Kr4batKompos SMKN 4 Bogor, Mesin IoT Ubah Sisa MBG Jadi Kompos

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 07:33 WIB
INOVASI: Proses pembuatan Kr4batKompos SMKN 4 Bogor.
INOVASI: Proses pembuatan Kr4batKompos SMKN 4 Bogor.

RADAR BOGOR - Tumpukan sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi tantangan baru bagi sejumlah sekolah. 

Jika tidak segera ditangani, sampah organik tersebut bukan hanya memenuhi tempat pembuangan, tetapi juga dapat menimbulkan aroma tidak sedap di lingkungan sekolah.

Berangkat dari persoalan tersebut, SMKN 4 Bogor menghadirkan sebuah inovasi bernama Kr4batKompos, mesin pengolah kompos kering berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk mengolah sisa makanan secara lebih cepat, praktis, dan higienis.

Inovasi yang dikembangkan oleh Ridwan Surya ini, memadukan sejumlah komponen otomatis dalam satu sistem. 

Baca Juga: Kawasaki KLX 150 XPL Explorer, Motor Karbu Bergaya Rally di Tengah Gempuran Motor Injeksi dan Listri

Tujuannya sederhana, yakni mengurangi volume sampah sisa makanan sekaligus mengubahnya menjadi material organik kering yang lebih mudah dimanfaatkan.

Sisa Makanan MBG Tak Lagi Menumpuk

Proses pengolahan Kr4batKompos, dimulai ketika sisa makanan dimasukkan ke dalam wadah berbahan stainless steel. 

Pada tahap ini, sistem penimbang menggunakan load cell secara otomatis membaca berat sampah yang masuk.

Setelah bobot terdeteksi, proses pengeringan mulai bekerja. 

Sebuah heating plate yang berada di bagian bawah wadah, menghasilkan panas untuk mengurangi kandungan air pada sampah organik.

Pengurangan kadar air menjadi bagian penting dalam proses tersebut. 

Sampah makanan yang masih banyak mengandung air cenderung lebih cepat membusuk dan menimbulkan bau. 

Karena itu, Kr4batKompos dirancang untuk mengeringkan material sebelum menghasilkan keluaran berupa serpihan organik.

Selama proses berlangsung, sensor suhu thermocouple MAX6675 memantau kondisi panas di dalam mesin. 

Sementara itu, blower fan membantu mengalirkan dan mengeluarkan uap lembap dari ruang pengolahan.

Baca Juga: Resep Ayam Asam Manis, Krispi di Luar Lembut di Dalam ala Restoran Chinese Food

Bukan hanya dikeringkan, sisa makanan juga dicacah menggunakan pisau penghancur yang digerakkan oleh motor JGY370. 

Proses pencacahan tersebut membuat material menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga lebih mudah ditangani setelah proses pengolahan selesai.

ESP32 Jadi Otak Kr4batKompos

Hal menarik dari mesin ini bukan hanya proses pengeringan dan pencacahannya. 

Kr4batKompos juga mengandalkan ESP32 sebagai pusat kendali berbagai komponen.

Mikrokontroler tersebut memungkinkan mesin terhubung dengan jaringan internet. 

Dengan sistem ini, pemantauan tidak harus dilakukan dengan terus-menerus berada di samping mesin.

Informasi seperti berat sampah, suhu selama proses pengolahan, hingga status mesin dapat dipantau secara real-time melalui perangkat seperti telepon seluler maupun laptop.

Konsep IoT tersebut membuat pengelolaan sampah di sekolah menjadi lebih praktis. 

Guru maupun warga sekolah dapat mengetahui kondisi mesin dari jarak jauh tanpa harus melakukan pemeriksaan secara manual setiap saat.

Dari Sampah Basah Menjadi Bahan Organik Kering

Setelah melalui rangkaian proses pengeringan dan pencacahan, sisa makanan yang sebelumnya basah dan mudah menimbulkan bau berubah menjadi serpihan organik kering.

Volume material pun menyusut sehingga lebih mudah ditangani dan disimpan. 

Kondisi yang lebih kering juga membuat hasil pengolahan relatif lebih higienis serta tidak mudah menimbulkan aroma seperti ketika sisa makanan dibiarkan menumpuk.

Hasil dari Kr4batKompos tidak berhenti sebagai sampah yang sudah dikurangi volumenya. 

Baca Juga: Mensos Gus Ipul: Data DTSEN Belum Sempurna, Masih Ada Error yang Terus Diperbaiki

Material organik kering tersebut masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali.

Warga sekolah dapat menggunakannya sebagai bahan organik untuk tanaman di lingkungan sekolah. 

Material tersebut juga dapat diproses lebih lanjut sebagai salah satu bahan campuran dalam pembuatan pupuk kompos.

Kr4batKompos dan Tantangan Pengelolaan Sampah Sekolah

Kehadiran Kr4batKompos menunjukkan bagaimana persoalan sampah makanan dapat menjadi ruang bagi lahirnya inovasi teknologi di lingkungan pendidikan.

Di tengah pelaksanaan Program MBG, keberadaan sistem pengelolaan sisa makanan menjadi semakin penting. 

Sampah yang muncul setiap hari membutuhkan penanganan agar tidak berakhir sebagai tumpukan yang mengganggu kebersihan dan kenyamanan sekolah.

Baca Juga: Penyebab Baru PKH dan BPNT Tidak Cair, Ternyata Bukan Game Online Terlarang Online atau PLN

Melalui Kr4batKompos, SMKN 4 Bogor mencoba menggabungkan teknologi pengolahan sampah dengan sistem IoT. 

Inovasi tersebut tidak hanya berfokus pada pengurangan volume sampah, tetapi juga membuka peluang agar sisa makanan dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung penghijauan di lingkungan sekolah.

Bagi Ridwan Surya dan tim SMKN 4 Bogor, mesin ini menjadi langkah untuk menjawab persoalan sederhana yang muncul di lingkungan sekolah dengan pendekatan teknologi yang lebih modern. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
Kr4batKompos bogor SMKN 4 Makan Bergizi Gratis Mbg