
RADAR BOGOR - Penghasilan rutin, pekerjaan tetap, dan cicilan yang selalu terbayar sering dianggap sebagai tanda kehidupan finansial yang aman.
Namun, di balik kondisi yang tampak stabil itu, tidak sedikit orang yang justru menyimpan kecemasan ketika membayangkan masa depan.
Kenaikan harga kebutuhan pokok, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga biaya kesehatan yang datang tiba-tiba bisa mengubah rasa aman menjadi tekanan.
Baca Juga: PSI Kabupaten Bogor Bidik 8 Kursi di Pemilu 2029, Struktur Partai Hampir Rampung di 435 Desa
Situasi ini menunjukkan bahwa kemampuan memenuhi kebutuhan hari ini belum tentu menjamin ketahanan finansial untuk menghadapi hari esok.
Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto, menyoroti pola pikir keuangan yang membuat sebagian masyarakat kelas menengah rentan menghadapi perubahan ekonomi.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan besarnya penghasilan, tetapi juga cara seseorang memaknai keamanan finansial dan mengambil keputusan terkait uang.
Ketika Penghasilan Stabil Belum Menjamin Ketenangan
Bagi banyak keluarga kelas menengah, memiliki rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan penghasilan bulanan merupakan pencapaian yang patut disyukuri.
Namun, berbagai kewajiban yang menyertai pencapaian tersebut, dapat menjadi beban ketika sebagian besar pendapatan sudah dialokasikan untuk pengeluaran rutin.
Cicilan rumah, angsuran kendaraan, biaya pendidikan, kebutuhan rumah tangga, dan tuntutan sosial menyerap porsi penghasilan setiap bulan.
Akibatnya, ruang untuk menabung, membangun dana darurat, atau mengembangkan aset produktif menjadi terbatas.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




