Siswa SMKN 4 Kota Bogor Ubah Limbah MBG Jadi Bahan Kompos, Kr4batKompos Raih Juara 2 BIA 2026

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 16:37 WIB
Kr4batKompos saat mendapatkan hadiah juara 2 Bogor Innovation Award 2026. Foto: Raissa Magang Radar Bogor
Kr4batKompos SMKN 4 Kota Bogor saat mendapatkan hadiah juara 2 Bogor Innovation Award 2026. Foto: Raissa Magang Radar Bogor

RADAR BOGOR – Sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 4 Kota Bogor tak selalu berakhir di tempat sampah. Tiga siswa sekolah tersebut justru mengembangkan inovasi Kr4batKompos.

Kr4batKompos merupakan alat yang dirancang SMKN 4 Kota Bogor untuk mengolah limbah makanan organik menjadi bahan dasar kompos.

Inovasi Kr4batKompos tersebut dibuat oleh Ahmad Firdausy Ahla dan Muhamad Davi Najamudin Ansori dari kelas XII PPLG 1, bersama Muhammad Hisyaam Mushaddaq El Hadd dari kelas XII TPFL 2 SMKN 4 Kota Bogor.

Baca Juga: KPK Dalami Pertemuan Pejabat Bogor dalam Kasus Dugaan Korupsi HGB, Rudy Susmanto: Saya Tidak Ada

Berkat inovasi itu, ketiganya berhasil meraih Juara 2 Bogor Innovation Award (BIA) 2026.

Ahmad mengatakan, ide pembuatan Kr4batKompos muncul setelah mereka melihat banyaknya sisa makanan dari program MBG yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan.

“Kalau untuk limbah organik, menurut kami cukup optimal kalau diolah menjadi kompos. Makanya kami kepikiran membuat Kr4batKompos,” kata Ahmad saat ditemui di sekolahnya, Rabu, 16 September 2026.

Menurutnya, pengolahan limbah MBG menjadi bahan kompos juga dapat mendukung kebutuhan tanaman di lingkungan sekolah. Limbah organik yang telah dipilah kemudian dimasukkan ke dalam alat untuk melalui proses pencacahan dan pemanasan.

Baca Juga: Pemerintah Rilis 25 Merek Beras Fortifikasi Diduga Bermasalah, Cek Daftarnya

“Jadi sisa makanan itu bisa kami olah menjadi bahan dasar kompos. Kalau dikembangkan, komposnya juga bisa dikemas dan dijual,” ujarnya.

Berpotensi Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Ahmad melihat limbah makanan dari MBG memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Volume limbah yang cukup besar dinilai dapat menjadi potensi apabila dikelola dengan baik.

“Untuk Bogor, limbah dari MBG bisa sampai sekitar 3 sampai 6 ton per hari. Kami melihat ada peluang untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.

Baca Juga: Tak Perlu ke Kantor Dukcapil, Puluhan Siswa SMKN 4 Bogor Rekam KTP di Sekolah

Saat ini, Kr4batKompos masih berupa prototype berkapasitas sekitar lima liter. Tim berencana meningkatkan kapasitasnya hingga sekitar 20 liter.

Alat tersebut juga telah dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT). Dengan teknologi itu, proses pengolahan nantinya dapat dipantau melalui website maupun dashboard.

Pengembangan tersebut diharapkan membuat Kr4batKompos tidak hanya digunakan di lingkungan SMKN 4 Bogor, tetapi juga berpotensi diterapkan di sekolah lain.

Sampah Harus Dipilah Sebelum Diproses

Baca Juga: Yamaha Jupiter Z Burhan 2006 Kembali Diburu, Motor Bebek Legendaris dengan Jok Empuk

Muhamad Davi menjelaskan, tidak semua jenis sisa makanan dapat langsung dimasukkan ke dalam alat. Limbah harus dipilah terlebih dahulu berdasarkan karakteristiknya.

Bahan yang terlalu keras seperti tulang, biji-bijian, atau daging keras tidak dapat diproses karena berisiko merusak pisau pencacah.

“Alat ini tidak boleh digunakan untuk sampah yang terlalu keras, seperti tulang, biji-bijian, atau daging yang terlalu keras. Kami khawatir pisaunya bisa pecah, tergores, atau macet,” kata Davi.

Sebaliknya, limbah organik yang lebih lunak seperti nasi, sisa telur, kulit jeruk, dan kulit pisang dapat diproses.

Sisa makanan yang mengandung banyak air juga harus mendapat perlakuan khusus. Davi mengatakan, tim sempat melakukan uji coba menggunakan makanan berkuah, tetapi kandungan airnya merembes hingga ke bagian dinamo dan menyebabkan kerusakan.

Baca Juga: KKS Lama Terisi Rp600 Ribu, Ini KPM yang Kembali Dapat Bansos PKH dan BPNT

“Jadi, bahan yang akan dimasukkan harus dipilah terlebih dahulu dan tidak boleh terlalu banyak mengandung air,” ujarnya.

Diproses Selama Lima Jam

Sebelum masuk ke alat, limbah organik yang telah dipilah terlebih dahulu ditimbang menggunakan load cell untuk mengetahui berat awal.

Bahan kemudian dimasukkan ke dalam Kr4batKompos dan dicacah menggunakan pisau yang tersedia di dalam alat. Proses pengolahan berlangsung sekitar lima jam.

Pada tahap awal, suhu diatur sekitar 40 derajat Celsius. Setelah mencapai suhu tersebut, pisau pencacah mulai bekerja.

Baca Juga: Gim Kimia Ciptaan SMK AK Nusa Bangsa Bogor Bawa Siswa Masuk ke Laboratorium yang Hilang

Untuk proses pemanasan, tim memanfaatkan komponen heater dari magicom bekas. Suhu kemudian dinaikkan hingga sekitar 70 derajat Celsius dan dijaga tetap stabil selama proses berlangsung.

“Setelah lima jam, hasil pengolahan terlihat seperti tanah,” kata Davi.

Meski demikian, material yang dihasilkan masih berupa bahan dasar kompos. Material tersebut perlu dikeringkan dan menjalani proses biologis lanjutan sebelum dapat menjadi kompos matang.

Dibuat dari Material Sisa Bengkel

Muhammad Hisyaam Mushaddaq El Hadd menuturkan, pembuatan prototype Kr4batKompos memanfaatkan material yang tersedia di bengkel sekolah. Besi dan stainless yang digunakan sebagian merupakan material sisa.

Baca Juga: PJU Padam di Parungpanjang Bogor, Warga Khawatir Jalan Makin Rawan

“Karena menggunakan material yang sudah ada, kondisinya memang tidak semuanya sempurna dan agak rapuh. Kami juga sempat mengalami kebocoran pada bagian tertentu saat proses uji coba,” ungkap Hisyaam.

Selain persoalan fisik alat, sistem IoT juga masih menjadi bagian yang perlu dikembangkan. Salah satunya komponen load cell yang dinilai cukup sensitif dan terkadang belum bekerja secara stabil.

Tim juga mendapatkan masukan dari juri BIA 2026 terkait efisiensi konsumsi listrik. Prototype Kr4batKompos sendiri menghabiskan biaya pembuatan sekitar Rp1,5 juta.

“Untuk koreksinya mungkin di sisi efisiensi suplai listrik. Apakah listrik yang dikeluarkan sebanding dengan hasilnya. Itu yang menjadi koreksi dari sisi fisiknya,” jelas Hisyaam.

Baca Juga: Laporan Penerimaan 5 Bansos ke KPM: Cek Nominal BLT Dana Desa, PKH, BPNT hingga Beras

Kr4batKompos mulai dikembangkan sejak Februari 2026. Ketiga siswa mengerjakan proses mulai dari penyusunan proposal, perancangan, pembuatan alat, hingga uji coba secara bertahap di sela kegiatan sekolah.

Setelah melalui proses pengembangan selama beberapa bulan, kerja keras mereka membuahkan prestasi di ajang BIA 2026.

“Alhamdulillah kami senang bisa mendapat juara dua. Beberapa bulan persiapan, pembuatan, dan perancangan ini akhirnya terbayarkan,” pungkas Hisyaam.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
kompos Kr4batKompos bogor SMKN 4 limbah