Mahasiswa IPB Kembangkan SiMata, Teknologi AI untuk Skrining Awal Penyalahgunaan NAPZA

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:59 WIB
Lima mahasiswa IPB University dari lintas disiplin mengembangkan SiMata,
Lima mahasiswa IPB University dari lintas disiplin mengembangkan SiMata,

RADAR BOGOR – Upaya mendeteksi indikasi penyalahgunaan NAPZA sejak dini terus mendorong lahirnya berbagai inovasi, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.

Lima mahasiswa IPB University dari lintas disiplin mengembangkan SiMata, gagasan sistem skrining awal yang memanfaatkan respons pupil mata terhadap cahaya dan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Video Gagasan Konstruktif (VGK).

SiMata dirancang untuk membantu mengenali indikasi awal penyalahgunaan NAPZA, terutama di lingkungan pendidikan, sebelum seseorang menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga profesional.

Penyalahgunaan NAPZA masih menjadi persoalan yang berpotensi mengancam generasi muda.

Data tahun 2023 menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia mencapai 1,73 persen atau sekitar 3,33 juta penduduk berusia 15–64 tahun.

Baca Juga: Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka, Polisi Beberkan Kronologinya

Dari jumlah tersebut, sekitar 903.600 pengguna berasal dari kelompok usia muda.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa penguatan pencegahan dan deteksi dini menjadi hal penting, khususnya bagi kelompok usia yang banyak beraktivitas di lingkungan pendidikan.

Persoalan penyalahgunaan NAPZA juga dapat berkaitan dengan perubahan perilaku pada remaja.

Perubahan sikap, emosi maupun tindakan tertentu terkadang hanya dianggap sebagai bagian dari kenakalan remaja. 

Padahal, dalam kondisi tertentu, perubahan tersebut dapat menjadi tanda adanya persoalan yang membutuhkan perhatian lebih serius.

Karena itu, dibutuhkan pendekatan yang dapat membantu mengenali indikasi awal sehingga dugaan permasalahan dapat ditindaklanjuti melalui pemeriksaan yang sesuai.

SiMata Manfaatkan Respons Pupil dan Teknologi AI

Berangkat dari persoalan tersebut, tim SiMata menawarkan gagasan sistem skrining awal yang mengamati respons pupil mata ketika mendapatkan stimulus cahaya.

Respons pupil tersebut direkam dalam bentuk citra digital. Data kemudian diproses menggunakan Convolutional Neural Network (CNN) untuk membantu melakukan analisis dan menghasilkan klasifikasi.

Hasil analisis SiMata dibagi menjadi tiga kategori, yakni aman, perlu perhatian, dan perlu pemeriksaan lanjutan.

Namun, sistem tersebut tidak ditujukan untuk menentukan seseorang sebagai pengguna NAPZA.

Baca Juga: Ramai Saldo Bansos BPNT Tahap 3 Rp600 Ribu Masuk KKS BNI, Cek Wilayah Ini

SiMata juga bukan pengganti pemeriksaan medis maupun metode pemeriksaan konvensional yang dilakukan tenaga profesional.

Dengan demikian, hasil yang diberikan SiMata hanya menjadi indikasi awal. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan apakah seseorang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.

Dikembangkan Mahasiswa IPB dari Berbagai Disiplin Ilmu

Pengembangan SiMata melibatkan lima mahasiswa IPB University dengan latar belakang keilmuan yang berbeda.

Mereka adalah Dwina Sarah Diva dari Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak, Fahriatu Saidah dari Aktuaria, Citra Putri Marlin dari Meteorologi Terapan, Jihan Delly Nasyilla dari Komunikasi Digital dan Media, serta Najwa Alya Kamaludin dari Komunikasi Digital.

Tim tersebut berada di bawah bimbingan Dr. Medhanita Dewi Renanti, S.Kom., M.Kom.

Kolaborasi lintas bidang tersebut membuat pengembangan SiMata tidak hanya menitikberatkan pada aspek teknologi.

Pengolahan data, sistem AI, serta strategi komunikasi turut dipadukan agar gagasan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan lingkungan pendidikan sebagai salah satu sasaran penerapan.

Libatkan Guru dan Siswa SMK Pembangunan

Dalam proses produksi karya, tim SiMata juga menggandeng SMK Pembangunan dengan melibatkan guru dan siswa.

Kemitraan tersebut dilakukan untuk menghadirkan gambaran situasi yang lebih dekat dengan kehidupan pelajar.

Mahasiswa IPB University bersama siswa SMK Pembangunan turut berperan sebagai talent dalam proses pengambilan video.

Baca Juga: Gunung Papandayan, Destinasi Pendakian Ramah Pemula dengan Panorama Cantik di Garut

Selain menjadi bagian dari karya PKM-VGK, video SiMata juga diharapkan dapat dimanfaatkan sekolah sebagai media edukasi.

Materi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai bahaya penyalahgunaan NAPZA sekaligus pentingnya memperhatikan perubahan perilaku sejak awal.

Kisah Pelajar Jadi Pembuka Video SiMata

Berbeda dari karya yang langsung memperkenalkan teknologi, video SiMata terlebih dahulu membawa penonton mengikuti kisah seorang pelajar yang mengalami perubahan perilaku.

Dalam alur cerita, pelajar tersebut menjadi mudah terpancing emosi, terlibat tawuran, membuat keributan dengan mengacak-acak warung warga hingga mengambil uang milik ibunya.

Rangkaian kejadian itu kemudian menimbulkan keresahan di lingkungan sekitar. Warga melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak sekolah.

Dari sinilah muncul pertanyaan utama yang menjadi penghubung cerita, yakni apakah perubahan perilaku seorang remaja selalu dapat dianggap sebagai kenakalan biasa?

Pertanyaan tersebut kemudian mengarahkan cerita pada kemungkinan adanya persoalan penyalahgunaan NAPZA serta pentingnya mengenali indikasinya sedini mungkin.

Tim SiMata Audiensi dengan BNN Kabupaten Bogor

Untuk memperkuat gambaran mengenai persoalan yang diangkat, tim SiMata juga melakukan audiensi dengan BNN Kabupaten Bogor.

Dalam pertemuan tersebut, Imam dan Eko memberikan gambaran mengenai kondisi yang ditemukan di lapangan.

Salah satu hal yang dibahas adalah adanya kasus tawuran yang memiliki keterkaitan dengan penyalahgunaan zat.

Baca Juga: 10 Transaksi Terpantau! Begini Pergerakan Bansos BPNT Tahap 3 Hari Ini

Tim juga memperoleh informasi mengenai penggunaan tramadol yang dalam kasus tertentu dikaitkan dengan menurunnya persepsi terhadap rasa sakit.

Selain itu, audiensi tersebut memberikan pemahaman kepada tim mengenai pola penanganan kasus yang dilakukan BNN, baik melalui jalur projustitia atau proses hukum maupun nonprojustitia berupa rehabilitasi.

Kedua pendekatan tersebut diterapkan dengan mempertimbangkan kondisi serta kebutuhan dalam penanganan kasus penyalahgunaan NAPZA.

SiMata Bukan Alat Diagnosis Pengguna NAPZA

Setelah mengangkat persoalan melalui alur cerita, video kemudian memperkenalkan SiMata sebagai gagasan teknologi yang ditawarkan.

Sistem tersebut mengamati perubahan respons pupil terhadap stimulus cahaya. Respons kemudian direkam melalui citra digital dan diproses menggunakan CNN untuk menghasilkan klasifikasi.

Tiga hasil klasifikasi yang ditawarkan adalah aman, perlu perhatian, dan perlu pemeriksaan lanjutan.

Tim menekankan bahwa klasifikasi tersebut hanya ditujukan untuk skrining awal, bukan untuk memberikan diagnosis ataupun menetapkan seseorang sebagai pengguna NAPZA.

Jika hasil skrining menunjukkan adanya indikasi yang membutuhkan perhatian, pemeriksaan lanjutan tetap perlu dilakukan menggunakan metode yang tepat oleh pihak berwenang atau tenaga profesional.

Tak Sekadar Teknologi, SiMata Dikemas sebagai Media Edukasi

Sebagai karya PKM-VGK, SiMata tidak hanya menampilkan konsep teknologi berbasis AI. Tim menyusun video dengan alur yang dimulai dari persoalan, kondisi di lapangan, hingga gagasan solusi.

Pendekatan tersebut membuat penonton diajak memahami bahwa perubahan perilaku pada remaja perlu diperhatikan secara lebih mendalam.

Baca Juga: Beredar Isu Soal OTT KPK, Pemkab Bogor Hormati Keputusan KPK

Tidak semua perubahan dapat langsung dikategorikan sebagai kenakalan, sehingga diperlukan kepekaan terhadap kemungkinan adanya persoalan lain yang lebih serius.

Pesan utama yang ingin dibangun adalah pentingnya melakukan pencegahan serta mengenali indikasi penyalahgunaan NAPZA sedini mungkin.

SiMata Dipersiapkan Menuju PIMNAS

Pengembangan SiMata masih terbuka untuk penyempurnaan. Tim berencana melakukan pengujian dan pengembangan lebih lanjut agar sistem skrining berbasis AI tersebut semakin matang dan dapat digunakan secara relevan sebagai alat bantu.

Pengembangan ke depan diarahkan untuk memperkuat fungsi SiMata sebagai pendukung proses identifikasi awal, bukan menggantikan pemeriksaan medis, pemeriksaan konvensional, maupun mekanisme penanganan yang dilakukan tenaga profesional dan pihak berwenang.

Tim juga berharap gagasan tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas dalam mendukung upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA, terutama di lingkungan pendidikan.

Kolaborasi mahasiswa lintas disiplin IPB University dengan SMK Pembangunan diharapkan membuat karya tersebut tidak berhenti sebagai inovasi teknologi.

SiMata juga diposisikan sebagai media edukasi yang dekat dengan kehidupan pelajar dan dapat membantu meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya mengenali perubahan perilaku sejak dini.

Setelah melewati proses pengembangan dan penyempurnaan gagasan, tim SiMata kini bersiap melanjutkan kiprahnya menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. (***)

Editor : Yosep Awaludin
simata napza ipb university