6 Bandara Alternatif Disiapkan Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Jaga Konektivitas Penerbangan

Eka Rahmawati • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 16:39 WIB
Ilustrasi: Pemerintah menyiapkan alternatif bandara demi menjaga konektivitas penerbangan imbas abu vulkanik. (Dok. Bakom RI)
Ilustrasi: Pemerintah menyiapkan alternatif bandara demi menjaga konektivitas penerbangan imbas abu vulkanik. (Dok. Bakom RI)

RADAR BOGOR  — Pemerintah menyiapkan enam bandar udara (bandara) alternatif untuk menjaga kelancaran konektivitas transportasi udara di tengah penutupan sejumlah bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Banten. Pemanfaatan bandara alternatif tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi operasional penerbangan.

Enam bandara yang disiapkan terdiri atas Bandara Juanda di Jawa Timur, Bandara Adi Soemarmo di Jawa Tengah, Bandara Internasional Yogyakarta dan Bandara Adisutjipto di Daerah Istimewa Yogyakarta, Bandara Jenderal Ahmad Yani di Jawa Tengah, serta Bandar Udara Internasional Kertajati di Jawa Barat.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan bahwa pemerintah mendorong maskapai untuk mempertimbangkan penggunaan bandara-bandara alternatif tersebut.

"Kami mendorong agar maskapai dapat menggunakan bandara tersebut untuk menghindari penumpukan penumpang, baik yang akan datang maupun yang akan terbang," ujar Dudy saat memantau Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin, 7 September 2026 sebagaimana siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.

Baca Juga: Pelayanan Jemaah Jadi Prioritas, Penyelenggara Haji dan Umrah di Bogor Diminta Utamakan Keselamatan

Menurutnya, langkah ini diharapkan dapat mencegah terjadinya penumpukan penumpang, baik bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan maupun penumpang yang baru tiba, sehingga pengaturan arus penumpang dapat berjalan lebih optimal.

Pernyataan tersebut disampaikan Dudy saat melakukan peninjauan langsung di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Senin, 7 September 2026.

Pelaksanaan pengalihan penerbangan ke bandara alternatif tetap bergantung pada sejumlah faktor, termasuk kondisi operasional, kesiapan fasilitas bandara, ketersediaan rute, serta kebijakan masing-masing maskapai.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus menjalin koordinasi dengan pengelola bandar udara, AirNav Indonesia, maskapai penerbangan, dan instansi terkait. Koordinasi tersebut dilakukan agar setiap penyesuaian operasional dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan.

Masyarakat yang memiliki rencana melakukan perjalanan udara diminta untuk terlebih dahulu memastikan status penerbangannya kepada maskapai sebelum berangkat menuju bandara. Sementara itu, penumpang yang terkena dampak penutupan bandara diharapkan mengikuti ketentuan dan arahan maskapai terkait perubahan jadwal maupun pengalihan penerbangan.

Menteri Perhubungan juga mengapresiasi masyarakat yang dinilai telah mematuhi ketentuan dan mengikuti arahan selama berlangsungnya gangguan operasional penerbangan. Menurutnya, sikap tertib dan kepatuhan masyarakat memberikan dukungan penting terhadap penanganan situasi, terutama dalam menjaga aspek keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan.

Kemenhub meminta masyarakat untuk terus mengikuti informasi terkini melalui saluran resmi Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, serta kanal informasi resmi dari masing-masing maskapai.

Status operasional bandar udara dapat berubah sewaktu-waktu karena bergantung pada perkembangan sebaran abu vulkanik dan hasil evaluasi terhadap kondisi keselamatan penerbangan.

Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap situasi penerbangan. Informasi mengenai perkembangan kondisi akan diperbarui sesuai situasi terbaru dengan tetap menempatkan keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama serta menjaga konektivitas transportasi udara bagi masyarakat.

Sejumlah Bandara Masih Terdampak Sebaran Abu Vulkanik

Hingga Senin pagi, 7 September 2026, gangguan operasional akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih dirasakan oleh sejumlah bandara di Pulau Jawa dan Sumatera.

Berdasarkan pembaruan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah memutuskan untuk melanjutkan penghentian sementara operasional sejumlah bandara hingga pukul 18.00 WIB.

Menteri Perhubungan menjelaskan bahwa pengaturan operasional penerbangan terus disesuaikan secara dinamis berdasarkan kondisi terkini di lapangan dan perubahan arah maupun sebaran material vulkanik.

Bandara yang masih dijadwalkan menghentikan operasional hingga pukul 18.00 waktu setempat meliputi Bandara Soekarno-Hatta di Banten, Bandara Radin Inten II di Lampung, Bandara Budiarto di Banten, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Pondok Cabe di Banten, Bandara Muhammad Taufiq Kiemas di Lampung, serta Bandara Husein Sastranegara di Jawa Barat.

Sementara itu, Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan, yang sebelumnya turut mengalami penutupan sementara, telah kembali melayani penerbangan secara normal sejak pukul 09.00 WIB pada Senin, 7 September 2026.

Berdasarkan pemantauan BMKG pada Senin pagi, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terdeteksi pada dua lapisan ketinggian, yaitu hingga 15.000 kaki dan hingga 50.000 kaki. Kondisi tersebut masih berpotensi memengaruhi jalur penerbangan sehingga penyesuaian terhadap operasional bandara dan penerbangan terus dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan sebaran abu serta informasi keselamatan terbaru.

Ribuan Penerbangan dan Ratusan Ribu Penumpang Terdampak

Gangguan akibat material vulkanik Gunung Anak Krakatau juga berdampak besar terhadap aktivitas penerbangan. Sejak 5 September 2026, sekitar 2.300 penerbangan dengan total 270.337 penumpang tercatat terkena dampak operasional.

Data tersebut mencakup penerbangan yang mengalami pembatalan, keterlambatan, maupun pengalihan rute akibat penyesuaian kondisi penerbangan.

Pada sejumlah bandara yang ditutup sementara, tercatat sebanyak 1.397 penerbangan dengan sekitar 177.579 penumpang terdampak. Sementara itu, penyesuaian rute dan operasional di bandara lain turut memengaruhi 922 penerbangan dengan jumlah penumpang sekitar 92.758 orang.

Kemenhub terus berkoordinasi dengan maskapai dan pengelola bandara untuk menangani dampak gangguan terhadap para penumpang serta memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap diberikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Menteri Perhubungan menambahkan bahwa apabila kondisi telah memungkinkan dan bandara kembali dibuka, proses persiapan operasional akan segera dilakukan sebelum penerbangan dapat kembali berjalan secara normal.

Sejumlah tahapan penanganan diperlukan setelah pembukaan bandara, termasuk memastikan seluruh fasilitas operasional berada dalam kondisi siap digunakan. Pemerintah juga berharap masyarakat dapat bersabar selama proses persiapan tersebut berlangsung.

Menurut Dudy, ketika kondisi keselamatan telah memungkinkan untuk membuka kembali bandara, pihak terkait akan melakukan sejumlah langkah, termasuk membersihkan landasan pacu, taxiway, dan apron. Persiapan tersebut diperlukan agar fasilitas bandara benar-benar siap digunakan kembali ketika situasi penerbangan dinyatakan aman untuk beroperasi.

"Kami akan melakukan upaya-upaya seperti pembersihan runway, taxi way, maupun apron, hal ini agar apabila pada waktunya situasi sudah memungkinkan, bandara siap dioperasikan," pungkas Dudy.

Editor : Eka Rahmawati
anak krakatau penerbangan bandara