RADAR BOGOR – Merawat mobil secara rutin menjadi salah satu kunci agar performa mesin mobil tetap terjaga dan usia pakainya lebih panjang.
Bahkan, dengan perawatan yang tepat, mesin mobil disebut dapat digunakan hingga ratusan ribu kilometer tanpa harus mengalami turun mesin.
Hal tersebut dibagikan melalui kanal YouTube @tipsotomotifchannel6556. Dalam video tersebut, pemilik kendaraan membagikan tiga hal penting yang perlu diperhatikan pemilik mobil agar mesin mobil tetap awet hingga mencapai 300.000 kilometer.
Tips ini juga disampaikan berdasarkan pengalaman pemilik mobil yang odometernya telah menunjukkan angka sekitar 138.000 kilometer.
Menurutnya, tidak sedikit kendaraan yang harus mengalami turun mesin ketika jarak tempuhnya baru mencapai 100.000 kilometer, 150.000 kilometer, bahkan ada yang masih puluhan ribu kilometer.
Karena itu, perawatan sejak dini menjadi hal penting untuk mencegah kerusakan mesin yang lebih serius.
Baca Juga: 7 Cara Memutar Uang Kecil Jadi Besar, Bisa Mulai Rp100 Ribu
Lantas, apa saja bagian yang harus diperhatikan agar mesin mobil tetap awet hingga ratusan ribu kilometer? Berikut tiga hal yang perlu diperhatikan.
1. Rutin Ganti Oli Mesin
Hal pertama yang menjadi perhatian adalah oli mesin. Komponen ini berfungsi melumasi bagian-bagian internal mesin sehingga gesekan antar-komponen dapat diminimalkan.
Pemilik mobil disarankan melakukan penggantian oli secara rutin. Dalam video tersebut disebutkan penggantian oli sebaiknya dilakukan berdasarkan jarak tempuh maupun waktu pemakaian.
Untuk mobil yang digunakan cukup berat, seperti kendaraan untuk ojek online atau rental, pemilik perlu lebih memperhatikan jarak tempuh.
Penggantian oli dapat dilakukan ketika kendaraan telah menempuh sekitar 3.000 kilometer.
Sementara untuk kendaraan yang jarang digunakan, waktu juga perlu menjadi pertimbangan.
Dalam video tersebut, pemilik mobil menyarankan oli diganti secara berkala, maksimal sekitar enam bulan sekali atau mengikuti interval yang sesuai dengan kebutuhan kendaraan.
Sebab, oli yang terlalu lama berada di dalam mesin dapat mengalami penurunan kualitas dan terkontaminasi.
Kondisi oli juga dapat diperiksa secara visual menggunakan dipstick. Jika warnanya masih terlihat kuning keemasan dan relatif jernih, kondisi tersebut menunjukkan oli masih dalam keadaan baik.
Sebaliknya, jika oli sudah berubah menjadi sangat hitam, encer, atau terlihat kotor, pemilik kendaraan disarankan segera melakukan penggantian.
Baca Juga: Jutaan Pekerja Informal Jawa Barat Sudah Punya Asuransi, Gratis Berobat hingga Jaminan Pendidikan
Keterlambatan mengganti oli dapat menimbulkan masalah pada mesin. Oli yang sudah terlalu lama digunakan dapat berubah menjadi lumpur atau kerak dan mengendap di bagian-bagian mesin.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gangguan hingga kebocoran dan kerusakan komponen mesin yang pada akhirnya dapat membuat kendaraan harus turun mesin.
Karena itu, mengganti oli secara rutin menjadi salah satu langkah sederhana untuk menjaga mesin tetap bekerja dalam kondisi optimal.
2. Perhatikan Sistem Pendingin dan Air Radiator
Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah sistem pendingin mesin, terutama radiator dan cairan pendingin atau coolant.
Radiator memiliki fungsi penting untuk menjaga temperatur mesin agar tetap berada dalam kondisi kerja yang sesuai. Sistem ini melibatkan sejumlah komponen, termasuk kipas dan cairan radiator.
Pemilik kendaraan perlu memastikan volume coolant pada tangki reservoir tetap berada di antara batas yang telah ditentukan.
Jangan mengisi cairan melebihi batas full, tetapi jangan pula membiarkannya turun hingga melewati batas low.
Dalam video tersebut, pemeriksaan kondisi sistem pendingin dapat dilakukan dengan memantau tangki reservoir secara berkala.
Jika terjadi penyusutan sedikit dalam periode beberapa bulan, kondisi tersebut disebut masih dapat terjadi secara normal. Pemilik kendaraan dapat menambahkan coolant yang sesuai apabila volumenya berkurang.
Namun, jika cairan radiator sering berkurang secara drastis atau bahkan sampai habis, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Baca Juga: Waspada! Ada 11 Kesalahan Saat Menyalakan Mobil yang Diam-Diam Bisa Merusak Mesin
Hal itu dapat menjadi indikasi adanya kebocoran pada sistem pendingin. Kebocoran dapat terjadi di bagian luar sistem maupun berpotensi masuk ke bagian mesin sehingga perlu diperiksa di bengkel.
Pemilik kendaraan juga dapat melihat adanya tanda-tanda kebocoran berupa bercak atau jejak cairan coolant di sekitar komponen radiator.
Pada kendaraan yang sudah berusia cukup lama, jejak coolant berwarna, misalnya merah atau hijau, dapat membantu mendeteksi lokasi kebocoran.
Jika ditemukan bercak atau rembesan pada bagian radiator, kondisi tersebut sebaiknya segera diperiksa.
Sebab, kebocoran yang dibiarkan dapat menyebabkan coolant terus berkurang hingga akhirnya sistem pendingin tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Jika mesin mengalami panas berlebih, kerusakan serius dapat terjadi.
Pemeriksaan sistem pendingin juga perlu dilakukan dengan aman. Pemilik kendaraan tidak disarankan membuka tutup radiator ketika mesin masih panas karena terdapat risiko tekanan dan suhu tinggi.
Untuk pemeriksaan rutin, cukup pantau volume cairan melalui tangki reservoir. Jika terjadi masalah seperti cairan cepat habis atau terdapat kebocoran, pemeriksaan lebih lanjut sebaiknya dilakukan ketika mesin sudah dalam kondisi dingin.
3. Jangan Abaikan Filter Udara
Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah filter udara. Filter udara berfungsi menyaring udara yang masuk ke mesin. Udara tersebut kemudian digunakan dalam proses pembakaran bersama bahan bakar.
Jika filter udara terlalu kotor, aliran udara menuju mesin dapat terganggu. Selain itu, filter yang sudah lama digunakan juga dapat mengalami perubahan kondisi, menjadi keras, rapuh, bahkan pecah.
Dalam video tersebut dicontohkan filter udara pada mobil Toyota Avanza. Proses pemeriksaannya relatif mudah karena bagian filter dapat dibuka untuk melihat kondisinya.
Baca Juga: Siswi SMA Kosgoro Bogor Bawa Pulang Emas dari Kejuaraan Pencak Silat Internasional
Filter yang sudah terlihat kotor dan tidak lagi layak digunakan sebaiknya diganti secara berkala.
Dalam video tersebut, penggantian disarankan sekitar dua tahun sekali atau berdasarkan jarak tempuh sekitar 30.000–40.000 kilometer, tergantung kondisi kendaraan dan penggunaan.
Filter udara yang terlalu lama tidak diganti dapat mengeras dan berpotensi mengalami kerusakan.
Bagian filter yang pecah juga dapat masuk ke jalur sistem pemasukan udara dan berpotensi mengganggu komponen mesin.
Selain itu, filter yang kotor membuat udara yang masuk ke ruang pembakaran tidak optimal. Kondisi tersebut dapat menyebabkan proses pembakaran menjadi tidak sempurna.
Dampaknya antara lain mesin dapat mengalami gejala ngelitik, performa kendaraan terganggu, hingga muncul asap hitam dari knalpot.
Jika masalah tersebut dibiarkan dan kerusakan berkembang, bukan tidak mungkin komponen mesin mengalami kerusakan yang lebih serius.
Selain mengganti filter secara berkala, pemilik kendaraan juga dapat melakukan pembersihan secara rutin.
Pembersihan dapat dilakukan ketika kendaraan sedang menjalani servis berkala atau saat mengganti oli. Filter dapat dilepas kemudian dibersihkan dengan cara yang sesuai.
Salah satu cara yang disebutkan dalam video adalah mengetukkan bagian filter secara perlahan agar debu dan kotoran terlepas. Filter juga dapat dibersihkan menggunakan udara bertekanan dari kompresor.
Baca Juga: 7 Penyebab AC Mobil Tiba-Tiba Tidak Dingin, Jangan Buru-Buru Isi Freon
Bagi pemilik kendaraan yang tidak memiliki kompresor, pembersihan dapat dilakukan di tempat yang menyediakan layanan kompresor, seperti bengkel atau tukang tambal ban.
Namun, pembersihan tetap perlu dilakukan dengan hati-hati agar material filter tidak rusak.
Tiga Perawatan Sederhana untuk Menjaga Mesin Mobil
Dari penjelasan tersebut, terdapat tiga bagian penting yang perlu mendapat perhatian pemilik kendaraan, yakni oli mesin, sistem pendingin atau radiator, serta filter udara.
Ketiganya merupakan bagian yang relatif sederhana untuk diperiksa dan dirawat secara berkala.
Perawatan rutin juga dapat membantu pemilik kendaraan mengetahui lebih awal apabila terdapat tanda-tanda kerusakan.
Dalam video tersebut, pemilik kendaraan mencontohkan mobilnya yang telah mencapai sekitar 138.000 kilometer dan masih digunakan dengan melakukan perawatan pada ketiga bagian tersebut.
Menurutnya, sejumlah kasus kendaraan yang harus turun mesin pada usia pakai relatif rendah dapat berkaitan dengan kurangnya perawatan, seperti terlambat mengganti oli, tidak pernah mengganti filter udara, atau mengabaikan kondisi sistem pendingin dan coolant.
Karena itu, pemilik mobil disarankan tidak menunggu hingga muncul kerusakan besar untuk melakukan perawatan.
Pemeriksaan sederhana seperti melihat kondisi oli, memantau volume coolant pada reservoir, memastikan tidak ada kebocoran radiator, serta mengecek kebersihan filter udara dapat dilakukan secara berkala.
Baca Juga: Penerimaan Pajak Digital 2026 Capai Rp57,23 Triliun, Ini Rinciannya
Dengan perawatan yang konsisten, pemilik kendaraan dapat membantu menjaga kondisi mesin agar tetap prima dan memperpanjang usia pakainya hingga ratusan ribu kilometer.
Namun, interval servis tetap perlu disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan, jenis kendaraan, usia mobil, serta pola penggunaan masing-masing kendaraan.
Perawatan rutin jauh lebih baik dilakukan sebelum muncul kerusakan yang berpotensi membutuhkan biaya perbaikan lebih besar, termasuk risiko harus melakukan turun mesin. (***)
Editor : Yosep Awaludin