RADAR BOGOR - Banyak orang memulai usaha dengan modal semangat, keberanian, dan harapan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik.
Namun, tidak sedikit yang akhirnya justru merasa lelah karena bisnis yang dijalankan tak kunjung menunjukkan hasil.
Dagangan sepi, modal terus berkurang, stok menumpuk, sementara biaya promosi semakin besar.
Dalam kondisi seperti itu, pasar sering kali dianggap sebagai penyebab utama.
Baca Juga: Jangan Asal Pilih Lokasi, Sisi Lain Formasi PPPK Kesehatan Ini Jarang Diungkap
Padahal, menurut Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto, persoalannya tidak selalu terletak pada kondisi pasar atau produk yang dijual.
Ia menilai, cara seseorang memandang bisnis sejak awal turut menentukan bagaimana usaha tersebut dijalankan dan dikembangkan.
“Bukan karena pasarnya sulit, tapi bisa jadi cara berpikirnya yang salah sejak awal,” kata Rizki Riyanto kepada Radar Bogor, Senin 21 September 2026.
1. Jangan Terjebak Anggapan Bisnis Harus Cepat Menghasilkan
Di tengah maraknya kisah sukses bisnis di media sosial, usaha sering terlihat seperti sesuatu yang mudah dilakukan.
Seseorang melihat unggahan tentang omzet besar, bisnis yang berkembang pesat, atau produk yang sedang viral, lalu menganggap peluang tersebut bisa langsung ditiru.
Masalahnya, cerita sukses yang terlihat di permukaan biasanya hanya memperlihatkan hasil akhirnya.
Proses panjang yang dilalui pemilik usaha tidak selalu ikut ditampilkan.
Padahal, membangun bisnis membutuhkan proses yang tidak sebentar.
Ada masa ketika penjualan belum stabil, strategi pemasaran harus berulang kali diperbaiki, hingga keputusan yang diambil ternyata tidak memberikan hasil sesuai harapan.
Baca Juga: Gibran Soroti Video Petugas SPPG Makan Ayam Katsu, Singgung Korban Keracunan MBG
Karena itu, Rizki mengingatkan agar pelaku usaha tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai ukuran untuk menilai perjalanan bisnisnya sendiri.
“Jangan bandingkan bab awal anda dengan bab akhir orang lain,” ujarnya kepada Radar Bogor.
Menurutnya, setiap bisnis memiliki perjalanan dan ritme yang berbeda.
Ada usaha yang berkembang cepat, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk menemukan pasar dan model bisnis yang tepat.
2. Produk Bagus Belum Tentu Dicari Konsumen
Salah satu kesalahan yang sering terjadi pada pelaku usaha pemula adalah terlalu fokus mencari produk yang dianggap sedang laris.
Ketika melihat sebuah produk viral, misalnya, seseorang bisa langsung berasumsi bahwa produk tersebut merupakan peluang bisnis yang menjanjikan.
Padahal, tren di pasar dapat berubah dengan cepat.
Rizki mengibaratkan, tren seperti ombak yang datang dan pergi.
Jika sebuah usaha hanya mengandalkan tren tanpa memahami kebutuhan konsumen, bisnis tersebut berisiko kehilangan arah ketika tren mulai mereda.
Karena itu, sebelum menentukan produk, pelaku usaha perlu memahami siapa calon konsumennya, masalah apa yang mereka hadapi, serta alasan mereka membutuhkan produk tersebut.
“Usaha yang berkelanjutan bukan soal produknya hebat, tapi soal apakah anda benar-benar memahami siapa yang membutuhkan produk itu dan mengapa mereka membutuhkannya,” jelas Rizki.
Baca Juga: Jangan Tunggu Turun Mesin, Ini 3 Cara Merawat Mesin Mobil agar Awet
Dengan pendekatan tersebut, bisnis tidak sekadar mengejar penjualan sesaat, tetapi berusaha memberikan solusi terhadap kebutuhan konsumen.
3. Pelanggan Tidak Hanya Membeli Produk
Dalam menjalankan usaha, tampilan produk, foto yang menarik, hingga strategi membuat konten memang dapat membantu pemasaran.
Namun, semua itu bukan satu-satunya faktor yang membuat konsumen mengambil keputusan.
Menurut Rizki, pelanggan pada dasarnya mencari solusi atas kebutuhan atau persoalan yang mereka miliki.
Artinya, pelaku usaha perlu memahami pengalaman konsumen, bukan hanya memikirkan bagaimana produk bisa cepat terjual.
Ia memberikan gambaran sederhana, melalui bisnis minuman.
Jika seseorang ingin berjualan es, misalnya, jangan hanya memikirkan rasa minuman yang akan dijual.
Pelaku usaha juga perlu melihat siapa yang membutuhkan minuman tersebut, di mana calon konsumen berada, kapan mereka biasanya membutuhkan produk, serta alasan mereka memilih satu produk dibandingkan produk lainnya.
Cara berpikir seperti itu membuat pelaku usaha tidak hanya bertindak sebagai penjual, tetapi berusaha menjadi bagian dari solusi bagi konsumennya.
4. Usaha Dimulai Sebelum Toko Dibuka
Rizki menilai, membangun usaha sebenarnya tidak dimulai ketika seseorang membuka toko, membuat akun media sosial, atau memasang iklan.
Prosesnya dimulai jauh sebelumnya, yakni ketika calon pelaku usaha mulai mengamati lingkungan, mendengarkan kebutuhan orang lain, dan mencari persoalan yang dapat diberikan solusi.
Dengan begitu, keputusan bisnis tidak hanya berdasarkan asumsi atau produk yang sedang populer.
“Orang yang sukses bukan yang paling cepat jualan, tapi yang paling sabar memahami,” katanya.
Pemahaman terhadap pasar juga perlu terus diperbarui.
Sebab, kebutuhan konsumen dapat berubah dan strategi yang berhasil hari ini belum tentu memberikan hasil yang sama di kemudian hari.
5. Jangan Hanya Mengejar Strategi Instan
Kemudahan teknologi membuat siapa pun dapat memulai bisnis melalui internet.
Media sosial, marketplace, hingga berbagai perangkat pemasaran digital memungkinkan produk ditawarkan kepada konsumen tanpa harus memiliki toko fisik.
Namun, kemudahan tersebut juga dapat membuat orang terjebak pada keinginan mendapatkan hasil secara cepat.
Sebagian pelaku usaha kemudian sibuk mencari formula instan, mulai dari meniru konten, menggunakan strategi iklan tertentu, hingga mengikuti berbagai pelatihan dengan harapan penjualan segera meningkat.
Menurut Rizki, teknik pemasaran tetap penting, tetapi pemahaman terhadap dasar bisnis tidak boleh diabaikan.
Pelaku usaha perlu mengetahui nilai yang ditawarkan, karakter konsumen, persoalan yang ingin diselesaikan, serta alasan produk tersebut layak dipilih.
Tanpa pemahaman tersebut, strategi pemasaran berisiko hanya menjadi aktivitas mengejar angka tanpa mengetahui tujuan sebenarnya.
6. Mental Menjadi Bagian Penting dalam Membangun Bisnis
Selain kemampuan membaca pasar, ketahanan mental juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan usaha.
Tidak semua fase bisnis menghasilkan keuntungan.
Ada periode ketika penjualan belum sesuai harapan, pelanggan belum banyak, bahkan modal harus dikelola lebih ketat.
Situasi tersebut dapat membuat pemilik usaha mempertanyakan keputusan yang telah diambil.
Rizki mengatakan, banyak usaha tidak berhenti semata-mata karena mengalami kerugian.
Ada pula yang berhenti karena pemiliknya tidak mampu bertahan ketika hasil yang diharapkan belum terlihat.
Ia menggambarkan, kondisi tersebut seperti menjaga api kecil di tengah hujan.
Api tersebut mungkin belum memberikan panas yang besar, tetapi tetap harus dijaga agar tidak padam.
Karena itu, kemampuan mengevaluasi kesalahan dan menyesuaikan strategi menjadi penting ketika bisnis menghadapi masa sulit.
7. Fokus pada Nilai, Bukan Sekadar Tren
Tren dapat memberikan peluang, tetapi kebutuhan manusia memiliki sifat yang lebih mendasar.
Rizki menilai, pelaku usaha perlu melihat kebutuhan yang lebih dalam, seperti keinginan konsumen untuk merasa nyaman, aman, dihargai, atau terbantu dalam menyelesaikan persoalan tertentu.
Jika sebuah produk mampu menjawab kebutuhan tersebut secara konsisten, bisnis memiliki dasar yang lebih kuat dibandingkan sekadar mengandalkan popularitas sementara.
“Fokuslah pada nilai, bukan pada tren,” tegas Rizki.
Dengan pendekatan itu, pelaku usaha dapat membangun hubungan yang lebih panjang dengan konsumennya.
8. Jangan Memulai Usaha Hanya untuk Kabur dari Masalah
Keinginan meninggalkan pekerjaan, memperoleh kebebasan finansial, atau mendapatkan penghasilan lebih besar sering menjadi alasan seseorang memulai usaha.
Motivasi tersebut tidak selalu salah.
Namun, menurut Rizki, pelaku usaha juga harus siap menghadapi kenyataan bahwa bisnis memiliki ketidakpastian, rutinitas, tekanan, dan kegagalan kecil yang perlu dilewati.
Ia membedakan, antara keinginan untuk “kabur” dari sesuatu dan keinginan untuk “membangun” sesuatu.
Memulai usaha hanya sebagai jalan keluar dari masalah dapat membuat seseorang mudah kecewa ketika bisnis ternyata tidak langsung memberikan kehidupan yang diharapkan.
Sebaliknya, pola pikir membangun membuat pelaku usaha lebih siap menghadapi proses, melakukan evaluasi, dan memperbaiki kekurangan.
9. Melihat Bisnis dengan Sudut Pandang yang Lebih Jernih
Rizki menggunakan analogi kacamata, untuk menjelaskan pentingnya cara berpikir dalam menjalankan usaha.
Ketika lensa yang digunakan kotor atau retak, pemandangan di depan mata dapat terlihat berbeda dari kondisi sebenarnya. Hal yang sama dapat terjadi dalam bisnis.
Pelaku usaha yang menggunakan “lensa instan” cenderung melihat bisnis sebagai jalan cepat menuju keuntungan.
Sementara mereka yang menggunakan “lensa proses” akan melihat usaha sebagai perjalanan yang membutuhkan pembelajaran dan penyesuaian.
Dengan sudut pandang tersebut, pertanyaan yang muncul pun berubah.
Bukan lagi sekadar “kapan saya kaya?”, tetapi menjadi “apa yang bisa saya pelajari?”, “siapa yang bisa saya bantu?”, dan “asumsi apa yang ternyata keliru?”
Menurut Rizki, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu pelaku usaha melihat persoalan secara lebih objektif.
10. Bisnis Bukan Perlombaan Siapa yang Paling Cepat
Pada akhirnya, menjalankan usaha bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mendapatkan keuntungan.
Ada proses memahami konsumen, menguji produk, memperbaiki strategi, menjaga kualitas, hingga membangun kepercayaan yang membutuhkan waktu.
Rizki menilai, keberanian memulai memang penting, tetapi kemampuan untuk belajar dan bertahan juga tidak kalah menentukan.
Baca Juga: 7 Cara Memutar Uang Kecil Jadi Besar, Bisa Mulai Rp100 Ribu
“Usaha bukan perlombaan untuk jadi yang pertama. Ini perjalanan untuk jadi yang paling memahami,” ungkapnya.
Karena itu, ketika penjualan sedang turun atau strategi pemasaran belum memberikan hasil, pelaku usaha tidak selalu harus langsung menyimpulkan bahwa bisnisnya gagal.
Ada kemungkinan yang perlu diperbaiki justru cara melihat persoalan tersebut.
Evaluasi dapat dimulai dengan kembali memahami konsumen, memeriksa nilai produk, melihat strategi yang sudah dijalankan, serta memastikan keputusan bisnis tidak semata-mata mengikuti tren.
Pada akhirnya, membangun usaha bukan tentang menemukan formula ajaib untuk cepat kaya.
Bisnis membutuhkan proses, kejelasan tujuan, kemauan belajar, dan kemampuan beradaptasi.
“Siap menjadi kaya bukan berarti siap kaya mendadak, tapi siap memahami, siap belajar, dan siap bertahan sampai usahamu benar-benar bernapas sendiri,” pungkas Rizki kepada Radar Bogor. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti