
RADAR BOGOR - Mengoleksi stamp atau cap mulai menjadi aktivitas yang digemari sejumlah anak muda di Bogor. Stamp yang didapat dari berbagai tempat menjadi bagian dari catatan perjalanan dan kenangan bagi para pemburunya.
Aktivitas ini dikenal dengan istilah stamp hunting. Para pemburu stamp mendatangi tempat tertentu untuk mendapatkan cap dengan desain khas yang tidak selalu bisa ditemukan di lokasi lain.
Stamp hunting juga mulai hadir di sejumlah tempat di Kota Bogor. Mulai dari kafe, museum, hingga lokasi yang menjadi bagian dari kegiatan atau event tertentu.
Salah satu kafe yang mengikuti tren tersebut adalah Uncle Jo. Kafe ini menyediakan stamp dengan desain berbeda di sejumlah outletnya.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Penyakit Ain, Ini Bahaya dan Doa Penangkalnya
Owner Uncle Jo, Yohanes Handoyo mengatakan, ide menyediakan stamp tersebut muncul setelah dirinya melihat budaya mengumpulkan stamp saat berada di Jepang pada 2025.
"Awalnya, outlet-outlet Uncle Jo mulai kepikiran untuk menyediakan stamp. Ide itu berangkat dari Jepang. Di stasiun-stasiun Jepang ada budaya mengumpulkan stamp dari tempat yang dikunjungi," kata Yohanes saat ditemui di Uncle Jo Kota Bogor, Jumat (18/9/2026).
Sepulang dari Jepang, Yohanes mulai menerapkan konsep tersebut di outlet Uncle Jo. Program Stamp Rally 2026 mulai diterapkan pada Januari 2026.
Menurutnya, konsep stamp yang diterapkan Uncle Jo berbeda dengan program loyalitas yang memberikan hadiah setelah pelanggan melakukan sejumlah transaksi.
Stamp tersebut dibuat sebagai penanda tempat yang pernah dikunjungi. Karena itu, setiap outlet memiliki desain stamp yang berbeda sesuai karakter lokasi masing-masing.
"Konsep stamp di Uncle Jo adalah meninggalkan jejak. Filosofi stamp hunting di Jepang adalah seseorang mengunjungi suatu tempat lalu meninggalkan jejak," ujarnya.
Desain stamp juga menyesuaikan karakter bangunan dan lingkungan sekitar outlet. Ada stamp dengan unsur kereta api untuk outlet yang berada dekat stasiun. Ada pula desain bertema kucing hingga unsur lingkungan sekitar seperti hutan bambu.
Untuk saat ini, setiap outlet memiliki satu stamp. Sementara outlet pusat memiliki dua stamp.
Pengunjung tidak diwajibkan melakukan pembelian untuk mendapatkan stamp. Namun, Yohanes mengatakan, sebagian besar pemburu stamp tetap membeli makanan atau minuman ketika berkunjung.
Respons dari para stamp hunter juga mulai terlihat. Menurut Yohanes, pemburu stamp tidak hanya berasal dari Bogor dan sekitarnya.
"Di komunitas Stamp Hunter Indonesia ada dari Tangerang, Jabodetabek, Bandung, BSD, Tegal, Semarang. Mereka bahkan bisa janjian," katanya.
Sejumlah pemburu bahkan rela datang dari luar kota untuk mencari stamp tertentu. Bagi mereka, setiap stamp menjadi bagian dari koleksi sekaligus penanda perjalanan.
Yohanes sendiri mengaku mengoleksi stamp bersama istri dan anaknya. Bagi keluarganya, kegiatan tersebut menjadi cara untuk menyimpan cerita dari berbagai perjalanan.
"Kalau kami alasannya adalah mengumpulkan cerita. Ketika lagi santai buka-buka map, kita sudah sampai mana saja. Ada kepuasan tersendiri ketika lihat stamp lalu berpikir, saya pernah ke sini," tuturnya.
Konsep serupa juga diterapkan Uncle Jo di Pasar Jambu Dua. Namun, di lokasi tersebut, stamp hunting dikembangkan untuk membantu mengenalkan UMKM yang berada di kawasan tersebut.
Yohanes membuat map khusus yang berisi 26 tenant UMKM pada Season 1. Map tersebut menjadi panduan bagi pengunjung untuk mengetahui tenant yang bisa dikunjungi sekaligus mengumpulkan stamp.
Map itu juga dilengkapi ruang untuk menempatkan koleksi stamp. Pengunjung dapat mendatangi tenant, membeli produk, kemudian mendapatkan stamp untuk dikumpulkan.
Program tersebut akan dikembangkan melalui Season 2. Menurut Yohanes, sekitar 40 UMKM akan dilibatkan dalam pengembangan berikutnya sehingga total UMKM yang terlibat mencapai sekitar 60 tenant.
"Kalau untuk mendukung para UMKM di Bogor, khususnya di Pasar Jambu, kita bikin Season 2. Sekarang melibatkan 40-an UMKM, jadi totalnya ada 60-an yang terlibat," jelasnya.
Selain berburu stamp, Uncle Jo juga mulai membuat kegiatan komunitas seperti scrapbooking. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para penggemar untuk mengolah koleksi stamp dan berbagai catatan perjalanan ke dalam jurnal.
Yohanes sendiri mulai menekuni journaling bersama keluarga sejak 2025. Selain stamp, ia memasukkan berbagai benda dari perjalanan seperti struk dan tiket ke dalam jurnal.
Kegiatan berburu stamp juga dilakukan ketika keluarganya bepergian. Mereka pernah mengunjungi sejumlah tempat seperti Jakarta, Semarang, hingga Bangkok Thailand.
"Namun, kami tidak bepergian khusus untuk berburu stamp. Kami biasanya sekalian liburan. Ketika datang ke suatu tempat atau coffee shop, kami kemudian bertanya apakah mereka menyediakan stamp," pungkasnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati