RADAR BOGOR - Bagi warga Bogor yang sudah terlalu sering menghabiskan liburan di Pelabuhan Ratu dan selalu pulang dengan cerita yang sama macet di jalan, ramai di pantai, mahal di warung mungkin sudah waktunya mencoba sesuatu yang berbeda.
Di sepanjang garis pantai selatan Jawa Barat yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, tersebar pantai-pantai yang belum pernah muncul di papan iklan besar, belum pernah ramai oleh bus pariwisata, dan tiket masuknya kalau ada tidak lebih dari harga sebungkus nasi uduk.
Beberapa bahkan benar-benar gratis. Yang diminta hanya satu, kemauan untuk menempuh perjalanan sedikit lebih jauh dari biasanya.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Siap Cair, Pastikan 3 Syarat Ini Terpenuhi
Empat pantai berikut ini adalah yang paling layak masuk daftar perjalanan warga Bogor yang sudah bosan dengan destinasi pantai yang itu-itu saja.
Pantai Tenda Biru Ujung Genteng
Di antara semua pantai tersembunyi di Sukabumi, Pantai Tenda Biru di kawasan Ujung Genteng mungkin yang paling menuntut komitmen untuk sampai ke sana, dan justru itulah yang menjaga keasriannya tetap utuh.
Untuk mencapai bibir pantainya, pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan setapak di antara hutan dan semak-semak rindang di dalam kawasan cagar alam.
Baca Juga: Ini Batas Akhir Penyaluran Bansos PKH BPNT Tahap 2, Cek KKS Secara Berkala
Tidak ada shuttle, tidak ada jasa ojek lokal yang mengantar sampai depan. Hanya jalur alami yang masih dibiarkan seperti aslinya, dengan suara burung dan gemerisik dedaunan sebagai pengiring.
Tapi begitu jalan setapak itu berakhir dan pohon-pohon terakhir terbuka, pemandangan yang muncul langsung membayar semua langkah yang sudah diambil, pasir putih bersih yang nyaris tidak berbekas kaki orang lain, air laut jernih yang dangkal dan berkilau, dan hamparan rumput laut alami yang menyebar di dasar perairan seperti karpet hijau bawah laut.
Yang membuat Pantai Tenda Biru berbeda dari kebanyakan pantai selatan Jawa Barat adalah karakteristik ombaknya.
Baca Juga: 4 Wisata Alternatif di Puncak Bogor, Lahan Luas dan Ramah Anak
Benteng karang jauh di tengah laut menahan gelombang Samudra Hindia sebelum mencapai tepian, sehingga area bibir pantainya relatif tenang dan aman untuk berenang santai, sesuatu yang sangat langka di pesisir selatan yang umumnya dikenal berombak besar dan berarus kuat.
Tiket masuknya menyatu dengan gerbang utama kawasan Ujung Genteng, hanya Rp10.000 per orang. Untuk pengalaman berenang di pantai tersembunyi sejernih itu, harga itu terasa seperti kesalahan cetak.
Pantai Cikembulan Pass Pangandaran
Pangandaran adalah nama yang semua orang Bogor kenal. Tapi Pangandaran yang paling sering dikunjungi, Pantai Barat, Pantai Timur, kawasan utama yang macet dan padat saat musim liburan hanyalah satu sisi dari kabupaten pantai yang sebenarnya jauh lebih luas dari itu.
Baca Juga: 3 Rekomedasi Wisata Padang Rumput Hijau di Bogor, Dijamin Bikin Betah
Geser sedikit ke area Sidamulih, dan temukan Pantai Cikembulan Pass, sebuah ruang terbuka publik di tepi laut yang statusnya belum masuk zona retribusi resmi, yang artinya masuk ke sini tidak butuh tiket apapun. Hanya parkir kendaraan, seikhlasnya.
Yang menyambut pengunjung di sini bukan pohon kelapa yang biasanya menjadi ikon pantai tropis Indonesia.
Deretan pohon cemara hijau yang berbaris rapi di sepanjang pesisir menciptakan suasana teduh yang tidak biasa, lebih dekat ke suasana pantai di kawasan Eropa Utara daripada pesisir selatan Jawa.
Di tengah-tengah area, berdiri ikon tugu ikan marlin yang menghadap laut terbuka, menjadi titik foto favorit warga lokal yang sudah lama menjadikan tempat ini sebagai lokasi botram tradisi makan bersama beralas tikar yang tidak pernah terasa sebagus ini selain di tepi laut.
Baca Juga: KKS KPM Banjir Saldo, 2 Bansos Tambahan Ini Cair Akhir Juni 2026
Satu catatan penting yang perlu diperhatikan, ombak di Cikembulan Pass cukup besar dan tidak ada penjaga pantai yang bertugas.
Tempat ini bukan untuk berenang, ia adalah tempat untuk duduk, memandang laut lepas, mendengar suara ombak, dan membiarkan pikiran pergi ke mana ia mau.
Pantai Loji Simpenan
Kalau ada satu pantai di Sukabumi yang paling layak disebut cinematic, dalam arti sesungguhnya, bukan hiperbola, itu adalah Pantai Loji di Kecamatan Simpenan.
Tidak ada pasir putih di sini. Yang ada adalah pasir berwarna gelap eksotis yang kontras dengan bebatuan karang besar yang tersebar di sepanjang garis air, sementara di belakangnya bukit-bukit tinggi bervegetasi rapat berdiri seperti dinding hijau yang memeluk pantai dari tiga sisi.
Baca Juga: Segera Cek KKS, Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 Ditutup Sebentar Lagi
Komposisi visual seperti ini, hitam, hijau, abu-abu, dan biru laut, menghasilkan pemandangan yang terasa lebih seperti lukisan daripada foto yang diambil dengan kamera biasa.
Karena jarang dikunjungi wisatawan dari luar kota, Pantai Loji menawarkan sesuatu yang semakin langka di destinasi wisata pantai manapun, kesunyian yang sesungguhnya.
Tidak ada musik dari warung, tidak ada teriakan penyewa ban pelampung. Yang ada hanya suara gemuruh ombak yang menghantam bebatuan karang secara berirama, berulang, dan dengan cara yang aneh justru terasa menenangkan.
Bagi warga Bogor yang datang bukan untuk foto viral tapi untuk benar-benar istirahat dari segala hiruk-pikuk, Pantai Loji adalah jawaban yang sudah lama menunggu untuk ditemukan.
Baca Juga: Kasus Dugaan Jual Beli Jabatan ASN di Bogor Naik ke Penyidikan, Polisi Bidik Dugaan Gratifikasi
Biaya masuknya? Gratis. Hanya parkir motor Rp5.000 dan mobil Rp10.000. Aksesnya melalui jalur sabuk Geopark Ciletuh yang kondisinya terus membaik seiring pengembangan kawasan geopark.
Pantai Minajaya Surade
Dari empat pantai dalam daftar ini, Pantai Minajaya di Kecamatan Surade, Sukabumi, mungkin yang paling ramah untuk dibawa bersama anak-anak, bukan untuk berenang di lautnya, tapi untuk menjelajahi sesuatu yang jauh lebih menarik, dataran karang datar yang sangat luas di sepanjang pesisirnya.
Ketika air laut sedang surut, hamparan dataran karang ini terekspos ke permukaan dan berubah menjadi labirin alami yang penuh kejutan.
Di sela-sela cekungan dan lekukan batuan karangnya, terbentuk kolam-kolam air kecil yang terjebak dari laut, dan di dalam kolam-kolam itulah dunia bawah laut hadir dalam skala yang bisa dilihat langsung dengan mata, tanpa kacamata selam, tanpa perahu, tanpa jarak apapun.
Baca Juga: Mohon Maaf, Pemilik NIK KTP Ini Diblokir dari KPM Bansos Mulai Juli 2026
Bintang laut berbaring tenang di dasar kolam. Kepiting kecil berlari menyamping di antara karang. Ikan-ikan hias berukuran ibu jari berenang dalam lingkaran kecil di kolam yang tidak lebih besar dari ember. Rumput laut hijau menutupi permukaan karang seperti karpet yang belum pernah dipijak orang dewasa.
Bagi anak-anak yang terbiasa mengenal biota laut hanya dari buku pelajaran atau layar akuarium, pengalaman berjalan kaki di antara kolam karang Minajaya adalah pelajaran biologi yang paling langsung dan paling tidak terlupakan yang pernah mereka jalani.
Sore hari, ketika air mulai pasang kembali dan matahari mulai turun, sunset di Pantai Minajaya menutup hari dengan cara yang sempurna, warna jingga yang terpantul di permukaan kolam-kolam karang yang masih tersisa menciptakan pemandangan yang tidak akan rela diabadikan hanya dalam satu foto.
Biaya masuk: gratis, atau terkadang hanya retribusi kebersihan swadaya masyarakat sekitar Rp5.000, uang yang rasanya justru ingin diberikan lebih.
Baca Juga: Jagad Pamungkas Persembahkan Emas, Harumkan SMA Kosgoro Bogor di Kejuaraan Taekwondo Nasional
Empat pantai ini menawarkan keasrian yang sesungguhnya, dan itu berarti fasilitasnya belum sekembang destinasi wisata komersial pada umumnya.
Bagi warga Bogor yang selama ini selalu mengira pantai bagus pasti mahal dan ramai, keempat tempat ini adalah bukti bahwa asumsi itu sudah lama perlu direvisi.***