RADAR BOGOR - Denting musik dan gerakan energik menjadi cara One Step Dance (OCDC) tim dance SMAN 1 bercerita seputar Kota Bogor.
Dalam penampilannya di Honda DBL with Kopi Good Day West Java-West 2026, mereka membawa keseharian anak muda ke atas panggung.
Bukan sekadar gerakan tari, penampilan tahun ini mengangkat konsep “anak nongkrong Kota Bogor”. Empat hal yang lekat dengan kehidupan anak muda Bogor dirangkai menjadi satu pertunjukan.
Angkot menjadi salah satu elemen yang ditampilkan, kendaraan yang identik dengan Kota Hujan itu dipilih untuk menggambarkan transportasi yang masih dekat dengan keseharian anak muda.
Bogor memang dikenal sebagai kota seribu angkot, karena itu, OSDC menjadikan angkot sebagai bagian dari cerita yang ingin mereka sampaikan melalui penampilan tahun ini.
Baca Juga: Sengit, Smansa Tekuk SMA Dwiwarna di Honda DBL with Kopi Good Day 2026 West Java-West
Selain angkot, ada pula warung kopi atau warkop lokal, tempat sederhana yang biasa menjadi ruang berkumpul tersebut diangkat untuk menggambarkan kebiasaan anak muda menghabiskan waktu sambil bertukar cerita.
“Garis besarnya adalah anak nongkrong Kota Bogor, kita mengangkat empat hal, pertama angkot sebagai transportasi yang digunakan anak muda karena Bogor terkenal dengan kota seribu angkot,” ujar Captain DBL Dance SMAN 1 Bogor, Ardhanareswara Sajria.
Cerita kemudian berlanjut pada layar tancap. Hiburan rakyat yang pernah begitu lekat dengan masyarakat itu kembali dimunculkan dalam penampilan OSDC.
Layar tancap tersebut dibuat dengan nuansa dangdut lokal, sosok King Nassar dipilih sebagai tokoh yang mewakili musik dangdut masa kini sekaligus memperkuat karakter pertunjukan.
“Yang kedua kita mengambil konsep warkop lokal yang menggambarkan kebiasaan nongkrong sebagai tempat untuk anak muda bertukar cerita. Yang ketiga kita menunjukkan kembali layar tancap yang menayangkan dangdut lokal,” jelasnya.
Untuk mewujudkan konsep tersebut, OSDC menurunkan 10 dancer dalam satu tim. Mereka kemudian mempersiapkan penampilan selama kurang lebih satu bulan sebelum tampil di ajang DBL.
Waktu latihan yang relatif singkat itu dimanfaatkan untuk mematangkan gerakan sekaligus memastikan setiap unsur yang diangkat bisa tersampaikan di atas panggung.
Bagi OSDC, penampilan tersebut bukan hanya soal menunjukkan kemampuan menari. Mereka juga ingin menghadirkan gambaran sederhana tentang bagaimana anak muda menikmati Kota Bogor dengan caranya sendiri.
Dari angkot, warkop, hingga layar tancap dan dangdut lokal, semuanya dirangkai menjadi satu cerita. Sebuah potret kecil tentang kebiasaan nongkrong anak muda yang mereka bawa ke panggung Honda DBL (bay)
Editor : Eka Rahmawati