RADAR BOGOR - Sedang mencari tempat wisata yang bernuansa pedesaan dengan sawah yang hijau dengan kedalam budaya luar biasa, kamu tidak perlu perbgi ke luar kota.
Pasalnya, semua itu secara harfiah ada di Kabupaten Bogor sendiri, dalam satu desa yang berhasil menembus 75 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Desa Wisata Purwabakti.
Berlokasi di Kecamatan Pamijahan, Bogor Barat, desa seluas 1.662 hektare ini berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, salah satu ekosistem hutan hujan tropis paling kaya di Jawa.
Baca Juga: Warga Bogor Harus Coba, Ini 4 Wisata Bernuansa Eropa di Jawa Barat
Berada di ketinggian antara 520 hingga 1.350 meter di atas permukaan laut, udaranya sejuk sepanjang hari, airnya mengalir murni dari mata air pegunungan, dan lanskapnya adalah hamparan hijau berbukit yang terasa terlalu indah untuk ada sedekat ini dari pusat Kota Bogor.
Dari Kota Bogor, perjalanan ke Purwabakti hanya membutuhkan waktu satu setengah hingga dua jam melalui jalur Ciampea menuju kawasan wisata Gunung Salak Endah.
Terasering Cisalada
Dari semua daya tarik yang dimiliki Desa Wisata Purwabakti, Terasering Cisalada adalah yang paling sering muncul di media sosial, dan setelah melihatnya langsung, sangat mudah dipahami mengapa.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Ungkap Fakta di Balik Program Barak Militer
Hamparan persawahan bertingkat yang membentang di lereng bukit itu tersusun dalam gradasi hijau yang berubah sesuai fase tanam, hijau muda saat padi baru ditanam, hijau tua saat masa pertumbuhan, dan keemasan saat panen tiba.
Komposisi visualnya terasering yang berundak teratur dengan latar perbukitan hijau dan langit terbuka di atasnya sangat mengingatkan pada foto-foto sawah Jatiluwih atau Tegallalang di Bali yang sering menjadi latar belakang konten perjalanan terpopuler.
Bedanya, ini ada di Bogor, tiket masuknya hanya Rp10.000, dan tidak perlu bersaing tempat parkir dengan bus-bus wisatawan internasional.
Baca Juga: Dilirik Banyak Klub Serie A, Federico Chiesa Pilih Bertahan di Liverpool
Pagi hari adalah waktu terbaik untuk datang. Kabut tipis yang masih menggantung di antara undakan sawah saat matahari baru naik memberikan dimensi dramatis yang tidak bisa dihadirkan oleh waktu kunjungan lainnya.
Bagi fotografer atau kreator konten, satu jam pertama setelah golden hour di Terasering Cisalada sudah lebih dari cukup untuk mengisi satu pekan konten dengan materi yang terlihat jauh melampaui jarak tempuh dua jam dari Bogor.
Riung Kawung dan Ngopepang
Setelah puas dengan hamparan sawah, kawasan Purwabakti menyimpan dua destinasi dalam satu kawasan yang karakternya berbeda namun sama memikatnya.
Baca Juga: Intip Saldo Bansos Non PKH-BPNT Cair di 4 Bank Himbara 29 Juni 2026
Yang pertama adalah Riung Kawung sebuah kawasan wisata alam berupa hutan bambu yang rindang dan tertata, dengan jalur trekking yang membelah deretan batang bambu tinggi yang saat angin berhembus menghasilkan suara gesekan ranting yang tenang dan ritmis.
Di dalam kawasan Riung Kawung, tersedia area bersantai dan beberapa spot foto dengan latar alam liar yang terbuka, jenis foto yang terlihat berat diproduksi namun sebenarnya hanya butuh cahaya alami yang masuk melalui celah kanopi bambu dan waktu yang tepat untuk memencet rana.
Trek berjalannya tidak berat dan tidak membutuhkan stamina yang berlebih, menjadikannya cocok untuk keluarga dengan anak-anak maupun rombongan yang lebih mengutamakan suasana daripada tantangan fisik.
Baca Juga: 5 Bansos yang Diperkirakan Cair Juli 2026, Ada PKH, BPNT hingga PIP
Tidak jauh dari sana, Ngopepang menawarkan dimensi wisata yang berbeda lagi, sebuah area sungai berbatu alami dengan air yang mengalir jernih langsung dari limpahan pegunungan Halimun.
Di sinilah anak-anak biasanya paling sulit diajak pulang bermain air di antara bebatuan sungai, merasakan arus dingin di kaki, dan menikmati kesegaran yang tidak bisa diberikan oleh kolam renang hotel manapun.
Tersedia pula aktivitas river tubing sederhana bagi yang ingin menghanyutkan diri mengikuti aliran sungai yang santai, sebuah versi ringan dari body rafting yang aman untuk semua usia.
Mina Padi, Madu Trigona, dan Gula Aren
Apa yang membedakan Desa Wisata Purwabakti dari destinasi alam biasa bukan sekedar pemandangannya, melainkan kedalaman pengalaman edukatif yang ditawarkan di balik setiap sudut kawasannya.
Baca Juga: Timnas Voli Indonesia Ukir Sejarah! Juara AVC Men’s Cup 2026 Usai Libas Korsel 3-0, Ranking Melonjak
Di sinilah konsep Community Based Tourism yang dikelola BUMDes Bhakti Kencana dan Pokdarwis Purwabakti benar-benar terasa berbeda.
Di kawasan Mina Padi dan Saung Purbaya, pengunjung bisa menyaksikan dan ikut serta dalam sistem budidaya ikan yang diintegrasikan langsung ke dalam lahan persawahan, sebuah praktik pertanian tradisional yang secara ilmiah terbukti menghasilkan ekosistem sawah yang lebih sehat tanpa ketergantungan pada pestisida kimia.
Setelah sesi edukasi, rombongan bisa duduk santai di saung-saung bambu tradisional yang berdiri di tengah sawah untuk menikmati makan siang nasi liwet khas Purwabakti, sajian yang paling terasa nikmat ketika sawah yang menghasilkan berasnya bisa dilihat langsung dari tikar tempat makan digelar.
Yang tidak boleh dilewatkan adalah kunjungan ke GEJ Madu peternakan lebah madu Trigona, atau lebah tanpa sengat, yang dikelola oleh kelompok tani lokal Purwabakti.
Baca Juga: Gubernur Dedi Mulyadi Siap jadi Anak Angkat Lansia
Di sini, pengunjung diajak masuk ke area peternakan, mempelajari cara lebah Trigona membangun sarang dan memproduksi madu dengan metode yang sama sekali berbeda dari lebah biasa, hingga bagian paling ditunggu-tunggu, mencicipi madu alami langsung dari sarangnya.
Madu Trigona memiliki rasa yang lebih asam dan encer dibandingkan madu konvensional, dengan kandungan antioksidan yang lebih tinggi, dan mencicipinya langsung dari sumber pertamanya adalah pengalaman yang tidak mudah dilupakan.
Rangkaian edukasi agro di Purwabakti dilengkapi dengan workshop kerajinan anyaman bambu bersama pengrajin lokal, menyaksikan proses penyadapan dan produksi gula aren tradisional dari pohon aren yang tumbuh di lereng-lereng bukit desa, hingga pengalaman memetik kopi lokal langsung dari pohonnya.
Untuk yang datang diwaktu yang tepat biasanya menjelang akhir tahun ada satu pengalaman budaya yang tidak bisa dipesan atau dijadwalkan sesuka hati, menyaksikan langsung Upacara Adat Seren Taun, pesta rakyat syukur panen yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Purwabakti dan menjadi salah satu ekspresi budaya agraris Sunda yang paling otentik yang masih hidup hingga hari ini.
Baca Juga: Timnas Voli Indonesia Ukir Sejarah! Juara AVC Men’s Cup 2026 Usai Libas Korsel 3-0, Ranking Melonjak
Dari Harga Tiket Rp10.000
Salah satu keunggulan Desa Wisata Purwabakti yang jarang dimiliki destinasi wisata berkualitas setara adalah aksesibilitasnya secara ekonomi.
Tiket masuk per spot hanya berkisar Rp10.000 per orang, berlaku untuk Terasering Cisalada, Riung Kawung, GEJ Madu, maupun Ngopepang menjadikannya salah satu destinasi dengan rasio nilai-per-rupiah terbaik di Jawa Barat.
Untuk pengalaman yang lebih lengkap dan terstruktur, tersedia Paket Wisata Edukasi Kelompok dengan harga antara Rp150.000 hingga Rp350.000 per orang, sudah termasuk pemandu lokal bersertifikat yang mendampingi seluruh aktivitas dari pagi hingga sore, makan siang nasi liwet di saung tengah sawah, materi edukasi bertani dan madu, serta suvenir khas desa.
Bagi yang lebih suka tidur di bawah bintang, tersedia pula area camping dan glamping di tepi sungai atau di atas bukit, di mana pemandangan yang menyambut saat tenda dibuka di pagi hari adalah panorama desa dan pegunungan yang masih tertutup kabut.
Baca Juga: Siap-siap, 6 Bansos Ini Cair Dirapel Mulai Juli 2026, Ada yang Baru?
Jalur Menuju Purwabakti dari Pusat Kota Bogor
Dari pusat Kota Bogor, Desa Wisata Purwabakti bisa dicapai dengan jarak sekitar 40 hingga 45 kilometer melalui rute ke arah Ciampea, dilanjutkan menuju kawasan Wisata Gunung Salak Endah hingga tiba di Jalan K.H. Abdul Hamid Km. 17, Kampung Purwabakti, Kecamatan Pamijahan.
Dengan kendaraan pribadi motor maupun mobil waktu tempuhnya berkisar antara satu setengah hingga dua jam, tergantung kondisi lalu lintas keluar kota di pagi hari.
Bagi warga Bogor, tempat ini bukan destinasi liburan yang perlu direncanakan berbulan-bulan. Ini adalah tempat yang bisa dikunjungi akhir pekan ini, dalam dua jam perjalanan, dengan biaya yang sangat terjangkau dan pulang dengan ingatan yang bertahan jauh lebih lama dari perjalanannya.***