RADAR BOGOR - Apakah kamu sering merasa canggung saat harus berbicara di depan orang baru?
Atau mungkin kamu lebih memilih menghabiskan akhir pekan di rumah sendirian?
Di tengah masyarakat, istilah introvert, pemalu, dan social anxiety sering kali dianggap sebagai satu hal yang sama.
Baca Juga: Mie Ayam Karet Misno Kemayoran: Kenyal, Gurih, Mulai Rp15 Ribu
Padahal, secara psikologi ketiganya memiliki arti yang sangat berbeda.
Dirangkum dari kanal YouTube Satu Persen-Indonesian Life School, mari kita pahami perbedaan mendasar ketiga istilah ini serta cara praktis untuk meredakan rasa malu yang berlebihan.
Introvert (Dimensi Kepribadian)
Menjadi introvert adalah tentang cara seseorang mengunduh atau mengisi ulang energi (recharging energy).
Baca Juga: Seblak Princess Pamulang: Seblak Prasmanan 50 Lebih Topping Murah
Orang introvert mengisi ulang energi mentalnya dengan menyendiri atau berada di suasana yang tenang.
Sebaliknya, orang ekstrovert mendapatkan energi saat berkumpul bersama banyak orang.
Pemalu (Kecenderungan Perilaku)
Pemalu adalah reaksi emosional berupa kecenderungan merasa canggung, tegang, atau khawatir dalam situasi sosial.
Kondisi ini biasanya dipicu oleh rasa takut akan penilaian negatif dari orang lain.
Baca Juga: Wisata Kuliner Bodeman Gabel Sarijaya Karawang: Jajan Murah
Gangguan Kecemasan Sosial/Social Anxiety Disorder (Kondisi Klinis)
Berbeda dari dua poin sebelumnya, social anxiety disorder adalah bentuk gangguan mental/klinis yang tingkat kecemasaannya sudah sangat parah hingga mengganggu fungsi hidup sehari-hari.
Kondisi ini wajib didiagnosis secara resmi oleh profesional (psikolog atau psikiater) dan tidak boleh dijadikan sekadar label mandiri (self-diagnosis).
Sebagai catatan penting, seorang introvert belum tentu pemalu, dan seorang yang pemalu belum tentu introvert. Bahkan ada orang ekstrovert yang sebenarnya pemalu.
Baca Juga: Caringin Riverside: Petik Sayur, Camping, dan Main Air
Kunci utamanya adalah mengenali diri sendiri tanpa memberi label yang salah. Rasa malu adalah hal yang wajar dan manusiawi.
Namun, dengan menurunkan ekspektasi dan berani melangkah keluar dari zona nyaman secara bertahap, kamu bisa membangun kepercayaan diri yang jauh lebih sehat.***
Editor : Robecca SesariaSumber : YouTube Satu Persen-Indonesian Life School