Menghidupkan Warisan sang Maestro Bersama Generasi Baru
Kota sering sibuk mencari sesuatu yang baru untuk membangun identitasnya.
Logo diperbarui, slogan diciptakan, dan festival diluncurkan.
Padahal, kekuatan sebuah kota terkadang justru tersembunyi dalam cerita lama yang belum berhasil dihidupkan.
Bogor lekat dengan hujan, Kebun Raya, Istana, kuliner, dan Gunung Salak.
Baca Juga: Swiss Cukup 5 Hari Kerja Buat Beli iPhone Duo, Indonesia Butuh Berapa Lama?
Namun, kota ini juga menyimpan jejak seorang pelukis besar Indonesia yang memperoleh pengakuan hingga Eropa yakni Raden Saleh Syarif Bustaman.
Raden Saleh memang tidak dilahirkan di Bogor.
Akan tetapi, Buitenzorg (nama Bogor pada masa kolonial) menjadi bagian penting dari perjalanan dan akhir kehidupannya.
Ia pernah berada di kawasan ini pada masa awal perkembangan bakatnya, kemudian kembali menetap hingga meninggal pada 23 April 1880 dan dimakamkan di Bondongan.
Sayangnya, kedekatan tersebut belum tumbuh kuat menjadi ingatan kolektif warga.
Makam Raden Saleh masih lebih banyak dipandang sebagai situs sejarah daripada pintu masuk untuk mengalami cerita besar Bogor.
Di situlah Raden Saleh menjadi signature kota yang terlupakan.
Selama hampir dua dekade di Eropa, ia belajar dan berkarya di lingkungan seniman serta bangsawan Belanda, Jerman, dan Prancis.
Raden Saleh menyerap tradisi Romantisisme Eropa, tetapi tetap menghadirkan suara dan sudut pandangnya sendiri.
Baca Juga: Bae Suzy dan Lee Jin Wook Adu Chemistry di Film Korea Terbaru, Tayang Desember 2026
Perjalanannya memperlihatkan bahwa menjadi global tidak harus berarti kehilangan akar budaya.
Pesan itu relevan bagi generasi muda Bogor yang tumbuh bersama media sosial, teknologi, budaya populer, dan ekonomi kreatif.
Mereka dapat melihat Seoul, Tokyo, London, atau New York melalui layar telepon.
Tantangannya bukan lagi memperoleh akses terhadap dunia, melainkan menemukan sesuatu yang khas dari Bogor untuk dibawa berdialog dengan dunia.
Raden Saleh seolah berpesan: belajarlah seluas mungkin, tetapi jangan kehilangan suara sendiri.
Makna tersebut terlihat dalam Penangkapan Pangeran Diponegoro yang diselesaikan pada 1857.
Berbeda dengan Nicolaas Pieneman yang menggambarkannya sebagai “penyerahan”, Raden Saleh menghadirkan peristiwa itu sebagai “penangkapan”.
Ia menunjukkan, makna sebuah peristiwa bergantung pada siapa yang menceritakannya.
Di tengah banjir informasi dan pertarungan narasi digital, generasi sekarang tidak cukup hanya pandai menciptakan konten.
Baca Juga: Baut Tap Oli Motor Sudah Dol dan Bocor Meski Dilem? Ini Solusi Permanennya
Mereka perlu mampu membaca sudut pandang, memahami kepentingan di balik narasi, dan berani menyampaikan perspektifnya sendiri.
Nilai itulah yang membuat Raden Saleh layak ditempatkan sebagai salah satu signature Bogor, melengkapi Kebun Raya dan identitas Kota Hujan dengan kreativitas, keberanian berpikir, dan kosmopolitanisme.
Mengubah Warisan Menjadi Pengalaman
Salzburg tidak hanya menyatakan diri sebagai kota kelahiran Mozart.
Rumah kelahiran, museum, gereja, konser, festival, pendidikan, kuliner, dan ruang publik dihubungkan menjadi pengalaman yang membuat Mozart terus hadir dalam kehidupan kota.
Málaga melakukan hal serupa melalui Pablo Picasso.
Rumah kelahiran, museum, kawasan bersejarah, galeri, dan distrik seni diorkestrasi untuk menghidupkan pusat kota sekaligus menumbuhkan ekonomi kreatif.
Kedua kota tersebut tidak sekadar memakai nama tokoh besar sebagai alat promosi.
Mereka membangun situs autentik sebagai jangkar, menghadirkan kalender kegiatan yang konsisten, melibatkan warga dan pelaku usaha, lalu menghubungkan semuanya dalam satu narasi kota.
Tokoh menjadi signature ketika warisannya terus dialami dan ditafsirkan kembali.
Film Mencuri Raden Saleh membuktikan, nama sang maestro masih mampu menjangkau generasi muda melalui bahasa populer.
Namun, perhatian itu perlu dihubungkan dengan pengalaman nyata di Bogor agar tidak berhenti sebagai tren sesaat.
Baca Juga: 3 Jenis Grease Motor Ini Beda Warna Beda Fungsi, Jangan Sampai Salah Pakai
Bogor dapat mengembangkan Raden Saleh Art Trail yang menghubungkan makam di Bondongan, kawasan Empang, lanskap kota, galeri, kampung kreatif, dan ruang seni kontemporer.
Pengunjung dapat mengikuti perjalanan interaktif, mendengarkan podcast, melihat interpretasi digital, menyaksikan pertunjukan, atau mengikuti lokakarya seni.
Festival Raden Saleh sebaiknya tidak berhenti pada seremoni.
Seniman muda, ilustrator, sineas, musisi, fotografer, kreator gim, dan desainer dapat menerjemahkan semangat sang maestro melalui medium masa kini.
Warisannya tidak membeku sebagai nostalgia, tetapi menjadi sumber penciptaan baru.
Sekolah juga dapat mengajak siswa membaca visual, mempertanyakan sudut pandang, membuat cerita digital, dan merancang pameran.
Raden Saleh kemudian hadir sebagai teman berpikir tentang identitas, kreativitas, dan keberanian bersuara.
Namun, teknologi dan festival saja tidak cukup.
Signature kota menjadi autentik ketika hidup dalam keseharian warga.
Baca Juga: Resep Pizza Mentai, Perpaduan Pizza Homemade dengan Saus Dynamite Mayo ala Jepang
Masyarakat Bondongan dan Empang dapat menjadi pemandu cerita, rumah warga menjadi ruang lokakarya, sedangkan kedai, hotel, transportasi lokal, dan UMKM ikut membangun pengalaman.
Warga bukan sekadar penonton, melainkan penjaga makna dan tuan rumah kota.
Bogor sebagai Orkestrator
Jejak Raden Saleh tersebar di Belanda, Jerman, Prancis, dan negara lainnya.
Karya, surat, serta dokumen kehidupannya tersimpan dalam museum, perpustakaan, arsip, dan koleksi privat.
Bogor tidak harus memiliki semuanya, tetapi perlu mampu menghubungkan pengetahuan global dengan pengalaman lokal.
Melalui Raden Saleh International Network, Bogor dapat mempertemukan komunitas lokal dengan peneliti, kurator, museum, diaspora Indonesia, dan pemerhati Raden Saleh di Eropa.
Kolaborasinya dapat berupa arsip digital, pameran, pertukaran seniman, dan produksi konten lintas negara.
Pemerintah kota perlu bertindak sebagai orkestrator, bukan pemain tunggal.
Warisan dipahami kembali, diterjemahkan menjadi pengalaman, dihidupkan oleh warga, lalu ditafsirkan ulang oleh generasi baru.
Jejaring internasional memperluas resonansinya, sedangkan ekonomi kreatif menjaga keberlanjutannya.
Baca Juga: Begini Cara Ganti Minyak Rem Motor ABS dan CBS di Rumah, Jangan Sampai Masuk Angin
Pada akhirnya, city branding bukan tentang seberapa sering nama Bogor dipromosikan, melainkan seberapa dalam maknanya dialami.
Raden Saleh pernah bergerak dari Bogor menuju Eropa.
Kini, warisannya dapat menggerakkan generasi baru untuk membawa cerita Bogor kembali ke dunia dengan bahasa mereka sendiri, tanpa kehilangan akarnya. (*)
Penulis : Agus Soehadi | Pengamat Branding, Universitas Prasetiya Mulya
====================
Tulisan ini merupakan hasil opini penulis yang tidak menggambarkan pandangan dari Redaksi Radar Bogor.
Editor : Siti Dewi Yanti