RADAR BOGOR - Punya tabungan Rp100 juta, mungkin terdengar sulit bagi pekerja bergaji upah minimum regional (UMR).
Ketika sebagian besar penghasilan habis untuk kebutuhan sehari-hari, menyisihkan uang secara rutin saja bisa menjadi tantangan tersendiri.
Gaji masuk pada awal bulan, tetapi belum lama diterima, saldo rekening sudah berkurang untuk membayar biaya makan, transportasi, tempat tinggal, cicilan, hingga kebutuhan keluarga. Belum lagi pengeluaran tak terduga yang sering kali mengganggu rencana keuangan.
Baca Juga: Paling Banyak Dicari dan Diinginkan, Ini 4 Formasi CPNS Kuota Terbanyak
Situasi tersebut membuat target tabungan Rp100 juta terasa jauh dari jangkauan.
Namun, membangun tabungan bukan semata-mata persoalan besarnya gaji. Cara mengelola penghasilan, menentukan prioritas, dan meningkatkan pemasukan juga berperan penting.
Bagi pekerja dengan penghasilan terbatas, perjalanan menuju Rp100 juta memang tidak selalu mudah.
Target tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial, bukan dipaksakan melalui penghematan ekstrem yang justru mengorbankan kebutuhan pokok.
Praktisi keuangan sekaligus Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto mengatakan, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah membangun kebiasaan finansial secara bertahap, mulai dari mengendalikan pengeluaran hingga mencari sumber penghasilan tambahan.
1. Pangkas Pengeluaran yang Tidak Benar-Benar Dibutuhkan
Langkah pertama untuk mengumpulkan Rp100 juta adalah mengetahui ke mana uang selama ini pergi.
Pengeluaran besar seperti biaya tempat tinggal dan transportasi memang mudah dikenali.
Namun, pengeluaran kecil yang berulang juga dapat mengurangi kemampuan menabung, mulai dari pesan makanan melalui aplikasi, membeli kopi setiap hari, berlangganan layanan digital yang jarang digunakan, hingga belanja impulsif saat ada promosi.
"Bukan berarti seluruh pengeluaran untuk hiburan harus dihilangkan," ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu 28 Oktober 2026.
Hal terpenting adalah membedakan kebutuhan, keinginan, dan pengeluaran yang sebenarnya dapat dikurangi.
Pekerja dapat memulai dengan mencatat seluruh transaksi selama satu bulan.
Baca Juga: Persiapan 100 Persen, Drum Band Kota Bogor Optimistis Bawa Pulang 3 Emas Porprov 2026
Dari catatan tersebut, terlihat pos mana yang paling banyak menyerap penghasilan dan bagian mana yang masih bisa dihemat.
Membawa bekal dari rumah, memasak sendiri, membatasi belanja spontan, serta mengevaluasi langganan bulanan bisa menjadi langkah awal yang realistis.
Mengurangi pengeluaran juga bukan berarti harus hidup serba kekurangan.
"Kebutuhan makanan bergizi, kesehatan, transportasi untuk bekerja, dan kewajiban keluarga tetap perlu menjadi prioritas," kata Rizki.
Tujuannya, menciptakan ruang dalam anggaran agar sebagian penghasilan dapat dialihkan untuk membangun tabungan.
2. Sisihkan Uang Begitu Gaji Masuk
Kesalahan yang kerap terjadi dalam mengatur keuangan adalah menunggu uang tersisa sebelum menabung.
Padahal, jika seluruh penghasilan langsung digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan, uang yang tersisa pada akhir bulan bisa sangat sedikit, bahkan tidak ada.
Karena itu, menabung di awal bulan dapat menjadi strategi yang lebih terukur.
Begitu gaji diterima, pekerja bisa langsung memindahkan sejumlah uang ke rekening khusus tabungan.
Besarnya setoran perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Tidak semua orang mampu menyisihkan 20 atau 30 persen penghasilan, terutama jika harus membayar sewa tempat tinggal, menanggung keluarga, atau melunasi utang.
Jika kemampuan awal hanya Rp200.000 per bulan, jumlah tersebut tetap bisa menjadi permulaan.
Setelah pengeluaran lebih terkendali atau penghasilan meningkat, nominal tabungan dapat dinaikkan secara bertahap.
Memisahkan rekening tabungan dari rekening transaksi harian juga membantu mengurangi godaan menggunakan uang yang sebenarnya sudah dialokasikan untuk masa depan.
Meski demikian, dana untuk kebutuhan pokok dan kewajiban rutin tetap harus tersedia.
"Jangan sampai mengejar target tabungan justru membuat seseorang terlambat membayar tagihan atau terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," jelasnya kepada Radar Bogor.
3. Cari Penghasilan Tambahan di Luar Gaji Utama
Menghemat pengeluaran memiliki batas.
Ada kebutuhan yang tidak mungkin dihilangkan, sementara penghasilan belum tentu cukup untuk menutup seluruh biaya hidup sekaligus menabung dalam jumlah besar.
Dalam kondisi tersebut, menambah pemasukan bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal daripada terus memangkas kebutuhan penting.
Pekerja dapat mempertimbangkan pekerjaan sampingan sesuai keterampilan, waktu luang, dan peluang yang tersedia.
Misalnya, menjadi pekerja lepas, menawarkan jasa desain, mengajar les, membantu administrasi usaha, menjual makanan berdasarkan pesanan, atau mengambil pekerjaan tambahan pada akhir pekan.
Tidak semua pilihan cocok untuk setiap orang.
Pekerjaan sampingan perlu mempertimbangkan modal, biaya operasional, risiko kerugian, serta waktu istirahat agar tidak mengganggu pekerjaan utama dan kesehatan.
Sebelum menjalankan usaha, hitung terlebih dahulu keuntungan bersihnya.
Pendapatan tambahan yang terlihat besar belum tentu menghasilkan laba setelah dikurangi biaya bahan, transportasi, komisi platform, dan kebutuhan operasional lainnya.
Jika sudah menghasilkan keuntungan, sebagian atau seluruhnya dapat dialokasikan untuk mempercepat pencapaian target tabungan.
Dengan cara ini, penghasilan tambahan tidak otomatis berubah menjadi alasan untuk meningkatkan gaya hidup.
Uang tersebut justru menjadi salah satu sumber untuk memperkuat kondisi keuangan.
4. Hitung Target Rp100 Juta dengan Angka yang Realistis
Target keuangan yang besar akan lebih mudah dipahami jika dipecah menjadi sasaran bulanan.
Sebagai gambaran, apabila seseorang ingin mengumpulkan Rp100 juta dari nol tanpa memperhitungkan bunga atau hasil investasi, kebutuhan tabungannya adalah sebagai berikut.
Jika mampu menyisihkan Rp500.000 setiap bulan, target Rp100 juta membutuhkan waktu sekitar 200 bulan atau 16 tahun 8 bulan.
Jika jumlah tabungan meningkat menjadi Rp1 juta per bulan, waktu yang diperlukan menjadi sekitar 100 bulan atau 8 tahun 4 bulan.
Sementara itu, apabila seseorang mampu menyisihkan Rp2 juta per bulan, target tersebut dapat tercapai dalam 50 bulan atau sekitar 4 tahun 2 bulan.
Target akan lebih cepat tercapai jika jumlah tabungan meningkat.
Sebaliknya, penarikan uang untuk kebutuhan lain dapat memperpanjang waktu pencapaiannya.
Sebagai contoh lain, menyisihkan Rp2,5 juta per bulan secara konsisten akan menghasilkan Rp100 juta dalam 40 bulan atau 3 tahun 4 bulan.
Namun, angka tersebut merupakan simulasi matematis, bukan jaminan bahwa setiap pekerja bergaji UMR mampu menyisihkan Rp2,5 juta setiap bulan.
Kemampuan menabung sangat bergantung pada besarnya pendapatan, biaya hidup, tanggungan keluarga, dan kewajiban finansial.
Karena itu, target bulanan sebaiknya dibuat berdasarkan kondisi riil.
Lebih baik menabung dalam jumlah yang terjangkau secara konsisten daripada menetapkan angka terlalu tinggi, lalu terpaksa berhenti di tengah jalan.
5. Bangun Dana Darurat Sebelum Mengambil Risiko Besar
Mengumpulkan Rp100 juta memang dapat menjadi tujuan finansial jangka panjang.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan yakni kesiapan menghadapi keadaan darurat.
Kehilangan pekerjaan, kebutuhan pengobatan, kerusakan kendaraan, atau kondisi keluarga yang mendesak bisa mengganggu rencana menabung jika tidak ada dana cadangan.
Karena itu, pekerja yang belum memiliki simpanan sebaiknya mulai membangun dana darurat terlebih dahulu.
"Besarnya dana dapat disesuaikan dengan kebutuhan hidup dan jumlah tanggungan," papar Rizki.
Bagi seseorang yang memiliki penghasilan tidak tetap atau menjadi satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga, kebutuhan dana cadangan bisa berbeda dari pekerja yang memiliki dukungan finansial lain.
Dana darurat sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang relatif aman dan mudah dicairkan.
Uang untuk kebutuhan mendesak tidak ideal jika seluruhnya ditempatkan pada aset yang nilainya mudah berfluktuasi atau sulit dijual dalam waktu singkat.
Setelah dana cadangan mulai terbentuk, rencana menabung menuju Rp100 juta dapat dijalankan dengan lebih terarah.
Jika terjadi keadaan mendesak, pekerja tidak harus langsung mengandalkan pinjaman atau menghabiskan seluruh tabungan jangka panjang.
Mengubah Kebiasaan Lebih Penting daripada Mengejar Gengsi
Perjalanan menuju tabungan Rp100 juta bukan sekadar perlombaan mengumpulkan angka besar.
Proses tersebut juga berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan keuangan secara sadar.
Keinginan untuk mengikuti gaya hidup lingkungan sekitar dapat membuat pengeluaran meningkat tanpa diimbangi kemampuan finansial.
Barang baru, kebiasaan nongkrong, atau liburan mahal tidak selalu menjadi masalah, tetapi pengeluaran tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan.
Pekerja tidak harus menghindari semua bentuk hiburan atau merasa bersalah setiap kali menikmati hasil kerja.
Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara kebutuhan hari ini dan persiapan untuk masa depan.
Disiplin keuangan juga tidak berarti seseorang harus mengorbankan kesehatan, terus bekerja tanpa istirahat, atau menolak semua kebutuhan pribadi.
Strategi yang baik justru harus bisa dijalankan dalam jangka panjang tanpa menimbulkan masalah baru.
Jika penghasilan saat ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, langkah pertama bukan memaksakan tabungan dalam jumlah besar.
Baca Juga: Polisi Perketat Pengamanan di Bogor Jelang Demo Hari Sumpah Pemuda, Ini Titik Penjagaannya
Evaluasi anggaran, cari peluang meningkatkan keterampilan, dan pertimbangkan sumber pemasukan tambahan yang realistis.
Pada akhirnya, target Rp100 juta akan lebih mudah didekati ketika rencana keuangan dibuat berdasarkan angka yang nyata, bukan sekadar motivasi.
Mulailah dengan jumlah yang mampu disisihkan, evaluasi secara berkala, dan tingkatkan target ketika kondisi keuangan memungkinkan.
"Tidak ada jaminan prosesnya akan cepat, tetapi kebiasaan yang konsisten dapat membantu membangun fondasi finansial yang lebih kuat," pungkas Rizki. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti