RADAR BOGOR - Tanah Kalimantan saksi pengabdian Syakira. Selama dua pekan, ia dipaksa akrab dengan sesuatu yang sebetulnya dibenci, yakni asap dan debu.
Sejak lahir, asap dan debu bukan hal yang bersahabat bagi Syakira. Menghirupnya sedikit saja, bisa membuat perempuan ini merasa pengap hingga bersin-bersin.
Syakira didiagnosis punya alergi asap. Pintu rumahnya, selalu ditutup rapat, saat melihat kepulan benda gas itu dari halaman tempat tinggalnya.
“Satu keluarga punya penyakit pengap. Kalau menghirup asap sedikit aja, bisa langsung bersin-bersin dan pengapnya kambuh,” kata Syakira pada Radar Bogor.
Riwayat penyakit itu ditutup rapat olehnya. Langkah ini terpaksa dilakukan, demi bisa berpartisipasi dalam gerakan kemanusiaan Srikandi Pemadam SalamAid.
Syakira menyadari prikaku itu tidak dibenarkan. Namun ia meyakini, dibalik bengisnya si Jago Merah, ada keajaiban yang menghampirinya.
Baca Juga: Bansos Beras Lanjut sampai Desember, PKH Validasi Mulai Cair
“Aku sengaja ga bilang ke tim medis, ini salah banget sebagai relawan harusnya beri tau secara detail penyakitnya. Tapi aku yakin, dengan niat pengabdian,” ujarnya.
Namun selayaknya kehidupan, niat baik tak serta merta berjalan mulus. Di perjalanan menuju Kalimantan, Syakira langsung dihadapi berbagi macam ujian.
Pesawat yang ditumpanginya sesekali mengalami turbulensi. Asap masuk ke dalam kabin. Kondisi itu membuat jantung Syakira berdebar.
Mulutnya tak pernah diam memanjatkan doa. Matanya terpejam. Jemarinya menggegam erat kain yang menyelimuti kursi pesawat.
“Kaget banget, ada turubulen, meski ga besar tapi sering banget, berapa menit sekali, terus bau asap, kaya asap benda kebakar aja gitu,” terang Syakira.
Suara hatinya terus bertereak. Bukan minta untuk pulang. Syakira hanya ingin mendarat dalam keadaan selamat, dan melanjutkan niat pengabdiannya.
Tak berselang lama, dentuman didanya berhenti. Ia akhirnya tiba di Bandara. Namun pandangannya terkejut. Asap betul-betul menyelimuti langit Kalimantan.
Kondisi tersebut tak menyulutkan niatnya. Bersama keempat rekannya, Syakira langsung mendatangi lokasi terdampak Karhutla Kalimantan.
“Dihari pertama kami tidak langsung ketitik kebakaran, tapi koordinasi dengan instansi terkait seperti misalnya BPBD disana,” terang Syakira.
Memasuki hari kedua, cerita pengadian baru dimulai. Amukan si Jago Merah yang biasanya dilihat via layar kaca, benar-benar tersaji di depan matanya.
Baca Juga: Swiss Cukup 5 Hari Kerja Buat Beli iPhone Duo, Indonesia Butuh Berapa Lama?
Kepulan asap membumbung begitu tinggi. Api tidak merembet, tapi ditemukan dibanyak titik, dengan jarak sekira 30 hingga 50 meter.
Saban hari Syakira belusukan ke dalam hutan. Selang pemadam tak pernah lepas dari genggamannya. Alat itu seolah sudah bersahabat dengannya.
Kakinya berdiri tegap di tengah kepulan asap. Syakira seolah lupa bahwa ia sedang berhadapan dengan hal yang benar-benar dibencinya.
Suasana di Kalimantan begitu mencekam. Kondisi diperparah dengan musim kemarau. Hal itu membuat tim kesulitan mendapatkan sumber air.
“Kendalanya di titik air, musim kemarau, lahannya gambut, airnya susah, dan kami sempat dapat air di parit,” ujar Syakira saat menceritakan pengalamannya.
Air tersebut memberi sedikit harapan. Ia kemudian langsung menyambungkan dengan selang yang sudah lama digenggamnya.
Namun ternyata, parit itu bukan sumber air bersih. Itu merupakan kumpulan dari kotoran peternakan babi yang berada percis di atasnya.
“Dan ternyata di atas parit itu ada kandang babi, jadi ternyata itu adalah air kotoran babi, jadi kami menyiram api pakai air bekas kotoran babi,” ucapnya.
Senyuman manis warga Kalimantan, membuat semangatnya tak pernah padam. Mereka disebut Syakira sudah akrab dengan kepulan asap itu.
“Pas ditanya kaya uda biasa aja, bahkan kata mereka setiap tahun juga begitu, ada beberapa yang memang sudah ga pakai masker,” terang Syakira.
Baca Juga: Bae Suzy dan Lee Jin Wook Adu Chemistry di Film Korea Terbaru, Tayang Desember 2026
Kebiasaan tersebut tidak bisa dibenarkan. Syakira berpandangan kondisi tersebut akan mengancam banyak warga di Kalimantan.
Namun apalah daya, Syakira hanya seorang relawan. Perempuan itu tidak bisa mengambil bangak tindakan, atau bahkan kebijakan.
Hingga pada satu waktu ia haris mengakhiri pengabdiannya. Namun di perjalanan pulang ia cukup terheran-heran dengan kondisi kesehatannya.
“Aku baru bener-bener sadar, selama di Kalimantan aku ga pernah merasa pengap, padahal asap, jangankan di luar rumah, di dalam aja sudah tebal,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin