RADAR BOGOR – Penguatan kualitas keluarga menjadi salah satu fokus dalam pelaksanaan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana).
Program tersebut terus disosialisasikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan membangun keluarga yang sehat, mandiri, serta sejahtera.
Upaya tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Provinsi Jawa Barat yang berlangsung pada 19 September 2026.
Kegiatan tersebut digelar di DPD PKS Kabupaten Bogor, Jalan Tegar Beriman-Pemda Cibinong, Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor.
Sosialisasi melibatkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) bersama DPR RI.
Sejumlah narasumber turut memberikan pemaparan dalam kegiatan tersebut. Mereka di antaranya Anggota Komisi IX DPR RI drh. H. Achmad Ru'yat, M.Si, Plt.
Baca Juga: Bansos Belum Terdata? Ini Cara Mengajukan Diri Secara Mandiri
Direktur Bina Institusi Masyarakat Pedesaan/Perkotaan Siti Jamilah, S.KM. M.H, Pranata Humas Ahli Muda Roy Primera, S.Ikom, serta Penyuluh KB Ahli Muda Khairunnas.
Bangga Kencana Tak Sekadar Pengendalian Penduduk
Dalam sambutannya, drh. H. Achmad Ru'yat, M.Si menjelaskan bahwa ruang lingkup Program Bangga Kencana jauh lebih luas dibandingkan sekadar persoalan pengendalian jumlah penduduk.
Menurutnya, program tersebut juga berkaitan erat dengan pembangunan keluarga berkualitas, peningkatan kesehatan keluarga, penguatan ketahanan keluarga, hingga upaya mempersiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing.
Program Bangga Kencana bukan hanya berbicara mengenai pengendalian penduduk semata, namun lebih luas lagi mengenai pembangunan keluarga yang berkualitas, peningkatan kesehatan keluarga, pembinaan ketahanan keluarga.
"Serta upaya menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” ujar Achmad Ru'yat.
Ia menyampaikan, keluarga memiliki posisi penting sebagai fondasi pembangunan bangsa.
Keluarga yang memiliki ketahanan kuat dinilai dapat menjadi tempat tumbuhnya sumber daya manusia yang berkualitas.
Atas dasar itu, menurut Achmad Ru'yat, pelaksanaan berbagai program membutuhkan sinergi dari banyak pihak.
Pemerintah, BKKBN, mitra kerja, tokoh masyarakat, akademisi, hingga masyarakat secara luas memiliki peran dalam memastikan program dapat memberikan dampak nyata.
Ia juga menyinggung berbagai tantangan pembangunan yang saat ini dihadapi masyarakat.
Baca Juga: Muncul Status SI di SIKS-NG, Cek dan Cairkan Saldo Bansos Tahap 3
Persoalan kesehatan reproduksi, stunting, ketahanan keluarga, serta peningkatan kualitas generasi muda menjadi sejumlah hal yang perlu mendapatkan perhatian.
“Untuk itu dibutuhkan langkah bersama yang terintegrasi, kolaboratif, dan berkelanjutan,” katanya.
Achmad Ru'yat berharap kegiatan sosialisasi Program Bangga Kencana tersebut dapat menjadi ruang untuk menghimpun masukan dan gagasan sekaligus merumuskan berbagai langkah strategis.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat penerapan Program Bangga Kencana sehingga pelaksanaannya semakin efektif dan dapat menyentuh masyarakat secara tepat sasaran.
“Kepada seluruh peserta, saya juga mengajak agar mengikuti kegiatan ini dengan baik, aktif berdiskusi, dan memanfaatkan kesempatan ini sebagai sarana bertukar pengalaman serta memperluas wawasan demi kemajuan bersama,” tutur Achmad Ru'yat.
Mengenal Konsep 4T dalam Kesehatan Ibu dan Anak
Sementara itu, Plt. Direktur Bina Institusi Masyarakat Pedesaan/Perkotaan Kemendukbangga/BKKBN, Siti Jamilah, S.KM., M.H memaparkan tugas dan peran Kemendukbangga/BKKBN dalam bidang kependudukan dan pembangunan keluarga.
Ia menjelaskan, Kemendukbangga/BKKBN memiliki tugas membantu Presiden dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang kependudukan dan pembangunan keluarga.
Di dalamnya termasuk pengendalian penduduk serta penyelenggaraan program keluarga berencana.
Dalam pemaparannya, Siti Jamilah turut menjelaskan konsep 4T yang menjadi salah satu perhatian dalam upaya menjaga kesehatan ibu dan anak.
Konsep tersebut terdiri dari terlalu muda, terlalu tua, terlalu rapat, dan terlalu banyak.
Baca Juga: Satlantas Polres Bogor Gelar Turnamen Bola Kasat Lantas Cup 2026, Meriahkan HUT ke-71 Polantas
“Terlalu Muda, yaitu ibu hamil yang usianya di bawah 20 tahun. Terlalu Tua, yaitu ibu hamil yang usianya di atas 35 tahun,” jelas Siti Jamilah.
Sementara itu, kategori terlalu rapat berkaitan dengan jarak kelahiran antara anak sebelumnya dengan kehamilan berikutnya yang kurang dari dua tahun.
Siti Jamilah menyebut istilah untuk kondisi tersebut dapat berbeda-beda di sejumlah daerah.
“Kalau di Jawa, istilahnya sundulan. Kalau di sini Kabupaten Kampar, istilahnya susul paku,” ujarnya.
Adapun kategori terlalu banyak merujuk pada kondisi ketika seorang ibu hamil telah memiliki lebih dari empat anak hidup.
Menurut Siti Jamilah, Program Bangga Kencana menjadi salah satu upaya strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas keluarga.
Cakupan program tersebut meliputi pembangunan keluarga, kependudukan, keluarga berencana, percepatan penurunan stunting, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Perkuat Ketahanan dan Kualitas Keluarga
Pranata Humas Ahli Muda, Roy Primera, S.Ikom, pada kesempatan yang sama menjelaskan sejumlah aspek yang menjadi perhatian dalam Program Bangga Kencana.
Beberapa di antaranya adalah peningkatan kualitas keluarga, penguatan pelayanan keluarga berencana, pencegahan stunting, pembinaan remaja dan generasi muda, serta pendampingan terhadap keluarga yang memiliki risiko stunting.
Roy juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan dalam mendukung pelaksanaan Program Bangga Kencana di lingkungan masing-masing.
Baca Juga: Bansos PKH BPNT Gagal Cair, 4 Penyebab Ini Perlu Diketahui KPM
“Mari bersama membangun keluarga sehat, menyiapkan generasi unggul, meningkatkan kesadaran perencanaan keluarga, menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing,” kata Roy.
Ia menjelaskan bahwa Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) merupakan program strategis nasional yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan ketahanan keluarga.
Dengan demikian, Program Bangga Kencana tidak hanya berkaitan dengan pengendalian penduduk.
Program tersebut juga memberikan perhatian terhadap pembangunan keluarga agar mampu menjadi keluarga yang sehat, mandiri, dan sejahtera.
Meski demikian, penerapan Program Bangga Kencana masih menghadapi berbagai tantangan di tengah perubahan masyarakat.
Tantangan tersebut antara lain perubahan pola sosial, belum meratanya pemahaman masyarakat, perkembangan teknologi dan informasi yang semakin cepat, serta kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran keluarga mengenai pentingnya perencanaan keluarga.
Sinergi BKKBN dan Mitra Kerja Terus Diperkuat
Penyuluh KB Ahli Muda, Khairunnas, menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyampaian informasi semata.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat hubungan dan sinergi antara BKKBN dengan para mitra kerja sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Program Bangga Kencana.
Melalui sosialisasi tersebut, diharapkan muncul komitmen bersama dari berbagai pihak untuk terus meningkatkan kualitas keluarga di Indonesia.
“Keberhasilan Program Bangga Kencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat,” ujar Khairunnas.
Baca Juga: Wanti-Wanti Pelaksanan Kamar Pajak di MA, Akademisi Unpak Bogor Ingatkan Hal Ini
Ia menambahkan, kolaborasi lintas pihak, komitmen yang konsisten, serta keterlibatan aktif masyarakat menjadi unsur penting dalam mendukung terwujudnya keluarga berkualitas.
“Dengan kolaborasi yang kuat, komitmen bersama, serta partisipasi aktif seluruh pihak, kita optimis dapat mewujudkan keluarga berkualitas sebagai pondasi menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (***)
Editor : Yosep Awaludin