RADAR BOGOR – Puluhan pelajar dari empat sekolah di Kota Bogor mengikuti Workshop My Buddy bertajuk “Rumah Damai, Bullying Usai” di Botani Square, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Kegiatan yang digagas Satpol PP Kota Bogor bersama Yayasan Rumah Kedua dan sejumlah organisasi itu mengajak pelajar mengenali perundungan melalui permainan Buddy Pekerti Board Game.
Sebanyak 80 peserta dari SMAN 1 Kota Bogor, MAN 1 Kota Bogor, SMA Wikrama, dan MAN 2 Kota Bogor mengikuti permainan tersebut. Para peserta duduk membentuk lingkaran besar di area depan panggung Botani Square.
Dalam permainan itu, peserta mendapat empat kartu. Satu kartu berisi gambar, sedangkan tiga kartu lainnya berisi kata-kata yang memiliki pesan terkait budi pekerti dan anti-perundungan.
Baca Juga: 2 Cara Cek Desil Bansos 2026, Dapat Bantuan Sosial Atau Tidak
Peserta kemudian diminta menjelaskan makna dari kata-kata tersebut. Mereka juga menyusun kalimat yang menggambarkan gambar pada kartu yang diperoleh.
Fungsional Pol PP Ahli Madya Satpol PP Kota Bogor, Apit Budiman mengatakan, metode permainan dipilih agar siswa dapat lebih mudah memahami pesan tentang perundungan.
“Program ini pertama kali kami launching di SMPN 8 Kota Bogor, alhamdulillah, sampai saat ini sudah menjangkau 3.800 siswa di Kota Bogor,” kata Apit.
Dari kegiatan tersebut, Satpol PP juga menerima laporan terkait kasus perundungan dari para siswa, total terdapat 59 kasus yang dilaporkan.
Apit menyebut 40 dari 59 kasus tersebut terjadi di lingkungan pendidikan dasar, khususnya sekolah dasar. Temuan itu mendorong Satpol PP untuk memperluas upaya pencegahan hingga tingkat SD.
“Mulai September nanti kami akan melakukan screening terkait kasus perlindungan anak yang terjadi di SD,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Satpol PP akan berkolaborasi dengan sejumlah perangkat daerah. Di antaranya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
Apit mengatakan program tersebut dijalankan bersama Yayasan Rumah Kedua tanpa menggunakan APBD. Pendanaan kegiatan diperoleh melalui dukungan sejumlah pihak.
“Kegiatan ini tanpa menggunakan APBD. Jadi, benar-benar murni kami mencari dukungan sendiri,” jelasnya.
Kepala KCD Wilayah II Jawa Barat, Yudi Rahmat menilai persoalan perundungan masih perlu mendapat perhatian di tingkat pendidikan dasar.
Menurutnya, pemahaman siswa SD terkait bullying perlu diperkuat melalui sosialisasi yang sesuai dengan usia mereka.
“PR-nya mungkin masih di pendidikan dasar, yaitu SD dan SMP. Tapi kami tentu membuka diri untuk pendidikan menengah,” kata Yudi.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Bogor, Eko Prabowo mengapresiasi inisiatif Satpol PP dalam mencegah perundungan di lingkungan sekolah.
Ia menilai pemahaman tentang bullying juga perlu diberikan kepada orang tua. Sebab, tidak semua kejadian antarsiswa saat bermain dapat langsung dikategorikan sebagai perundungan.
“Tadi disampaikan oleh Kepala KCD bahwa anak-anak SD belum sepenuhnya memahami apa itu bullying. Orang tua juga terkadang masih salah memahami kejadian di sekolah dasar,” kata Eko.
Eko berharap kegiatan edukasi seperti My Buddy dapat terus dilakukan untuk membangun pemahaman siswa, guru, dan orang tua mengenai perundungan. (uma)
Editor : Eka Rahmawati