RADAR BOGOR - Memiliki uang tersisa di rekening setelah menerima gaji atau penghasilan, sering kali dianggap sebagai tanda kondisi keuangan yang aman.
Namun, menyimpan uang saja belum tentu membuat kekuatan finansial seseorang bertambah.
Uang yang hanya tersimpan memang dapat menjadi cadangan ketika menghadapi kebutuhan mendadak.
Tetapi di sisi lain, sebagian uang juga dapat diarahkan untuk membangun aset yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Baca Juga: Oli Gardan Motor Matic: Fungsi, Waktu Ganti, Cara Mengganti, dan Dampaknya Jika Telat
Ketua Program Studi Kewirausahaan Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Beti Renitawati mengatakan, membangun kekuatan finansial tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyisihkan uang, tetapi juga bagaimana sebagian dana tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan nilai baru.
“Masalahnya, uang yang hanya diam sebenarnya belum bekerja untuk kita karena nilainya tidak otomatis bertambah hanya karena kita berhasil menyimpannya,” kata Beti.
Menurutnya, seseorang bisa saja mempunyai tabungan untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa bulan.
Namun, jika seluruh penghasilan masih sepenuhnya bergantung pada waktu dan tenaga pribadi, aliran pendapatan berpotensi berhenti ketika orang tersebut tidak lagi bekerja.
Karena itu, aset produktif dapat menjadi salah satu bagian dari strategi membangun kekuatan ekonomi.
Aset Produktif Tidak Harus Mahal
Banyak orang menganggap aset produktif identik dengan saham, properti atau bisnis dalam skala besar.
Padahal, bentuk aset produktif dapat berbeda sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Bagi pelaku usaha kecil, misalnya, freezer tambahan dapat membantu menyimpan lebih banyak produk.
Mesin produksi bisa mempercepat pekerjaan, sementara peralatan tertentu dapat membuat pelaku usaha menerima lebih banyak pesanan.
Bahkan, keterampilan yang mampu meningkatkan kemampuan menghasilkan pendapatan juga dapat menjadi bagian dari modal produktif.
Beti menjelaskan, suatu barang baru layak disebut produktif ketika keberadaannya memberikan manfaat ekonomi yang dapat diukur.
Manfaat tersebut bisa berupa tambahan pendapatan, pengurangan biaya, penghematan waktu atau peningkatan kapasitas usaha.
“Yang perlu dilihat bukan sekadar bentuk barangnya, tetapi apa pekerjaan ekonomi yang bisa dilakukan setelah uang tersebut dikeluarkan,” ujarnya.
Jangan Beli Barang Hanya karena Terlihat Menarik
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap semua pembelian untuk usaha sebagai investasi.
Padahal, sebuah peralatan yang mahal belum tentu produktif jika jarang digunakan atau tidak memberikan dampak terhadap pendapatan maupun efisiensi.
Karena itu, sebelum membeli aset, pelaku usaha perlu mengidentifikasi masalah yang ingin diselesaikan.
Misalnya, sebuah usaha makanan sudah memiliki banyak permintaan, tetapi kapasitas produksi terbatas karena hanya menggunakan satu peralatan utama.
Dalam kondisi tersebut, membeli peralatan tambahan bisa menjadi keputusan yang masuk akal jika mampu meningkatkan kapasitas dan menghasilkan tambahan laba.
Sebaliknya, membeli mesin berkapasitas besar ketika pelanggan belum tersedia justru berpotensi menambah beban biaya tanpa menyelesaikan masalah utama.
Hitung Balik Modal, Jangan Terpaku Omzet
Salah satu cara sederhana menilai aset produktif adalah menghitung hubungan antara harga aset dan tambahan laba bersih yang dihasilkan.
Sebagai contoh, sebuah mesin dibeli dengan harga Rp5 juta.
Setelah digunakan, mesin tersebut menghasilkan tambahan laba bersih Rp800 ribu per bulan setelah memperhitungkan bahan baku, listrik, perawatan dan biaya operasional lainnya.
"Secara sederhana, harga mesin tersebut membutuhkan waktu sekitar enam hingga tujuh bulan untuk kembali melalui tambahan laba bersih," kata Beti.
Perhitungan tersebut tentu belum memperhitungkan risiko kerusakan, perubahan permintaan atau biaya modal.
Namun, perhitungan sederhana itu dapat membantu pemilik usaha membuat keputusan berdasarkan angka, bukan sekadar perkiraan.
Sebab, kenaikan omzet tidak otomatis berarti kenaikan keuntungan.
Jika sebuah alat mampu meningkatkan penjualan Rp10 juta, tetapi membutuhkan biaya tambahan Rp9 juta, maka tambahan laba yang diperoleh sebenarnya hanya Rp1 juta.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya uang yang masuk, melainkan manfaat bersih setelah seluruh biaya diperhitungkan.
Kapasitas Besar Tidak Selalu Berarti Lebih Produktif
Aset yang memiliki kapasitas tinggi juga belum tentu menjadi pilihan yang tepat.
Sebuah mesin mungkin mampu memproduksi hingga 1.000 unit per hari.
Namun, jika permintaan pasar hanya 100 unit, sebagian besar kemampuan mesin tersebut tidak terpakai.
Di sisi lain, biaya perawatan, listrik, penyusutan dan biaya kepemilikan tetap berjalan.
Artinya, produktivitas aset tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan maksimal sebuah alat, tetapi seberapa besar kapasitas tersebut benar-benar digunakan untuk menghasilkan manfaat ekonomi.
“Jangan menghitung produktivitas dari seberapa hebat kemampuan sebuah alat, tetapi dari seberapa sering kemampuan tersebut benar-benar digunakan untuk menghasilkan uang,” kata Beti yang juga dosen mata kuliah Akuntansi tersebut.
Banyak Bisnis Dimiliki Rumah Tangga
Gambaran mengenai usaha skala kecil juga terlihat dalam data Survey of Consumer Finances 2022 yang diterbitkan Federal Reserve Amerika Serikat.
Data tersebut menunjukkan sekitar 20 persen keluarga di Amerika Serikat melaporkan memiliki bisnis privat.
Dari keluarga pemilik bisnis tersebut, sekitar 78 persen mempunyai bisnis dengan kurang dari lima pekerja.
Data yang sama juga menunjukkan sekitar 52 persen bisnis yang dimiliki keluarga masuk kategori nonemployer, yang terutama mencakup pemilik usaha sendiri atau kontraktor mandiri.
Angka tersebut tidak berarti kepemilikan bisnis secara otomatis membuat seseorang lebih kaya.
Data tersebut bersifat observasional dan tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat.
Namun, data tersebut memberikan gambaran bahwa bisnis tidak selalu harus dimulai dengan perusahaan besar dan banyak karyawan.
Usaha yang dikelola sendiri pun dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi rumah tangga.
Aset Bisa Berubah Jadi Beban
Persoalan muncul ketika aset dibeli sebelum kebutuhan ekonominya jelas.
Sebuah kendaraan, mesin atau peralatan yang seharusnya membantu menghasilkan pendapatan dapat berubah menjadi beban apabila penggunaannya rendah.
Selain harga pembelian, pemilik juga perlu memperhitungkan biaya perawatan, listrik, bahan bakar, penyusutan dan kemungkinan perbaikan.
"Aset juga mempunyai umur ekonomis," ucapnya
Mesin dapat mengalami penurunan performa, kendaraan membutuhkan perawatan dan perangkat elektronik mengalami penyusutan nilai.
Bahkan keterampilan yang menjadi modal seseorang dapat kehilangan nilai apabila kebutuhan pasar berubah.
Karena itu, perhitungan manfaat aset perlu dilakukan secara berkala.
Bedakan Menabung dan Membangun Aset
Menabung dan membangun aset produktif sebenarnya bukan dua pilihan yang harus saling menggantikan.
Tabungan dapat berfungsi sebagai cadangan untuk kebutuhan hidup dan kondisi darurat.
Sementara aset produktif diarahkan untuk membantu menciptakan pendapatan, mengurangi biaya atau meningkatkan kapasitas.
Keduanya dapat berjalan berdampingan.
Beti menilai keseimbangan tersebut penting karena pelaku usaha tetap membutuhkan likuiditas.
Kondisi bisnis dapat berubah, pelanggan bisa berkurang dan peralatan dapat mengalami kerusakan.
Karena itu, seluruh uang yang tersedia sebaiknya tidak langsung dialihkan untuk membeli aset.
Mulai dari Masalah, Bukan dari Barang
Langkah pertama untuk membangun aset produktif adalah mengamati aktivitas keuangan dan operasional yang sudah berjalan.
Selama sekitar 30 hari, pemasukan dan pengeluaran dapat dicatat secara rutin, termasuk transaksi usaha, kebutuhan pribadi dan biaya-biaya kecil yang sering terabaikan.
Dari catatan tersebut, cari satu hambatan yang paling sering mengurangi kemampuan menghasilkan pendapatan.
Misalnya, jumlah pesanan sudah meningkat tetapi produksi tidak mampu mengikuti permintaan.
"Bisa juga waktu pengerjaan terlalu lama karena peralatan kurang efisien," tegas Beti
Setelah masalah ditemukan, barulah calon pembeli aset membuat simulasi.
Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab antara lain berapa harga aset, berapa tambahan pendapatan yang realistis, berapa biaya tambahan yang muncul, berapa laba bersih yang dihasilkan dan berapa lama modal dapat kembali.
Jika perhitungannya tidak masuk akal sebelum pembelian, tidak ada alasan menganggap hasilnya otomatis lebih baik setelah aset dimiliki.
Uji dari Skala Kecil
Ketika perhitungan terlihat masuk akal, pengadaan aset tidak harus langsung dilakukan dalam kapasitas terbesar.
Memulai dari skala kecil dapat menjadi cara untuk menguji apakah aset tersebut benar-benar memberikan manfaat dalam kondisi nyata.
Setelah digunakan, hasilnya perlu dibandingkan dengan perhitungan awal.
Lihat kapasitas sebelum dan sesudah penggunaan aset. Bandingkan biaya, pendapatan dan laba.
Jika hasil aktual jauh di bawah perkiraan, cari tahu penyebabnya.
Masalah bisa berasal dari rendahnya permintaan, harga jual, biaya operasional, tingkat pemanfaatan aset atau cara pengelolaannya.
Dari sana, pemilik usaha dapat menentukan apakah aset perlu dioptimalkan, digunakan dengan cara berbeda atau justru tidak lagi dipertahankan.
Jangan Habiskan Seluruh Uang untuk Aset
Keinginan membangun aset produktif juga perlu dibarengi dengan pengelolaan risiko.
Jangan sampai seluruh uang yang tersedia digunakan untuk membeli peralatan atau menambah modal hingga tidak tersisa cadangan untuk kebutuhan hidup dan keadaan darurat.
Sebab, bisnis tetap menghadapi ketidakpastian.
Penjualan bisa turun, pelanggan dapat berkurang dan biaya tak terduga bisa muncul kapan saja.
Dengan menjaga likuiditas, pemilik usaha memiliki ruang untuk menghadapi kondisi tersebut tanpa harus menjual aset secara terburu-buru.
Uang Perlu Diberi Tugas yang Jelas
Pada akhirnya, membangun aset produktif bukan berarti harus mengejar investasi yang rumit atau mengambil risiko besar.
Konsep sederhananya adalah mengarahkan sebagian uang kepada sesuatu yang mampu menghasilkan manfaat ekonomi.
Manfaat tersebut dapat berupa pendapatan tambahan, penghematan biaya, efisiensi waktu atau peningkatan kapasitas dalam menciptakan nilai.
Sebelum mengeluarkan modal, pemilik uang perlu mengetahui masalah yang ingin diselesaikan, biaya yang harus dikeluarkan, manfaat yang diharapkan dan ukuran keberhasilannya.
Aset yang sederhana tetapi digunakan secara konsisten bisa lebih bermanfaat daripada barang mahal yang jarang dipakai.
Beti menekankan, tujuan akhirnya bukan sekadar memiliki banyak barang, melainkan membangun sistem ekonomi yang secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan sepenuhnya pada pertukaran waktu dengan uang.
“Anda tak harus membuat semua uang bekerja sekaligus, tetapi harus mulai memberi sebagian uang anda pekerjaan yang jelas,” ujarnya.
Dengan cara tersebut, uang tidak hanya berfungsi sebagai sesuatu yang disimpan atau dibelanjakan.
Sebagian dapat menjadi cadangan, sebagian menjaga kebutuhan tetap aman, dan sebagian lainnya digunakan untuk membangun kemampuan menghasilkan pendapatan di masa depan.
Bagi pelaku usaha pemula, langkah tersebut tidak harus dimulai dengan modal besar.
Cukup mulai dari satu masalah yang nyata, satu aset yang relevan dan satu perhitungan yang masuk akal.
Setelah itu, ukur hasilnya secara berkala.
Sebab, kekuatan finansial tidak selalu dibangun melalui keputusan besar.
"Sering kali, fondasinya justru terbentuk dari keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten dan berdasarkan angka," pungkas Beti. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti