RADAR BOGOR - Selama ini warga Bogor yang ingin menikmati wisata dengan udara pegunungan dan hamparan air jernih selalu memadati Lembang atau Puncak.
Padahal, ada satu kecamatan kecil di ujung barat Kabupaten Bandung Barat yang menyimpan keindahan jauh lebih tenang, jauh lebih alami, dan belum terjamah kerumunan wisatawan, Cipeundeuy.
Letaknya strategis, berada di perbatasan langsung Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Cianjur, dibelah aliran purba Sungai Citarum yang kini menjelma menjadi Waduk Cirata.
Dari Bogor, perjalanan menuju Cipeundeuy bisa ditempuh lewat Tol Cipularang arah Bandung, keluar di Pintu Tol Cikamuning atau Cikalongwetan, lalu melanjutkan perjalanan sekitar 20–30 menit menuju pusat kecamatan.
Tidak terlalu jauh, namun nuansanya sudah seperti memasuki dunia yang berbeda.
Baca Juga: Curug Cibeureum Gunung Gede Pangrango, Destinasi Trekking Segar dengan Dua Air Terjun
Sisi Waduk Cirata yang Belum Pernah Dilihat di Sosmed
Kebanyakan orang mengenal Waduk Cirata dari sisi Cianjur yang ramai oleh keramba apung, padat oleh aktivitas nelayan industri. Namun pintu masuk dari sisi Cipeundeuy, Bandung Barat, menawarkan panorama yang sama sekali berbeda.
Di sini, hamparan air waduk yang luas membentang tenang, dikelilingi perbukitan hijau yang belum tersentuh beton. Tidak ada kebisingan mesin keramba. Yang ada hanya desau angin, suara dayung, dan langit biru yang terpantul sempurna di permukaan air.
Warga lokal menyewakan perahu motor kepada pengunjung untuk berkeliling waduk, menikmati pemandangan dari atas air, atau sekadar berfoto dengan latar langit dan bukit yang seperti lukisan.
Baca Juga: Liburan di Telaga Biru Gunung Gede, Destinasi Petualangan dengan Spot Instagramable
Sore hari, saat matahari mulai turun ke balik perbukitan barat, cahayanya berpendar keemasan di permukaan waduk, momen yang oleh para fotografer lokal sudah lama disebut sebagai golden hour terbaik yang belum viral.
Di sepanjang pinggir aspal menuju dermaga, berjejer warung lesehan sederhana yang menyajikan ikan air tawar langsung dari waduk.
Nila bakar bumbu cobek, mas goreng garing renyah, hingga sate maranggi khas perbatasan Purwakarta, semuanya tersaji dengan harga yang masih sangat ramah di kantong.
Sendang Geulis Kahuripan
Baca Juga: Magnolia Hills Resort Cisarua Bogor, Penginapan Baru dengan View Gunung dan City Light yang Memukau
Jika ada satu destinasi di Cipeundeuy yang paling layak disebut hidden gem sesungguhnya, itu adalah Sendang Geulis Kahuripan.
Bayangkan sebuah kolam mata air alami yang tersembunyi di balik perbukitan, ladang, dan hamparan perkebunan teh.
Airnya tidak sekadar jernih, ia bening seperti kaca, dengan semburat warna kebiruan alami yang membuat dasar kolam berbatu terlihat jelas dari permukaan.
Kadar oksigennya tinggi, dan begitu tangan menyentuh air, rasanya seperti menyentuh es batu yang bernyawa.
Baca Juga: Gak Bikin Bete di Jalan, 5 Tempat Wisata Jabodetabek Anti Macet, Liburan Tetap Seru
Pengunjung bebas berenang dan berendam di bawah rindang pepohonan tua yang menaungi kolam.
Bagi para pecinta fotografi bawah air, spot ini bahkan sudah menjadi semacam rahasia tersimpan, visibilitas bawah airnya luar biasa jernih, dengan tekstur batuan alami di dasar kolam yang menghasilkan foto estetik tanpa perlu filter apapun.
Lokasi Sendang Geulis berada di perbatasan wilayah Cikalongwetan dan Cipeundeuy, sehingga sering luput dari peta wisata utama.
Justru itulah kelebihannya, suasananya masih sangat sepi, dan pengalaman yang didapat terasa lebih personal, lebih autentik, dan lebih tak terlupakan.
Baca Juga: Villa Smallville Bogor, Muat untuk 25 Orang dengan Kolam Renang dan Karaoke Room
Berkemah di Tepi Bukit dengan Pemandangan Waduk Sepanjang Malam
Bagi warga Bogor yang sudah bosan dengan camping ground mainstream yang penuh sesak setiap akhir pekan, kawasan pesisir Cipeundeuy, khususnya di sekitar Desa Sirnaraja menawarkan alternatif wild camping yang sesungguhnya.
Punggungan bukit-bukit kecil di sini menjorok langsung ke arah Waduk Cirata, membentuk banyak teluk kecil berarus tenang yang menjadi surga bagi ikan nila, mas, dan hampala liar.
Para pemancing bisa mendirikan tenda di tepi bukit pinus atau kebun, memancing sepanjang sore, lalu menikmati matahari tenggelam langsung di depan mata, tanpa pengeras suara, tanpa pedagang asongan, tanpa antrian toilet umum.
Baca Juga: Pesona Wisata Pantai Pangandaran, Spot Favorit Berburu Sunset di Jawa Barat
Malam hari, langit di Cipeundeuy jauh dari polusi cahaya kota. Ribuan bintang tampak dengan jelas, sementara di bawahnya cahaya lampu perahu nelayan berpendar perlahan di permukaan waduk. Pemandangan itulah yang membuat banyak pengunjung yang sudah pernah ke sana selalu ingin kembali.
Suasana Desa Sunda yang Sudah Hampir Punah di Tempat Lain
Yang membedakan Cipeundeuy dari destinasi wisata Jawa Barat lainnya bukan hanya alamnya, melainkan suasananya.
Di sini, desa-desa masih berjalan dengan ritme pedesaan Sunda yang asli. Warga menyapa pengunjung dengan ramah, warung-warung kecil masih memasak dengan kayu bakar, dan tidak ada papan iklan besar yang menghalangi pemandangan. Tidak ada kafe kekinian dengan papan neon. Tidak ada kemacetan panjang di hari Sabtu.
Baca Juga: Tak Hanya PLTA, Waduk Cirata Punya Rumah Makan Terapung dan Spot Sunset Cantik
Itu semua adalah kemewahan yang justru semakin langka dan Cipeundeuy masih memilikinya.
Bagi warga Bogor yang tertarik menjadikan Cipeundeuy sebagai destinasi perjalanan berikutnya, waktu terbaik datang adalah pagi hari. Udara pegunungan Cipeundeuy masih berkabut tipis di pagi hari, mata air masih sangat jernih sebelum ramai, dan cahaya fotografi pagi memberikan hasil terbaik.
Jika berencana camping, sebaiknya tiba sebelum pukul 15.00 agar punya cukup waktu menyiapkan tenda sebelum gelap.
Cipeundeuy bukan destinasi untuk mereka yang mencari hiburan ramai dan fasilitas lengkap. Ia adalah destinasi untuk mereka yang mencari sesuatu yang sudah lama hilang dari tempat wisata populer, ketenangan yang sesungguhnya.
Dan bagi warga Bogor yang selama ini selalu memutar balik di Lembang atau bermacet-macet di Puncak, mungkin sudah waktunya sekali-kali mengarahkan kemudi ke barat, menuju sudut Bandung Barat yang masih menyimpan rahasianya.***
Editor : Eli Kustiyawati