RADAR BOGOR - Langkah Noor Rafita menggeluti dunia bisnis berbuah manis. Usaha Rafitas Cake di Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor yang dirintasnya kini semakin berkembang dan banyak dikenal.
Rafitas Cake mulai dirintis pada Februari 2014 silam. Tidak ada sama sekali dalam benak fikiran Rafita, bisa bergelut dalam dunia bisnis.
Apalagi perempuan itu awalnya sebagai seorang akademisi. Rafita sempat menjadi dosen di salah satu universitas negeri ternama di Indonesia.
Kesibukannya sebagai seorang akademisi membuat Rafita berfikir dua kali atas jalan hidup yang dipilihnya. Ia tidak punya banyak waktu mengurus anak di rumahnya.
“Anak-anak masih kecil, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke rumah, dan mencari bisnis yang bisa dikembangkan dari rumah,” ucapnya.
Rafita memanfaatkan hobi buat kuenya untuk mendapat pundi pundi rupiah. Hobi itu sudah ia lakoni sejak kecil, bahkan saat SMA ia juga sempat jualan kue pesta.
Baca Juga: Kartu ATM bank bjb Edisi PERSIB Hadir, Begini Cara Mendapatkannya Lewat DIGI
“Seiring berjalannya waktu, ternyata banyak yang suka sama kue kita. Dari situ kita diseriusin, masuk ke komunitas bisnis, hingga jadi binaan dinas,” terang Rafita.
Dalam komunitas itu Rafita merasa banyak dibimbing. Mulai dari legalitas usaha hingga mengurus sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia atau MUI.
Kue buatan Rafita punya cita rasa yang khas dan beda dari yang lain. Setiap kue yang dijual, dipastikan dalam keadaan hangat karena dibuat dadakan.
“Nilai utama kita pertama yaitu kualitas. Kita punya Unique Selling Porposition (USP) yaitu kue kota dibikin hangat dan dadakan atau custom cake,” ucapnya.
Rafita terus berinovasi dalam memproduksi kue. Baginya langkah itu jadi salah satu kunci sebuah bisnis bisa terus berkembang dan dinikmati masyarakat.
“Kita juga ngeluarin tren baru seperti Banjir Cake. Kalau yang best seller ada kue ulang tahun, Chiffon Cake, Roll Cake brownies dan aneka ragam snack box,” beber Rafita.
Meski sudah berkembang, bisnis kue rintisa Rafita tak pernah lepas dari sebuah tantangan. Hal yang palinh sering dihadapi yakni pengelolaan pegawai.
Pegawai Rafita mayoritas diisi oleh anak-anak generasi Z. Kondisi ini membuatnya harus memutar otak, dalam menuangkan ide agar bisa diterima dengan baik.
“Kalau Gen Z itu enggak boleh dikerasin. Dikerasin enggak boleh, dikasih tahu juga enggak bisa. Baru diingetin sedikit, besoknya udah keluar,” jelas Rafita.
Tak jarang, Rafita mendapat surat cinta yang ditulis panjang oleh para pegawai. Namun ia tetap berpegang teguh pada prinsip The Show Must Go On.
Baca Juga: Curiga Bau Menyengat dari Kontrakan di Ciseeng Bogor, Pria 65 Tahun Ditemukan Meninggal
“Justru saya bersyukur, dengan keluarnya mereka yang tidak bisa membersamai pertumbuhan bisnis, Allah gantikan dengan yang lebih baik,” ujar Rafita.
Keberhasilan Rafita dalam mengelola bisnis membuatnya banyak dipercaya untuk memberikan pendampingan kepada para pelaku UMKM.
Ia merasa terpanggil untuk memberikan ilmunya. Rafita tidak ingin sukses sendiri. Sementara masih banyak orang yang berjibaku mengembangkan bisnisnya.
“Banyak UMKM yang masih di kategori ultra mikro dengan omset 2 sampai Rp3 juta sebulan. Mereka berusaha betul-betul untuk survive buat makan,” terang Rafita.
Lewat gerakan sosial itu, Rafita menemukan sederet masalah yang membuat usaha lambat berkembang. Pertama yaitu literasi dan ilmu bisnis.
Misalnya cara menghitung laporan keuangan, atau HPP. Rafita banyak menemukan pebisnis yang produknya laku keras tapi uangnya habis.
Baca Juga: Bukan Cuma Gran Melia, 3 Hotel Mewah Ini Sempat Heboh Dikabarkan Dijual
Hal yang biasanya kerap ia sampaikan adalah perbaiki kulitas produk. Pelaku UMKM disebutnya haru punya unique selling, jangan jualan serba ada.
“Kalau fokus pada satu produk unggulan dan dikembangkan secara konsisten, itu akan membuat mereka lebih melaju,” pungkansya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin