RADAR BOGOR - Keinginan menambah penghasilan, sering membuat seseorang tergoda mengambil pekerjaan sampingan atau side hustle sebanyak mungkin.
Namun, terlalu banyak aktivitas tambahan justru bisa menjadi bumerang ketika waktu, tenaga, hingga performa di pekerjaan utama ikut terganggu.
Karena itu, membangun side hustle sebaiknya tidak sekadar mengejar pekerjaan tambahan.
Ada strategi yang perlu diperhitungkan agar sumber penghasilan kedua dapat tumbuh tanpa mengorbankan sumber pendapatan utama.
Baca Juga: Pernyataan Adam Alis Jelang Laga Persib vs Persijap Hari Ini
Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto mengatakan, inti dari side hustle bukanlah memperbanyak pekerjaan, melainkan menciptakan sumber penghasilan tambahan yang dapat dikelola secara terukur.
“Banyak orang berpikir cara paling aman untuk menambah penghasilan adalah mengambil pekerjaan tambahan sebanyak mungkin. Padahal masalahnya bukan selalu soal seberapa banyak pekerjaan yang bisa diambil, tetapi apakah penghasilan tambahan itu bisa tumbuh tanpa menghancurkan tenaga, waktu, dan performa pekerjaan utama,” kata Rizki kepada Radar Bogor, Minggu 20 September 2026.
Jangan Asal Pilih Side Hustle
Menurut Rizki, seseorang tidak perlu langsung mencari bisnis yang sedang viral ketika ingin memulai side hustle.
Langkah awal, justru dapat dilakukan dengan melihat kemampuan dan sumber daya yang sudah dimiliki.
Keterampilan seperti desain grafis, mengolah data Excel, memasak, fotografi, mengedit video, memperbaiki perangkat, hingga kemampuan menjual dapat menjadi modal awal.
Dengan memanfaatkan kemampuan yang sudah ada, seseorang tidak harus langsung mengeluarkan modal besar untuk membeli peralatan atau menyewa tempat.
Prinsipnya sederhana.
Penghasilan muncul ketika seseorang mampu menawarkan solusi atas kebutuhan orang lain dan ada pihak yang bersedia membayar solusi tersebut.
Karena itu, sebelum memilih jenis usaha sampingan, penting untuk mengidentifikasi tiga hal yakni kemampuan yang dimiliki, masalah yang dapat diselesaikan, serta waktu yang tersedia.
Sesuaikan dengan Waktu yang Dimiliki
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah memilih model usaha yang tidak sesuai dengan waktu.
"Seseorang yang hanya mempunyai dua jam setiap malam, misalnya, akan kesulitan menjalankan bisnis yang mengharuskannya menjaga toko selama delapan jam sehari," kata dia.
Baca Juga: RS PMI Bogor Perkuat Layanan Brain Center dan Code Stroke, Pasien Tak Perlu Jauh ke Jakarta
Model berbasis pesanan dapat menjadi salah satu alternatif. Jasa desain, editing, les privat, fotografi, katering akhir pekan, administrasi hingga penjualan produk dengan sistem pre-order dapat disesuaikan dengan waktu yang tersedia.
Dengan demikian, side hustle menjadi aktivitas yang masuk ke sela kehidupan, bukan aktivitas yang memaksa seluruh rutinitas berubah.
Batasi Modal dan Jam Kerja
Rizki juga menekankan pentingnya membuat batas sejak awal. Batas tersebut mencakup waktu, modal dan jumlah pekerjaan yang mampu diselesaikan.
Misalnya, seseorang menetapkan maksimal 10 jam per minggu untuk menjalankan side hustle dengan modal awal Rp1 juta.
Batas tersebut dapat menjadi pengaman agar keputusan bisnis tidak dilakukan secara emosional ketika muncul berbagai peluang baru.
Sebelum mengejar omzet, pelaku side hustle juga perlu mengetahui berapa keuntungan bersih yang diperoleh dibandingkan waktu dan modal yang dikeluarkan.
Sebagai ilustrasi, kata dia, sebuah pekerjaan menghasilkan Rp1,5 juta dalam satu bulan.
Setelah dikurangi transportasi, bahan, biaya platform dan operasional lainnya, keuntungan bersihnya menjadi Rp1,1 juta.
Jika pekerjaan tersebut membutuhkan 40 jam, berarti pendapatan bersihnya sekitar Rp27.500 per jam.
Baca Juga: Villa Jasmine Ts di Bogor, Punya Kolam Renang hingga Biliar untuk Rombongan
Angka tersebut belum otomatis menunjukkan apakah usaha itu layak atau tidak.
"Perhitungannya tetap perlu dikaitkan dengan tingkat kesulitan, peluang pelanggan kembali, tujuan usaha dan kemungkinan meningkatkan efisiensi," tutur Rizki.
Pelanggan Lama Bisa Jadi Sumber Cuan Berulang
Membangun pelanggan berulang menjadi bagian penting dalam pengembangan side hustle.
Sebab, mencari pelanggan baru setiap kali membutuhkan pemasukan membutuhkan tenaga yang lebih besar dibandingkan mempertahankan pelanggan yang sudah puas.
Misalnya seseorang menawarkan jasa desain.
Setelah menyelesaikan satu desain, peluang berikutnya bukan hanya mencari pelanggan baru, tetapi melihat kebutuhan lain dari pelanggan tersebut.
Pelanggan mungkin membutuhkan desain konten mingguan, katalog bulanan atau materi promosi secara rutin.
Dari sini, usaha sampingan mulai bergerak dari sekadar menjual waktu menuju sistem pendapatan yang lebih berulang.
Jangan Langsung Habiskan Penghasilan Tambahan
Pendapatan dari side hustle yang belum stabil juga sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tambahan pengeluaran rutin.
Jika pada bulan pertama seseorang memperoleh Rp800 ribu dari usaha sampingan, bukan berarti pengeluaran bulanannya harus langsung bertambah Rp800 ribu.
Baca Juga: Kasus Bappenda Bogor Disorot, KPK Sudah Sita Rp1,5 Miliar tapi Belum Tetapkan Tersangka
Sebagian keuntungan dapat digunakan untuk memperkuat usaha, sebagian disimpan sebagai cadangan dan sebagian lainnya dapat dinikmati.
Dengan pola tersebut, pendapatan tambahan tidak hanya habis untuk konsumsi, tetapi juga dapat menjadi bahan bakar untuk mengembangkan sumber penghasilan baru.
Side Hustle Bukan Fenomena Baru
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, side hustle memang telah menjadi bagian dari aktivitas sebagian pekerja di Indonesia.
Dalam publikasi Cerita Data Statistik untuk Indonesia Edisi 2024.01, BPS mencatat proporsi pekerja yang memiliki side hustle berbeda berdasarkan karakteristik tempat tinggal dan sektor pekerjaan utama.
Di wilayah perkotaan, proporsinya tercatat 10,2 persen.
Sedangkan, di wilayah perdesaan mencapai 21,6 persen.
Berdasarkan sektor pekerjaan utama, proporsi pekerja yang memiliki side hustle mencapai 24,1 persen di sektor pertanian, 11 persen di manufaktur dan 12,1 persen di sektor jasa.
Data tersebut menunjukkan, pekerjaan tambahan bukan semata-mata fenomena yang muncul karena tren media sosial.
"Bagi sebagian pekerja, aktivitas tersebut menjadi salah satu cara memperoleh sumber pendapatan tambahanm," ungkapnya.
Namun, memiliki pekerjaan kedua belum tentu sama dengan membangun side hustle yang efisien.
Jangan Sampai Cuma Menukar Waktu dengan Uang
Masalah muncul ketika setiap kenaikan pendapatan selalu membutuhkan tambahan jam kerja.
Jika tambahan Rp1 juta selalu mengharuskan seseorang bekerja 40 jam lebih banyak, maka pertumbuhan usaha akan memiliki batas. Ketika permintaan meningkat, waktu kerja pun ikut bertambah.
Karena itu, side hustle yang dirancang dengan baik perlu mencari ruang untuk meningkatkan efisiensi.
Proses kerja dapat dibuat lebih sederhana, produk dapat dipaketkan, harga dapat disesuaikan dengan nilai yang diberikan dan sebagian pekerjaan dapat didelegasikan ketika pendapatan sudah memungkinkan.
"Tujuannya bukan sekadar meningkatkan omzet, tetapi meningkatkan nilai yang dihasilkan dari setiap jam kerja," kata Rizki.
Empat Angka yang Perlu Dicatat
Untuk mengetahui apakah sebuah side hustle benar-benar berkembang, ada beberapa indikator yang dapat dipantau secara rutin.
Pertama, keuntungan bersih.
Kedua, jumlah jam kerja.
Ketiga, modal yang digunakan atau tertahan.
Keempat, jumlah pelanggan yang kembali membeli.
Keempat angka tersebut, membantu membedakan antara usaha yang benar-benar berkembang dengan aktivitas yang hanya membuat jadwal semakin padat.
Sebagai contoh, usaha makanan rumahan bisa saja mengalami kenaikan pesanan.
Namun, jika laba tetap Rp600 ribu sementara waktu produksi meningkat dari enam jam menjadi 12 jam, pertumbuhan omzet tersebut belum tentu membuat usaha semakin efisien.
Sebaliknya, penerapan sistem pre-order, pembatasan menu atau penggunaan peralatan yang menghemat waktu dapat membuat keuntungan meningkat tanpa menambah jam kerja secara signifikan.
Pekerjaan Utama Tetap Harus Dijaga
Rizki mengingatkan bahwa pekerjaan utama tetap perlu menjadi perhatian selama masih menjadi sumber pendapatan utama.
Tanda-tanda seperti sering terlambat, sulit berkonsentrasi, kualitas pekerjaan menurun atau waktu istirahat terus berkurang dapat menjadi sinyal bahwa desain side hustle perlu dievaluasi.
Salah satu cara sederhana adalah menetapkan jadwal khusus.
Misalnya, usaha sampingan hanya dikerjakan pada Selasa dan Kamis malam masing-masing dua jam, ditambah empat jam pada Sabtu pagi.
Dengan pembagian tersebut, waktu untuk pekerjaan utama, keluarga, istirahat dan aktivitas pribadi tetap memiliki batas yang jelas.
Evaluasi Setelah 1-3 Bulan
Setelah berjalan beberapa waktu, side hustle perlu dievaluasi berdasarkan data, bukan sekadar perasaan.
Ada empat pertanyaan yang dapat digunakan. Apakah keuntungan bersih meningkat?
Apakah waktu pengerjaan semakin singkat? Apakah pelanggan yang kembali bertambah?
Dan apakah pekerjaan utama tetap berjalan dengan baik?
Jika jawabannya positif, kapasitas dapat dinaikkan secara perlahan.
Namun, apabila usaha tidak menghasilkan margin yang memadai, tidak memiliki pelanggan berulang dan terus mengganggu pekerjaan utama, menghentikannya bukan berarti gagal.
Keputusan tersebut justru dapat membuka waktu dan modal untuk mencoba model lain yang lebih sesuai.
Mulai dari Eksperimen Kecil
Bagi orang yang baru ingin memulai, Rizki menyarankan agar side hustle tidak diawali dengan keputusan besar.
Selama satu minggu pertama, calon pelaku usaha dapat mencatat kemampuan yang dimiliki, masalah yang sering diminta orang lain untuk dibantu, serta jumlah waktu yang realistis untuk dialokasikan setiap minggu.
Setelah itu, pilih satu penawaran sederhana untuk diuji kepada calon pelanggan.
Tidak perlu langsung menghabiskan banyak uang untuk membuat logo, membeli peralatan mahal atau membangun bisnis dengan skala besar sebelum mengetahui apakah pasar benar-benar membutuhkan produk atau jasa tersebut.
Transaksi pertama justru dapat menjadi bahan belajar.
Setiap pemasukan dan pengeluaran sebaiknya dicatat secara terpisah dari keuangan pribadi.
Dari sana, sambung Rizki, keuntungan bersih dapat dihitung dengan lebih akurat.
Reinvestasi Harus Berdasarkan Masalah Nyata
Ketika keuntungan mulai terkumpul, sebagian dana dapat dikembalikan ke usaha.
Namun, penggunaan modal tambahan tetap perlu memiliki alasan yang jelas.
Membeli peralatan baru, misalnya, sebaiknya dilakukan karena ada masalah yang memang terbukti menghambat pekerjaan.
Jika proses pengemasan menjadi titik yang paling banyak menghabiskan waktu, peralatan yang mampu mempercepat proses tersebut dapat dipertimbangkan.
Sebaliknya, membeli peralatan mahal hanya karena terlihat menarik belum tentu meningkatkan produktivitas.
Dengan pendekatan tersebut, setiap pengeluaran memiliki tujuan yang jelas dan dapat dievaluasi hasilnya.
Tujuan Akhir Bukan Bekerja Dua Kali Lebih Keras
Pada akhirnya, side hustle bukan tentang membuat seseorang semakin sibuk.
Tujuan utamanya adalah menciptakan sumber penghasilan tambahan yang memiliki batas, dapat diukur dan memiliki peluang untuk menjadi semakin efisien.
“Tujuan akhirnya bukan membuat lu bekerja dua kali lebih keras, tetapi membuat sebagian waktu, keterampilan, jaringan, dan modal yang lu punya mulai menghasilkan nilai ekonomi tambahan secara terukur,” ujar Rizki.
Karena itu, seseorang tidak harus langsung memiliki banyak usaha sampingan.
Satu kemampuan yang dapat dijual, satu masalah yang bisa diselesaikan dan satu model usaha yang dapat diuji sudah cukup untuk memulai.
Jika berhasil, kapasitas dapat ditingkatkan secara bertahap.
Jika belum berhasil, modelnya dapat diperbaiki atau dihentikan setelah diketahui bagian yang tidak berjalan.
Pada akhirnya, tambahan penghasilan bukan hanya soal berapa banyak uang yang masuk dalam satu bulan.
Yang tidak kalah penting adalah apakah keterampilan semakin bernilai, pelanggan semakin loyal, proses kerja semakin rapi dan sumber pendapatan tambahan menjadi lebih kuat.
Dengan begitu, side hustle tidak berubah menjadi pekerjaan kedua yang menguras energi, tetapi berkembang menjadi sistem kecil yang membantu memperkuat kondisi finansial tanpa mengorbankan pekerjaan utama. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti