RADAR BOGOR - Nama Morgan Oey sudah lama dikenal publik Tanah Air. Mengawali karier di industri hiburan sebagai penyanyi, Morgan perlahan menapaki jalur akting dengan pilihan peran yang tidak biasa.
Morgan Oey memang dikenal tidak segan mengambil karakter yang rumit, penuh tekanan, dan bersinggungan langsung dengan persoalan sosial.
Konsistensi tersebut berbuah manis. Morgan Oey berhasil meraih penghargaan Festival Film Tempo (FFT) 2025 lewat perannya sebagai guru pengganti dalam film Pengepungan di Bukit Duri.
Pencapaian ini menjadi salah satu sorotan penting dalam malam penganugerahan FFT tahun 2026 ini.
Festival Film Tempo merupakan ajang apresiasi perfilman Indonesia yang digelar oleh Tempo Media Group.
FFT dikenal memberi ruang bagi karya-karya film yang berani mengangkat isu sosial, kemanusiaan, serta realitas masyarakat apa adanya. FFT 2025 sendiri digelar pada Senin, 26 Januari 2026, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Dalam Pengepungan di Bukit Duri, Morgan memerankan Edwin, seorang guru pengganti yang baru mengajar di SMA Duri, sekolah yang kerap dicap sebagai “sekolah buangan”.
Dikutip dari Liputan6.com, Edwin digambarkan sebagai pendidik yang berdedikasi, tetapi harus berhadapan dengan lingkungan sekolah yang keras, dipenuhi murid-murid bermasalah, serta situasi sosial yang tidak kondusif.
Edwin bukan sosok guru yang pasif. Ia digambarkan memiliki kemampuan bela diri, berani mengambil sikap tegas terhadap murid, dan terlibat langsung dalam konflik yang terjadi di sekolah tersebut.
Di saat yang bersamaan, ia juga dibebani pencarian keponakannya yang hilang di tengah kerusuhan.
Lapisan konflik inilah yang membuat karakter Edwin terasa kompleks, penuh tekanan, sekaligus sarat dilema kemanusiaan.
Saat naik ke atas panggung untuk menerima piala, Morgan menyampaikan pidato yang mencuri perhatian.
Berdasarkan unggahan resmi Instagram Tempo, Morgan mendedikasikan penghargaan tersebut kepada pihak-pihak yang selama ini kerap luput dari sorotan publik.
“Piala ini mau saya persembahkan untuk semua guru, terutama guru-guru honorer di Indonesia yang sudah mendedikasikan dan mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk mengajar, meski kesejahteraan dan kualitas hidupnya sering terabaikan," ujar Morgan saat menerima penghargaan dikutip dari Instagram reels @tempodotco.
"Dan juga untuk orang-orang yang sampai hari ini masih mencari keadilan atas tragedi yang menimpa hidup mereka,” tambahnya.
Tidak berhenti di situ, Morgan juga menegaskan pentingnya menjaga ingatan kolektif atas luka-luka masa lalu.
Ia menyampaikan satu kalimat yang kemudian banyak dikutip publik, yakni ajakan untuk tidak melupakan sejarah dan penderitaan yang pernah terjadi.
Menurutnya, “menolak lupa” adalah bentuk penghormatan terhadap mereka yang pernah terluka, sebab lupa tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka.
Pidato tersebut disambut tepuk tangan panjang dari para tamu undangan. Banyak yang menilai momen itu sebagai salah satu bagian paling kuat di FFT 2025, karena menghadirkan rasa empati yang disampaikan langsung oleh aktor dengan menggunakan panggungnya untuk berbicara soal kemanusiaan.
Keberhasilan Morgan Oey lewat Pengepungan di Bukit Duri tidak hanya menegaskan kualitas aktingnya, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebuah peran bisa menjadi medium untuk menyuarakan realitas yang sering terpinggirkan.
Bagi Morgan Oey, penghargaan ini bukan sekadar pencapaian personal, melainkan pengingat akan tanggung jawab untuk terus bersuara dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. (Sarah/Unpad)
Editor : Yosep Awaludin