Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dari Suku Osing hingga Peninggalan Majapahit: 4 Destinasi Wisata Budaya di Jawa Timur yang Ajak Kamu Menyaksikan Ritual Kuno yang Masih Hidup

Kholikul Ihsan • Minggu, 7 Juni 2026 | 12:43 WIB
Ilustrasi desa adat suku Osing. (Foto: Instagram @desakemiren_official)
Ilustrasi desa adat suku Osing. (Foto: Instagram @desakemiren_official)

RADAR BOGOR - Ada kepuasan tersendiri ketika berdiri di pelataran candi bata merah yang dibangun tujuh abad lalu, atau duduk di ruang tamu rumah adat yang masih dihuni keturunan kelima dari kerajaan kuno.

Jawa Timur menyimpan kekayaan budaya yang tidak kalah memukau dibandingkan alamnya. Di sini, tradisi bukan sekadar tontonan untuk turis. Ritual-ritual kuno masih dijalankan dengan penuh keyakinan. 

Hukum adat masih ditegakkan. Dan masyarakatnya dengan bangga mengenakan pakaian tradisional mereka setiap hari, bukan hanya saat ada acara.

Jika Anda ingin merasakan Indonesia dengan budaya yang sesungguhnya yang sarat makna dan filosofi, maka 4 destinasi wisata budaya berikut ini wajib masuk daftar perjalanan Anda, berdasarkan ulasan Google maps yang menjadikannya magnet turis. 

Baca Juga: Rekomendasi 5 Destinasi Ekowisata Berkelanjutan di Jawa Timur: Liburan yang Bikin Hati Tenang, Sekaligus Mengedukasi

1. Desa Wisata Kamiren (Banyuwangi)

Begitu kaki Anda menginjak Desa Kemiren, suasana langsung berubah. Rumah-rumah kayu jati tua dengan atap menjulang tinggi berdiri berjajar rapi. 

Inilah perkampungan Suku Osing, penduduk asli Banyuwangi yang merupakan keturunan langsung Kerajaan Blambangan. Yang membuat desa ini istimewa, tradisi tidak hanya dihidupkan saat festival, tapi setiap hari. 

Di pagi hari, Anda bisa melihat ibu-ibu menumbuk padi di lesung sambil menyanyikan Kothekan Lesung, musik ritmis yang terbentuk dari hantaman alu ke kayu. 

Baca Juga: 7 Hidden Gem di Jawa Timur yang Lebih Sunyi dan Tenang: Ada Air Terjun yang Jatuh Bukan ke Sungai, tapi ke Laut, Lokasinya di Sini

Jika beruntung, Anda bisa menyaksikan Tari Gandrung, tarian penyambutan khas Osing yang gerakannya lentur dan penuh makna, 

Suku Osing juga memiliki ritual adat terkenal seperti Tumpeng Sewu (makan besar seribu tumpeng di sepanjang jalan desa untuk menolak bala.

Disini pengunjung dapat belajar menyangrai kopi tradisional Osing di atas tungku arang, lalu menikmatinya dengan Pecel Pitik (ayam kampung bakar suwir dengan bumbu kelapa pedas yang luar biasa nikmat).

Desa ini berada di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, sekitar 15 menit berkendara dari pusat kota Banyuwangi. Jalan beraspal mulus hingga ke pintu masuk desa. 

Baca Juga: Ada Fenomena yang Cuma Bisa Dilihat Tengah Malam, Ini 6 Spot Wisata di Jawa Timur Paling Aesthetic yang Tidak Akan Kamu Temukan di Daerah Lain

Anda bisa berjalan kaki menjelajahi lorong-lorong sempit di antara rumah adat, atau menyewa pemandu lokal (biasanya para tetua desa) yang akan bercerita banyak tentang filosofi di balik setiap sudut rumah.

2. Kawasan Adat Suku Tengger (Ngadas dan Wonokitri)

Di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, dengan udara dingin yang menusuk tulang, hiduplah komunitas Suku Tengger. 

Mereka adalah keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger, sepasang bangsawan Majapahit yang konon menjadi cikal bakal terbentuknya kawasan Bromo. 

Baca Juga: Tersembunyi di Dalam Pasar Warung Jambu, Snapops Jadi Analog Photobooth Pertama di Bogor dengan Nuansa Retro Jadul

Kehidupan mereka sangat bersahaja, pria dan wanita mengenakan sarung yang diikatkan di bahu (sarungan) untuk menghalau dingin. Namun, spiritualitas mereka sangat dalam. 

Setiap tahun, tepat di bulan Kasada (sekitar Juni-Juli), mereka berjalan kaki di tengah malam menembus lautan pasir menuju Pura Luhur Poten di kaki kawah Bromo. Di sana, mereka melemparkan hasil bumi, ternak, bahkan uang ke dalam kawah aktif sebagai wujud syukur. 

Jika datang di waktu yang tepat, Anda bisa mengikuti prosesi Kasada dari kejauhan (dengan panduan resmi). Jika tidak, cukup menginap di Desa Ngadas atau Desa Wonokitri, duduk di beranda homestay sambil ngobrol dengan warga lokal yang ramah, dan mendengar langsung legenda Roro Anteng dari mulut mereka.

Desa Ngadas berada di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Desa Wonokitri di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. 

Baca Juga: Bukan Sekadar Basah-basahan, 6 Waterpark di Jawa Timur Ini Miliki Kolam Ombak Tsunami hingga Pesawat Boeing Asli

Keduanya bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi, tapi jalan menuju Ngadas lebih terjal dan berbatu. Disarankan menggunakan mobil berpenggerak roda dua yang prima. Wajib membawa jaket tebal karena suhu bisa turun hingga 5–10 derajat Celcius di malam hari.

3. Situs Trowulan (Mojokerto)

Bayangkan Anda berdiri di tengah kota yang luasnya hampir 100 kilometer persegi. Di sekeliling Anda, tersebar puluhan bangunan bata merah yang megah, beberapa masih berdiri utuh, yang lain hanya tersisa pondasinya. 

Inilah Trowulan, yang diyakini sebagai ibu kota administratif Kerajaan Majapahit, kemaharajaan Hindu-Buddha terbesar yang pernah ada di Nusantara. 

Baca Juga: 6 Wisata Air Terjun Tersembunyi di Jawa Tengah yang Eksotis dan Menawan, Dijamin Bikin Pikiran Tenang

Berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah yang berbahan batu andesit, bangunan Majapahit menggunakan bata merah yang disusun tanpa semen, sebuah teknologi konstruksi yang sangat canggih pada zamannya. 

Aktivitas yang wajib dilakukan, kunjungi Candi Tikus, sebuah petirtaan (pemandian suci) bawah tanah yang bentuknya sangat unik menyerupai gunung berapi mini. 

Lalu, lanjutkan ke Gapura Bajang Ratu, gapura megah setinggi 16 meter yang dulunya merupakan pintu masuk menyambut tamu-tamu agung kerajaan. Jangan lupa mampir ke Museum Trowulan untuk melihat koleksi arca, emas, dan terakota yang tak ternilai harganya.

Seluruh situs ini berada di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, sekitar 45 menit dari pusat Kota Mojokerto. Anda bisa menyewa sepeda motor atau mobil untuk berpindah antar situs karena jaraknya cukup berjauhan. 

Baca Juga: Harga Tiket Murah Meriah, 7 Destinasi Wisata di Jawa Tengah Ini Bikin Dompet Tersenyum, Cek di Sini

Tiket masuk setiap candi terpisah, namun semuanya sangat terjangkau (kisaran Rp5.000–Rp10.000). Saran redaksi: datang pagi-pagi sekali untuk menghindari terik matahari, karena sebagian besar area situs tidak memiliki naungan.

4. Kampung Adat Taneyan Lanjhang (Bangkalan)

Madura terkenal dengan kerasnya ombak laut dan garamnya yang putih. Namun dibalik itu semua, ada sebuah konsep pemukiman adat yang sangat lembut dan penuh makna, Taneyan Lanjhang, yang artinya Halaman Panjang. 

Di kampung adat ini, rumah-rumah tidak dibangun secara acak. Mereka disusun dalam satu garis lurus dari barat ke timur, berdasarkan urutan usia keluarga. 

Baca Juga: Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama: 6 Pantai di Jateng yang Paling Bikin Tenang, Mulai dari Suwuk hingga Karimunjawa

Di ujung paling barat (posisi tertinggi) berdiri sebuah mushola atau Langghar. Di sebelahnya, rumah orang tua. Lalu diikuti rumah anak perempuan tertua, dan seterusnya hingga anak bungsu di ujung timur. 

Tata letak ini mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat Madura, religius, protektif terhadap perempuan, dan sangat menjunjung tinggi ikatan persaudaraan se-darah. 

Aktivitas yang bisa Anda lakukan adalah berjalan-jalan di antara deretan rumah panggung kayu jati kuno yang berusia puluhan hingga ratusan tahun, duduk di pendopo sambil mendengar cerita dari tetua adat tentang filosofi di balik setiap ukiran, serta melihat langsung proses pembuatan batik tulis Madura dengan corak warna berani yang khas.

Kampung adat ini berada di Kecamatan Kamal atau Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura. Dari Jembatan Suramadu, Anda hanya perlu berkendara sekitar 30 menit. 

Baca Juga: Agendakan Segera, 6 Tempat Liburan Keluarga di Jawa Tengah Ini yang Paling Diburu Saat Libur Sekolah

Jalan menuju lokasi cukup baik, mobil kecil pun bisa masuk. Karena tempat ini masih merupakan pemukiman aktif warga, jaga sikap dan bicara dengan hormat, terutama saat berinteraksi dengan para sesepuh adat.

Hal yang perlu dipahami, ketika Anda berkunjung ke destinasi wisata budaya, Anda bukan sekadar turis, Anda adalah tamu. Masyarakat adat tidak berkewajiban menghibur Anda. Mereka membuka rumah dan tradisi mereka karena ingin berbagi, bukan karena kewajiban.***

Editor : Eli Kustiyawati
#kekayaan budaya #kerajaan kuno #wisata budaya #jawa timur