RADAR BOGOR - Desa Wisata Hanjeli di Sukabumi bukan sekadar destinasi wisata alam biasa. Di sini, pengunjung diajak masuk ke dalam siklus utuh sebuah tanaman serealia purba, dari menanam di ladang, menumbuk dengan lesung, hingga menyantap nasi liwet hasil panen sendiri.
Ada tanaman hanjeli yang pernah tumbuh di hampir setiap pekarangan Nusantara, dipanen oleh nenek moyang kita selama berabad-abad, kaya gizi, tahan kekeringan, dan tidak membutuhkan pupuk kimia untuk tumbuh subur namun kini nyaris tidak dikenal lagi oleh generasi muda Indonesia.
Hanjeli atau dalam bahasa populernya jali-jali, dengan nama ilmiah Coix lacryma-jobi, sebuah serealia purba sejenis padi-padian yang bijinya keras mengilap seperti mutiara, kandungan seratnya jauh melampaui beras putih biasa, dan keberadaannya di ladang-ladang Indonesia semakin hari semakin langka.
Baca Juga: Gubernur KDM Ajak 'Aisyiyah Dampingi Anak Bermasalah di Jawa Barat
Di sebuah kampung di kaki kawasan Geopark Ciletuh Sukabumi, ada komunitas yang memutuskan bahwa kelangkaan itu tidak boleh dibiarkan berlanjut.
Mereka tidak hanya menanam kembali hanjeli di ladang-ladang desa, mereka mengubah seluruh proses konservasi itu menjadi sebuah pengalaman wisata yang kini telah memenangkan penghargaan nasional di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).
Namanya Desa Wisata Hanjeli, berlokasi di Kampung Cekdam, Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, dan bagi warga Bogor yang mencari destinasi liburan yang tidak hanya menyenangkan tapi juga bermakna, tempat ini menawarkan sesuatu yang sangat sulit ditemukan di tempat lain.
Baca Juga: Prancis vs Swedia di Babak 32 Besar : Les Bleus Diunggulkan, Tiket 16 Besar Jadi Taruhan
Dari Ladang ke Meja Makan
Konsep utama Desa Wisata Hanjeli bisa diringkas dalam satu frasa yang semakin populer di dunia pariwisata berkelanjutan From Farm to Table, dari ladang langsung ke meja makan.
Tapi di sini, frasa itu bukan sekadar tagline promosi. Ini benar-benar struktur pengalaman yang akan dijalani pengunjung secara kronologis, dari pagi hingga sore hari.
Perjalanan dimulai di ladang. Dipandu oleh warga lokal yang sudah bertani hanjeli selama bertahun-tahun, pengunjung belajar cara menanam benih hanjeli di tanah langsung merasakan tekstur tanahnya, memahami jarak tanam yang tepat, dan mendengar penjelasan tentang mengapa tanaman ini begitu tahan terhadap kondisi iklim yang tidak menentu.
Baca Juga: Mengenal Desa Wisata Purwabakti di Kabupaten Bogor, Tembus 75 Besar ADWI
Jika kunjungan bertepatan dengan musim panen, pengunjung bisa ikut serta dalam proses memanen, memotong tangkai hanjeli dengan sabit kecil dan mengumpulkan bulirnya di dalam keranjang bambu tradisional.
Pengalaman berlanjut ke proses pascapanen yang telah hampir hilang dari keseharian masyarakat urban, menumbuk padi hanjeli menggunakan lesung kayu tradisional.
Bagi anak-anak kota yang seluruh pengetahuannya tentang asal-usul nasi berhenti di rak supermarket, momen ini adalah sebuah revelation yang genuine suara benturan alu di lesung, aroma hanjeli yang terlepas saat kulit terkelupas, dan betapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk menghasilkan segenggam biji bersih.
Baca Juga: Besok 30 Juni Akhir Penarikan Bansos Tahap 2, Cepat Cairkan Saldo KKS
Proses dilanjutkan dengan menampi menggunakan tampah atau nyiru tradisional mengangkat dan mengguncangkan wadah anyaman bambu sehingga angin memisahkan sekam ringan dari biji bersih yang berat.
Puncak dari seluruh perjalanan itu adalah makan siang, Nasi Liwet Hanjeli yang dimasak oleh tangan-tangan warga desa menggunakan biji hanjeli yang dipanen dari ladang yang sama yang baru saja dikunjungi.
Teksturnya lebih kenyal dari nasi biasa, aromanya lebih kaya, dan ada kepuasan yang sulit dijelaskan secara rasional dalam menyantap makanan yang rantai produksinya sudah Anda saksikan dan ikut jalani sendiri dari awal.
Baca Juga: Warga Bogor Harus Coba, Ini 4 Wisata Bernuansa Eropa di Jawa Barat
Biji Sekeras Mutiara yang Bisa Menjadi Kalung di Tangan Anda Sendiri
Salah satu karakteristik hanjeli yang paling mengejutkan bagi pengunjung pertama kali adalah penampilan bijinya, keras, mengkilap alami, dan berbentuk oval sempurna sangat menyerupai mutiara atau manik-manik batu permata, bukan biji tanaman pangan yang selama ini dibayangkan.
Karena itulah, selain sebagai tanaman pangan, hanjeli sudah digunakan sejak lama oleh masyarakat Nusantara sebagai bahan kerajinan tangan.
Di Desa Wisata Hanjeli, tradisi itu dihidupkan kembali dalam bentuk workshop merangkai aksesori etnik di mana pengunjung belajar langsung dari pengrajin lokal cara merangkai biji hanjeli menjadi gelang, kalung, atau bahkan tas dengan pola yang menggabungkan estetika tradisional dan modern.
Hasil kerajinan yang dibuat selama workshop bisa dibawa pulang sebagai suvenir sebuah oleh-oleh yang memiliki cerita jauh lebih dalam dari sekadar produk yang dibeli di toko.
Baca Juga: Lazy Chicken Pizza, Menu Sarapan Praktis dengan Tortilla dan Keju Leleh yang Disukai Anak
Tidak berhenti di situ, desa ini juga memiliki kawasan perkebunan karet yang bisa dijelajahi pengunjung.
Di sini, ada pengalaman yang semakin langka di dunia modern, menyadap getah karet bersama warga lokal menyaksikan dan ikut mempraktikkan proses menyayat kulit pohon karet dengan pisau sadap khusus dan mengumpulkan getah putih yang menetes pelan ke dalam mangkuk kecil.
Bagi anak-anak yang selama ini mengenal karet hanya sebagai bahan sol sepatu atau ban mobil, ini adalah koneksi nyata antara produk sehari-hari dan sumber alamnya.
Bagi rombongan yang berminat pada sejarah, tersedia pula paket kunjungan ke Bunker Jepang bersejarah di sekitar area desa, serta melihat langsung formasi batuan geologi kuno yang disebut Kekar Kolom sebuah struktur batu alam berbentuk kolom prismatik yang terbentuk dari pendinginan lava jutaan tahun lalu, dan menjadi bagian dari kawasan Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark yang menaungi desa ini.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Ungkap Fakta di Balik Program Barak Militer
Nasi Liwet Hanjeli hingga Dodol dan Tape
Salah satu kekhawatiran yang wajar muncul sebelum mengunjungi desa wisata berbasis tanaman langka adalah soal rasa, apakah makanan dari tanaman yang jarang dimakan orang ini benar-benar enak, atau sekadar menarik secara edukatif namun kurang memuaskan secara kuliner?
Jawabannya, menurut hampir semua pengunjung yang pernah mencicipinya, sangat enak, dan berbeda dari apapun yang pernah dimakan sebelumnya.
Nasi Liwet Hanjeli, sajian utama di desa ini memiliki tekstur yang lebih kenyal dan padat dari nasi liwet biasa, dengan aroma khas biji-bijian yang keluar saat kukusan dibuka.
Kandungan seratnya yang tinggi membuat perut terasa lebih lama kenyang, dan perpaduan gurih santan serta rempah liwet dengan karakter unik biji hanjeli menghasilkan profil rasa yang genuinely baru bukan sekadar nasi liwet biasa dengan campuran tambahan, tapi sajian yang punya identitas sendiri.
Baca Juga: Dilirik Banyak Klub Serie A, Federico Chiesa Pilih Bertahan di Liverpool
Di luar menu utama, dapur desa menghasilkan rangkaian kudapan yang semuanya berbahan dasar hanjeli, bubur manis yang hangat dan creamy, rengginang hanjeli yang renyah dengan tekstur berbeda dari rengginang beras biasa, dodol dan wajit dengan kekenyalan yang khas, hingga peuyeum atau tape hanjeli yang proses fermentasinya menghasilkan rasa asam manis dengan sentuhan yang tidak ditemukan pada tape singkong atau tape ketan konvensional.
Semua produk ini juga tersedia dalam bentuk oleh-oleh di Rumah Hanjeli Indonesia pusat edukasi sekaligus gerai produk turunan hanjeli yang beroperasi di dalam kawasan desa.
Harga Tiket dan Paket Wisata
Sistem kunjungan di Desa Wisata Hanjeli dirancang untuk dinikmati paling optimal dalam format paket bukan sekadar datang, foto, dan pulang.
Untuk kunjungan dasar tanpa paket aktivitas, tiket masuk berkisar antara Rp20.000 hingga Rp30.000 per orang sebuah harga yang bahkan belum termasuk pengalaman utamanya.
Baca Juga: Lazy Chicken Pizza, Menu Sarapan Praktis dengan Tortilla dan Keju Leleh yang Disukai Anak
Pengalaman yang sesungguhnya ada di Paket Edukasi Hanjeli One Day Tour, yang tersedia mulai dari Rp340.000 hingga Rp400.000 per orang tergantung platform atau agen pemesanan.
Dengan harga tersebut, paket sudah mencakup makan siang Nasi Liwet Hanjeli, pemandu lokal bersertifikat yang mendampingi seluruh aktivitas dari menanam hingga menampi, serta semua bahan untuk workshop membuat aksesori yang hasilnya bisa dibawa pulang.
Untuk rombongan besar keluarga, kelas sekolah, atau gathering komunitas paket ini menghadirkan nilai yang sangat jauh melampaui harganya.
Cara Menuju Desa Wisata Hanjeli dari Bogor
Dari Bogor, perjalanan menuju Desa Wisata Hanjeli di Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, ditempuh melalui jalur selatan menuju pusat Kota Sukabumi terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan ke arah selatan mengikuti jalur Geopark Ciletuh melalui Jampang Kulon.
Baca Juga: Intip Saldo Bansos Non PKH-BPNT Cair di 4 Bank Himbara 29 Juni 2026
Total waktu perjalanan dari pusat Kota Sukabumi ke desa ini sekitar tiga hingga empat jam artinya dari Bogor, keseluruhan perjalanan bisa memakan waktu sekitar lima hingga enam jam tergantung kondisi lalu lintas.
Desa Wisata Hanjeli bukan sekadar tempat wisata, ini adalah kelas sejarah pangan, pelajaran pertanian, workshop seni, dan restoran otentik yang semuanya berlangsung di dalam satu hari perjalanan yang tidak akan mudah dilupakan.***