RADAR BOGOR – Pasar otomotif nasional, khususnya kendaraan bermesin diesel, tengah menghadapi tekanan dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu model yang terkena dampaknya adalah Toyota Kijang Innova diesel.
Toyota Kijang Innova diesel berkapasitas 2.494 cc tersebut mencatatkan penurunan penjualan yang cukup tajam sejak pertengahan 2026.
Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), performa penjualan Toyota Innova diesel menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan awal tahun.
Baca Juga: Perbedaan Gaji PNS dan PPPK 2026, Mana yang Lebih Besar? Cek Infonya
Pada lima bulan pertama 2026, pengiriman Innova diesel ke dealer masih berada di atas 1.000 unit per bulan, dengan angka tertinggi mencapai 2.198 unit pada Mei.
Penjualan sempat anjlok pada Maret menjadi 343 unit. Namun, kondisi tersebut disebut berkaitan dengan berkurangnya hari kerja akibat libur panjang dan perayaan Idul Fitri sehingga pasar kembali pulih setelahnya.
Memasuki pertengahan tahun, tren tersebut justru berbalik.
Tiga Bulan Penjualan Terus Merosot
Baca Juga: Nangka Cempedak Pak Kosim Jasinga, Wisata Kuliner Buah Legendaris dengan Harga Murah Mulai Rp10.000
Data wholesales menunjukkan pengiriman Innova diesel mulai menurun sejak Juni. Pada bulan tersebut, tercatat 667 unit dikirimkan.
Angka itu kembali turun menjadi 390 unit pada Juli. Kondisi semakin mengkhawatirkan pada Agustus karena pengiriman hanya mencapai 87 unit.
Angka tersebut menjadi salah satu titik terendah penjualan Innova diesel dalam beberapa waktu terakhir.
Penurunan tersebut bukan lagi sekadar dipengaruhi faktor musiman seperti libur panjang. Salah satu faktor yang menjadi sorotan adalah meningkatnya harga BBM diesel non-subsidi.
Harga BBM Diesel Melonjak
Baca Juga: Masa Kerja PNS dan PPPK Berbeda, Ini Dampaknya pada Penghasilan
Kenaikan harga bahan bakar disebut berkaitan dengan tekanan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pemerintah kemudian melakukan penyesuaian harga BBM diesel non-subsidi seperti Dexlite dan Pertadex sejak 18 April 2026.
Pada awal April, harga Dexlite tercatat Rp14.200 per liter, sedangkan Pertadex berada di angka Rp14.500 per liter.
Setelah penyesuaian pada 18 April, harga keduanya melonjak. Dexlite mencapai Rp23.600 per liter dan Pertadex Rp23.900 per liter.
Baca Juga: PNS dan PPPK 2026: Lima Komponen yang Harus Dihitung Sebelum Membandingkan Kesejahteraan
Tekanan terhadap konsumen kemudian berlanjut. Harga Dexlite tercatat naik menjadi Rp23.700 per liter, sementara Pertadex menembus Rp25.200 per liter.
Kenaikan harga yang signifikan tersebut membuat biaya operasional kendaraan diesel ikut meningkat.
Konsumen Mulai Berpikir Ulang
Menariknya, penjualan Innova diesel justru sempat mencapai rekor pada Mei, meski harga BBM diesel sudah tinggi.
Baca Juga: PNS vs PPPK 2026: Perbandingan Lengkap Gaji, Status Kerja, dan Jaminan Pensiun
Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh adanya kontrak pembelian dan pengiriman yang tertunda, sehingga dampak kenaikan biaya bahan bakar belum sepenuhnya tercermin pada angka penjualan saat itu.
Sebagian konsumen juga masih menganggap kenaikan harga BBM bersifat sementara. Efisiensi konsumsi bahan bakar yang menjadi salah satu keunggulan mesin diesel dinilai masih mampu mengimbangi kenaikan harga solar.
Namun, seiring waktu, biaya pengisian BBM yang semakin mahal mulai menjadi pertimbangan utama.
Baca Juga: 5 Ciri Penerima Bansos Digital 2027, Cek Data KPM Sekarang
Bagi pemilik baru, kenaikan biaya operasional harian membuat kendaraan diesel menjadi beban finansial yang perlu diperhitungkan lebih matang.
Masyarakat maupun pelaku bisnis akhirnya semakin selektif dalam memilih kendaraan bermesin diesel baru.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya harga BBM non-subsidi, tekanan biaya operasional tersebut turut tercermin dalam penjualan Toyota Kijang Innova diesel yang merosot tajam hingga hanya 87 unit pada Agustus 2026.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga