Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Menanti Nakhoda Baru: Wacana Pemilihan Rektor Unpak 2027-2031 Mulai Menghangat

Siti Dewi Yanti • Minggu, 5 Juli 2026 | 17:44 WIB
Dosen Universitas Pakuan, Dr. Andi Chairunnas, M. Kom., M. Pd
Dosen Universitas Pakuan, Dr. Andi Chairunnas, M. Kom., M. Pd

RADAR BOGOR - Dinamika akademik di Universitas Pakuan (UNPAK) Bogor mulai diwarnai wacana penting: pemilihan Rektor untuk periode 2027–2031.

Meskipun masa bakti kepemimpinan saat ini, Prof. Dr. rer. pol. Ir. H. Didik Notosudjono, M.Sc., masih berjalan hingga 2027, perbincangan mengenai arah kepemimpinan universitas ke depan sudah mulai bergulir di kalangan sivitas akademika, alumni, dan para pemangku kepentingan.

Wacana ini wajar dan sehat.

Dalam tradisi perguruan tinggi yang matang, suksesi kepemimpinan bukanlah peristiwa mendadak, melainkan proses yang dipersiapkan jauh-jauh hari dengan penuh kesadaran kelembagaan.

Baca Juga: Pondok Pesantren Tranformasi Ilmu Agama di Indonesia

Semakin dini gagasan tentang kriteria, visi, dan tantangan kepemimpinan dibicarakan secara terbuka, semakin berkualitas pula hasil yang akan diperoleh.

Suksesi sebagai Momentum Konsolidasi, Bukan Kontestasi Semata

Pemilihan rektor di lingkungan perguruan tinggi swasta seperti UNPAK berjalan dalam kerangka statuta universitas, dengan melibatkan Senat Universitas dan Yayasan Pakuan Siliwangi sebagai badan penyelenggara.

Mekanisme ini menempatkan proses suksesi bukan sebagai kontestasi politik ala pemilihan umum, melainkan sebagai proses seleksi kepemimpinan akademik yang mengedepankan integritas, rekam jejak, kompetensi manajerial, dan kemampuan membangun jejaring.

ustru di sinilah letak kekuatan wacana yang kini berkembang: sivitas akademika UNPAK diajak untuk tidak sekadar bertanya “siapa” yang akan memimpin, tetapi lebih dahulu merumuskan “kepemimpinan seperti apa” yang dibutuhkan Universitas Pakuan lima tahun ke depan.

Estafet di Tengah Capaian yang Harus Dijaga

Periode 2022–2027 mencatat sejumlah capaian penting bagi UNPAK, di antaranya status akreditasi institusi Unggul, penguatan riset dan inovasi, serta perluasan kerja sama nasional dan internasional.

Capaian-capaian ini merupakan modal berharga sekaligus tanggung jawab besar bagi siapa pun yang akan memegang estafet kepemimpinan berikutnya.

Rektor periode 2027–2031 tidak memulai dari nol.

Ia akan menerima warisan kelembagaan yang sudah kuat dan karena itu standar keberhasilannya pun lebih tinggi: bukan sekadar mempertahankan, melainkan melampaui.

Persoalan Klasik Yayasan di Perguruan Tinggi Swasta

Wacana suksesi rektor tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih besar: persoalan-persoalan yang saat ini dihadapi yayasan penyelenggara perguruan tinggi swasta di Indonesia.

Setidaknya ada beberapa persoalan klasik yang perlu menjadi perhatian bersama.

Pertama, kejelasan relasi kewenangan antara yayasan dan rektorat.

Baca Juga: Temui Para Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Kota Bogor, Ini Pesan Jenal Mutaqin

Di banyak PTS, tumpang tindih peran antara badan penyelenggara dan pengelola akademik kerap menjadi sumber gesekan yayasan yang terlalu jauh masuk ke ranah operasional akademik, atau sebaliknya rektorat yang bergerak tanpa koordinasi dengan yayasan.

Tata hubungan yang sehat menuntut pembagian peran yang tegas: yayasan pada ranah kebijakan strategis, pengawasan, dan penyediaan sumber daya; rektorat pada ranah pengelolaan akademik dan operasional.

Kedua, keberlanjutan finansial dan aset. Ketergantungan yang tinggi pada uang kuliah mahasiswa, di tengah tren penurunan jumlah pendaftar di banyak PTS, menempatkan yayasan pada tekanan finansial yang serius.

Pengelolaan aset yayasan yang transparan, akuntabel, dan produktif menjadi kunci agar perguruan tinggi tidak sekadar bertahan, tetapi mampu berinvestasi untuk masa depan.

Ketiga, regenerasi dan profesionalisasi kepengurusan.

Banyak yayasan pendidikan menghadapi persoalan regenerasi kepengurusan yang menua, pola pengelolaan kekeluargaan yang belum sepenuhnya bertransformasi menjadi tata kelola profesional, serta potensi konflik kepentingan yang harus dikelola dengan hati-hati.

Keempat, kepatuhan regulasi yang terus berubah. Dinamika regulasi pendidikan tinggi mulai dari ketentuan tentang badan penyelenggara, akreditasi, hingga standar nasional pendidikan tinggi menuntut yayasan dan rektorat untuk selalu adaptif dan taat asas.

Dalam konteks inilah pemilihan rektor 2027-2031 menemukan makna strategisnya: figur yang terpilih haruslah sosok yang mampu menjadi jembatan bukan sumber ketegangan antara yayasan, senat, dan seluruh sivitas akademika.

Tantangan Kepemimpinan Perguruan Tinggi ke Depan

Setidaknya ada lima tantangan besar yang akan dihadapi nakhoda baru Universitas Pakuan pada periode 2027–2031.
Pertama, transformasi digital dan kecerdasan artifisial.

Baca Juga: Musim Kemarau, Bupati Bogor Geber Normalisasi Saluran Air hingga Siapkan Pembangunan Jaringan Pipanisasi

Perguruan tinggi kini hidup di era ketika AI mengubah cara belajar, meneliti, dan mengelola institusi.

Rektor ke depan dituntut memiliki literasi teknologi yang kuat serta keberanian menjadikan UNPAK sebagai kampus yang adaptif terhadap disrupsi, bukan korban disrupsi.

Kedua, keberlanjutan finansial dan kemandirian.

Persaingan antar perguruan tinggi swasta semakin ketat, sementara demografi calon mahasiswa terus berubah. 

Diperlukan pemimpin dengan kapasitas kewirausahaan kelembagaan (institutional entrepreneurship) yang mampu mendiversifikasi sumber pendapatan melalui riset terapan, kemitraan industri, dan unit usaha akademik.

Ketiga, internasionalisasi yang substantif.

Kerja sama internasional tidak boleh berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi harus berbuah pada mobilitas dosen-mahasiswa, publikasi bereputasi, dan program gelar bersama.
Keempat, penguatan karakter dan kemahasiswaan.

Di tengah derasnya arus teknologi, universitas tetap harus menjadi rumah pembentukan karakter.

Pengembangan kemahasiswaan, soft skills, kepemimpinan, dan kewirausahaan mahasiswa harus menjadi arus utama, bukan pelengkap.

Kelima, tata kelola yang transparan dan meritokratis.

Kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi dibangun dari tata kelola yang akuntabel mulai dari rekrutmen SDM, pengelolaan anggaran, hingga pengambilan keputusan akademik.

Kriteria yang Sebaiknya Menjadi Konsensus Bersama

Dari wacana yang berkembang, setidaknya ada beberapa kriteria yang layak menjadi konsensus sivitas akademika dalam menilai calon pemimpin UNPAK ke depan: integritas dan keteladanan; rekam jejak akademik dan manajerial yang teruji; visi transformatif yang membumi dan terukur; kemampuan membangun jejaring dengan pemerintah, industri, dan komunitas internasional; serta kedekatan dengan mahasiswa dan kepedulian terhadap kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan.

Kriteria-kriteria ini penting dikedepankan agar proses pemilihan rektor tidak terjebak pada popularitas sesaat, melainkan berpijak pada kebutuhan objektif institusi.

Bukan Soal “Sapi Impor” atau “Sapi Lokal”

Dalam setiap suksesi kepemimpinan, hampir selalu muncul polarisasi klasik: calon dari dalam versus calon dari luar yang dalam bahasa sehari-hari kerap diistilahkan “sapi lokal” dan “sapi impor”.

Perdebatan semacam ini sesungguhnya menyesatkan dan mengerdilkan makna kepemimpinan itu sendiri.

Persoalannya bukan dari mana seorang pemimpin berasal, melainkan makna terkuat apa yang ia bawa sebagai seorang pemimpin: integritasnya, kapasitasnya, keteladanannya, dan ketulusannya mengabdi pada institusi.

Pemimpin dari dalam yang memahami denyut nadi kampus namun kehilangan visi pembaruan sama tidak idealnya dengan pemimpin dari luar yang membawa gagasan besar namun gagal memahami kultur dan budaya sejarah institusi.

Ukuran sejati seorang pemimpin bukanlah asal-usulnya, melainkan nilai yang dihidupinya dan jejak kebaikan yang ditinggalkannya.

Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh: Kompas Nilai Kepemimpinan

Universitas Pakuan berdiri di tanah Sunda, mewarisi nama besar Pakuan Pajajaran.

Maka sudah sepatutnya kompas nilai kepemimpinannya pun berakar pada kearifan lokal Sunda: silih asih, silih asah, silih asuh falsafah hidup masyarakat Sunda yang mengajarkan prinsip saling menyayangi (asih), saling mencerdaskan atau berbagi ilmu (asah), dan saling membimbing atau mengayomi (asuh) demi terciptanya kehidupan sosial yang harmonis, damai, dan sejahtera.

Silih asih menuntut pemimpin yang memimpin dengan kasih yang melihat dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa bukan sebagai angka dalam laporan, melainkan sebagai manusia yang kesejahteraan dan martabatnya harus dijaga.

Silih asah menuntut pemimpin yang mencerdaskan yang membangun budaya ilmiah, membuka ruang dialog, mendorong riset dan inovasi, serta rendah hati untuk terus belajar dan diajari.

Silih asuh menuntut pemimpin yang mengayomi  yang membimbing generasi penerus, menyiapkan kader kepemimpinan, dan melindungi institusi dari perpecahan.

Rektor Universitas Pakuan 2027–2031, siapa pun ia, seyogianya adalah pribadi yang menghidupi ketiga nilai ini.

Dengan silih asih, silih asah, silih asuh sebagai kompas, perbedaan pandangan dalam proses suksesi tidak akan berubah menjadi perpecahan, melainkan menjadi energi kolektif untuk kemajuan bersama.

Menjaga Marwah Proses

Yang tidak kalah penting, seluruh pihak Senat, Yayasan, pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga alumni  perlu menjaga marwah proses ini agar berlangsung bermartabat, sejuk, dan bebas dari politisasi yang tidak sehat.

Perbedaan pandangan tentang figur adalah hal biasa dalam demokrasi akademik; yang harus dijaga adalah kesatuan tentang tujuan: Universitas Pakuan yang semakin unggul, mandiri, dan berkarakter.

Wacana pemilihan Rektor UNPAK 2027–2031 pada akhirnya bukan sekadar soal pergantian orang di kursi pimpinan.

Ia adalah momentum refleksi kelembagaan: sejauh mana Universitas Pakuan telah melangkah, dan sejauh mana ia berani bermimpi untuk lima tahun berikutnya.

Bogor, Jawa Barat, dan Indonesia menanti kiprah kampus kebanggaan ini di bawah kepemimpinan yang akan datang siapa pun figurnya, sepanjang ia lahir dari proses yang jujur, bermartabat, dan berorientasi pada kemajuan bersama. (*) 

Penulis: Dr. Andi Chairunnas, M. Kom., M. Pd

Dosen Universitas Pakuan

Editor : Siti Dewi Yanti
#Andi Chairunnas #bogor #Universitas Pakuan #Unpak #rektor