Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Profil Nadia Putri Darmawan, Siswi Kristen di Kota Bogor yang Bersekolah di Madrasah hingga Kisahnya Viral

Lucky Lukman Nul Hakim • Jumat, 22 November 2024 | 14:18 WIB
Nadia Putri Darmawan warga Kota Bogor yang merupakan siswi beragama Kristen dan bersekolah di madrasah.
Nadia Putri Darmawan warga Kota Bogor yang merupakan siswi beragama Kristen dan bersekolah di madrasah.

RADAR BOGOR - Kisah Nadia Putri Darmawan remaja berusia 16 tahun yang merupakan siswi Kristen dan bersekolah di madrasah menyedot perhatian. Berikut profil Nadia Putri Darmawan hingga kisahnya viral.

Nama Nadia siswi kelas 9 belakangan menjadi perbincangan di jagat maya usai kisahnya diangkat ke media. Radar Bogor telah berbincang dengan Nadia dan keluarganya.  

Memiliki nama lengkap Nadia Putri Darmawan kini ia berusia 16 tahun. Nadia merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Auw Rudi Darmawan dan Merry Natalia.

Ia kini tercatat sebagai siswi di Madrasah Tsanawiyah atau MTs Nurul Huda Kota Bogor.

Nadia dan keluarganya tinggal di sebuah rumah sederhana di Kampung Sumurwangi, RT 004 RW 009, Kelurahan Kayu Manis, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.

Sudah 8 tahun lebih Nadia harus menempuh pendidikan di sekolah berbasis Islam atau madrasah yakni sejak kelas 1 sampai kini ia sedang menjalani pendidikan di kelas 9.

Sebelum sekolah di MTs Nurul Huda Kota Bogor, Nadia pernah mengeyam pendidikan di Jakarta.

Ia lalu kini pindah ke Bogor dan kini menumpang di rumah sang nenek bersama orang tuanya.

Sang ayah, Auw Rudi Darmawan dulu bekerja, tetapi kena pemutusan hubungan kerja atau PHK. 

Nadia dan keluarganya hidup dalam keterbatasan ekonomi. Terlebih sejak sang ayah di-PHK dan kini menumpang di rumah sang nenek di Bogor.

"Bapaknya berhenti kerja di-PHK," kata Merry Natalia, ibunda Nadia saat ditemui Radar Bogor di rumahnya.

Saat di Jakarta, Nadia sudah terbiasa sekolah di madrasah. Sejak di bangku sekolah dasar, Nadia mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan melanjutkan ke MTs.

Ia bahkan memiliki banyak tunggakan di sekolahnya tersebut karena sang ayah telah di-PHK.

 “MI dan MTS itu satu yayasan dan pihak sekolah itu sudah kenal jadi ada pengertian,” ujar Merry.

Mereka kemudian pindah ke Bogor pada Maret dan karena beberapa bulan lagi kenaikkan kelas, Nadia tidak bisa mendapat surat pindah.   

"Di sana (Jakarta) udah sempet ngejalanin kelas 1 pindah ke sini Maret, tanggung tinggal beberapa bulan lagi karena agak susah dapetin surat pindah dari sana. Jadi di sini ngelanjut awal lagi kelas 1," jelas Meri.

Saat pindah ke Bogor, Nadia mengulang dari kelas 1 atau kelas 7. Ia kini bersekolah di MTs Nurul Huda Kota Bogor karena jarak dengan tempat tinggalnya cukup dekat.

Meski dirinya beragama Kristen, sejak kelas satu MI atau setingkat SD ia sudah terbiasa mengenakan kerudung karena menyesuaikan budaya di sekolahnya yang berbasis Islami yakni di Madrasah Ibtidaiyah.

Nadia juga sudah terbiasa mendengarkan materi pembelajaran berbasis Islam. Meski sebenarnya boleh saja tidak ikut, tetapi Nadia menghormati sistem pembelajaran yang ada di sekolahnya saat itu.

Pengalaman tersebut terus berlanjut hingga ia duduk di bangku kelas 9 MTs. Kini ia mengenyam pendidikan di MTs Nurul Huda Kota Bogor.

Walau beragama Kristen, Nadia dikelilingi dengan teman dan guru yang tidak membedak-bedakan agama. Sebab ia tidak pernah merasa didikriminasi oleh pihak mana pun selama mengenyam pendidikan.

Meski demikian, ibunda Nadia kini diliputi rasa khawatir dengan keberlanjutan pendidikan putrinya karena faktor ekonomi. Kini sejak di-PHK ayahnya hanya menjadi penjual masakan keliling.

“Kita pengen anaknya lanjut sekolah, harapannya pengen lanjut ke SMK, SMA,” kata Merry.

Di sisi lain, Ketua Yayasan Nurul Huda Sofiah menerima Nadia meski berbeda agama.

Menurut Sofiah, dasar pendidikan yakni mencerdaskan anak bangsa, meski sekolahnya berbasis Islam tetapi pihaknya memperbolehkan dan tidak menutup diri dari agama lain.

“Kita selalu mendoakan yang terbaik buat siapapun,” ujar Sofiah.

Kemenag Kota Bogor Kunjungi Nadia

Di sisi lain kisah Nadia Putri Darmawan (16) siswi Kristen yang terpaksa mengenyam pendidikan di sekolah berbasis Islam atau madrasah menuai simpati dari berbagai kalangan, termasuk Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bogor.

Pengawas Agama kristen, Kementrian Agama Kota Bogor Sunaryo menegaskan pihaknya menjamin keberlanjutan pendidikan Nadia.

“Terkait dengan sekolahnya ke depan, kami sudah berbicara dengan berbagai pihak termasuk gereja dan apapun yang menjadi kebutuhan Nadia akan kami support,” ujar Sunaryo.

Baca Juga: Kisah Gugum Guru Difabel di Bogor yang Jadi Hafidz Quran, Bukti Keterbatasan Bukan Penghalang

Pihaknya membebaskan kepada Nadia untuk bisa memilih sekolah yang diimpikan pada jenjang pendidikan berikutnya. Termasuk jika Nadia berkeinginan di sekolah berbasis Kristen.

Terlebih, kata Sunaryo di Kota Bogor sendiri banyak sekolah swasta yang berbasis kristen berada dalam naungan yayasan, sehingga ia yakin mereka juga pasti akan ikut terlibat untuk membantu.

“Mereka tidak mungkin menutup mata melihat situasi ini, kami yakin mereka pasti bantu, dari Kemenag, kami akan berbicara dengan mereka,” ujar Sunaryo pada Radar Bogor.

Menurut Sunaryo pihaknya baru mengetahui informasi soal Nadia. Oleh karenanya ia bersama dengan sejumlah perwakilan dari Kemenag Kristen Kota Bogor langsung menyambangi rumah yang bersangkutan.

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#profil #siswi kristen #MTs Nurul Huda #Nadia Putri Darmawan #kisah nadia