dari sisi harga, motor lawas seperti Honda GL100 pada era 1980-an ternyata tergolong barang mewah yang hanya mampu dibeli kalangan tertentu. 

Harga GL100 saat itu berkisar Rp850.000, setara dengan empat ekor sapi yang jika dikonversi ke nilai saat ini bisa mencapai Rp80 hingga Rp100 juta. 

Baca Juga: Motor Latihan Marc Márquez Bikin Motor Umum Indonesia Terlihat Biasa, Ini Keunggulannya

Dengan simulasi Upah Minimum Regional (UMR) saat itu sekitar Rp20.000 per bulan, konsumen membutuhkan waktu menabung sekitar tujuh tahun untuk bisa membeli motor tersebut secara tunai.

Fakta ini menunjukkan bahwa GL100 pada masanya sebenarnya setara dengan motor sport premium seperti Honda CBR 250RR di era sekarang, bukan sebanding dengan motor bebek atau matic entry level seperti Honda Beat. 

Kondisi tersebut turut menjelaskan mengapa kualitas konstruksi dan material yang digunakan pada motor lawas bisa jauh lebih kokoh, mengingat harga jualnya yang memang berada di kelas premium pada zamannya.

Baca Juga: Desa Gunung Putri Bogor Bangun 105 Unit Rutilahu, Anggaran Capai Rp2,1 Miliar

Tantangan Motor Modern untuk Bertahan hingga Puluhan Tahun ke Depan

Pertanyaan mengenai apakah motor keluaran 2026 bisa bertahan hingga 2070 sebenarnya bukan hanya soal ketahanan mesin dan rangka semata. 

Motor modern yang dirawat dengan baik sangat mungkin memiliki kondisi mesin, rangka, dan transmisi yang tetap prima puluhan tahun ke depan.

Tantangan sesungguhnya terletak pada ketersediaan komponen elektronik seperti ECU dan berbagai sensor yang menjadi jantung sistem kelistrikan motor modern.

Baca Juga: Terungkap Ini Trik Cepat Taklukkan Soal Pecahan dan Desimal Soal TIU CPNS

Ketersediaan spare part, keberadaan mekanik yang memahami sistem elektronik motor masa kini, serta kemauan pemilik untuk terus merawat kendaraannya menjadi faktor-faktor krusial yang akan menentukan apakah motor tahun 2026 bisa menjadi legenda seperti Honda GL100 di masa mendatang. 

Pada akhirnya, ketahanan sebuah motor tidak hanya ditentukan oleh kualitas produksi pabrikan semata, melainkan juga oleh ekosistem perawatan, ketersediaan suku cadang, dan kecintaan pemiliknya terhadap kendaraan tersebut selama bertahun-tahun ke depan.***

Editor : Asep Suhendar
Sumber : YouTube Ottoped
Yamaha RX-King motor jadul Honda GL 100 motor modern otomotif