Terjebak Lingkaran Utang? Begini 7 Cara Memutusnya

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 08:31 WIB
Cara lepas dari jeratan utang.
Cara lepas dari jeratan utang.

RADAR BOGOR - Tagihan yang datang silih berganti bukan hanya menguras isi rekening. 

Bagi sebagian orang, utang yang menumpuk juga dapat menjadi sumber kecemasan dan tekanan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Persoalan tersebut membuat upaya melunasi utang tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah cicilan. 

Kebiasaan dalam menggunakan uang, keputusan yang diambil saat terdesak, hingga kemampuan mengendalikan keinginan juga perlu diperhatikan.

Baca Juga: Resep Telur Saus Tiram ala Chef Devina Hermawan, Praktis dan Ekonomis untuk Menu Keluarga

Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto mengatakan, utang pada dasarnya tidak selalu menjadi sesuatu yang buruk. 

Utang dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan tertentu apabila digunakan dengan perhitungan yang matang.

Namun, menurutnya, utang dapat berubah menjadi beban ketika jumlah dan penggunaannya tidak lagi terkendali.

“Utang bisa menjadi alat bantu ketika digunakan secara bijak, tetapi dapat berubah menjadi beban berat jika tidak dikelola dengan baik,” kata Rizki kepada Radar Bogor, Selasa 22 September 2026.

1. Utang Bisa Berawal dari Keputusan Emosional

Rizki menjelaskan, persoalan utang sering kali tidak hanya berhubungan dengan kemampuan membayar. 

Ada faktor kebiasaan dan psikologis yang turut memengaruhi seseorang ketika mengambil keputusan finansial.

Keinginan mengikuti tren, jelas dia, membeli sesuatu demi gengsi, atau memenuhi kebutuhan sesaat dapat menjadi pemicu seseorang mengambil utang tanpa mempertimbangkan kemampuan membayarnya.

“Masalah utang bukan hanya mengenai angka dan bunga. Ada tekanan psikologis yang bisa muncul, seperti rasa cemas, malu, maupun terbebani ketika utang semakin menumpuk,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Menurut Rizki, kondisi tersebut juga dapat membentuk pola berulang. 

Baca Juga: Gaji Rp3 Juta Tetap Bisa Menabung dan Liburan, Ada 5 Cara Jitu

Seseorang yang baru saja menyelesaikan satu cicilan bisa kembali mengambil pinjaman baru karena merasa memiliki ruang keuangan.

Pola tersebut, jika terus berlangsung, dapat membuat seseorang terjebak dalam lingkaran utang.

Karena itu, melunasi utang tidak cukup hanya dengan mencari tambahan penghasilan. 

Perubahan kebiasaan dan pola pikir juga diperlukan agar masalah serupa tidak kembali terjadi.

2. Catat Semua Utang Sebelum Menentukan Strategi

Langkah pertama yang disarankan adalah menghadapi kondisi keuangan secara terbuka. 

Semua utang perlu dicatat secara rinci, mulai dari jumlah pokok, bunga, cicilan hingga tanggal jatuh tempo.

Rizki menilai, pencatatan tersebut penting karena seseorang perlu mengetahui kondisi keuangannya secara utuh sebelum menentukan langkah pelunasan.

“Jangan menghindari atau berpura-pura tidak melihat utang yang ada. Justru kita perlu mencatat semuanya agar tahu berapa total kewajiban dan mana yang harus diprioritaskan,” katanya kepada Radar Bogor.

Setelah seluruh utang tercatat, langkah berikutnya adalah menentukan prioritas pembayaran. 

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah debt avalanche, yakni memprioritaskan utang dengan bunga paling tinggi.

Baca Juga: Cara Daftar Agen Perlinsos, Relawan Bantu Warga Perbarui Data Perlindungan Sosial

Metode lain adalah debt snowball, yaitu melunasi utang dengan nominal paling kecil terlebih dahulu. 

Cara ini dapat memberikan rasa pencapaian ketika satu per satu utang berhasil diselesaikan.

Menurut Rizki, pilihan strategi dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan sekaligus karakter masing-masing orang.

“Tidak ada satu cara yang harus digunakan semua orang. Pilih strategi yang paling sesuai dengan kondisi finansial dan kemampuan kita untuk menjalankannya secara konsisten,” tuturnya.

3. Pangkas Pengeluaran, Jangan Tambah Gaya Hidup

Setelah mengetahui jumlah kewajiban, pengeluaran bulanan perlu ditata kembali. 

Pengeluaran yang tidak mendesak dapat dikurangi untuk memperbesar ruang pembayaran utang.

Kebiasaan sederhana, seperti mengurangi frekuensi nongkrong, membeli kopi, makan di luar, atau belanja berdasarkan keinginan, dapat menjadi salah satu sumber penghematan.

Rizki mengingatkan agar uang hasil penghematan tidak kembali digunakan untuk konsumsi.

“Penghematan kecil jangan dianggap remeh. Uang yang berhasil disisihkan bisa dialihkan untuk mempercepat pembayaran utang,” katanya.

Selain mengurangi pengeluaran, mencari sumber pendapatan tambahan juga dapat menjadi pilihan. 

Baca Juga: Agen Perlinsos Jadi Relawan untuk Bantu Warga yang Belum Terjangkau Bansos

Pekerjaan sampingan, berjualan secara daring, maupun memanfaatkan keterampilan yang dimiliki dapat dilakukan sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.

Namun, Rizki menekankan agar tambahan penghasilan tidak justru digunakan untuk meningkatkan gaya hidup.

“Kalau mendapatkan penghasilan tambahan, sebaiknya diarahkan untuk mempercepat pelunasan utang, bukan membuka pengeluaran baru,” ujarnya kepada Radar Bogor.

4. Dana Darurat Tetap Perlu Disiapkan

Di tengah usaha melunasi utang, membangun dana darurat mungkin terdengar bertentangan. 

Namun, keberadaan dana cadangan tetap diperlukan untuk menghadapi kebutuhan mendesak.

Tanpa dana darurat, seseorang berisiko kembali menggunakan pinjaman ketika menghadapi kebutuhan tak terduga. 

Akibatnya, utang lama belum selesai tetapi kewajiban baru sudah muncul.

Rizki menyarankan agar dana darurat tetap dibangun sedikit demi sedikit sesuai kemampuan.

“Dana darurat penting sebagai benteng agar ketika muncul kebutuhan mendesak, kita tidak kembali berutang,” katanya.

Jumlahnya tidak harus besar sejak awal. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan menyisihkan uang secara konsisten.

5. Jangan Biarkan Utang Menguasai Pikiran

Selain persoalan angka, tekanan psikologis juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan ketika seseorang memiliki utang.

Rasa takut menghadapi tagihan atau malu menceritakan kondisi keuangan kepada orang lain dapat membuat seseorang memilih menghindari masalah. 

Padahal, menurut Rizki, menghadapi kondisi tersebut secara terbuka merupakan bagian dari proses mencari solusi.

“Langkah awalnya adalah menerima bahwa utang memang ada dan kita harus menghadapinya. Jangan terus menghindar karena hal itu justru dapat membuat tekanan semakin berat,” katanya.

Komunikasi dengan pasangan atau orang yang dipercaya juga dapat membantu, terutama jika kondisi utang sudah memengaruhi keuangan rumah tangga.

Rizki menilai, keterbukaan dapat membuat penyusunan strategi keuangan menjadi lebih realistis karena persoalan tidak ditanggung sendirian.

6. Hindari Mengambil Utang Baru untuk Menutup Utang Lama

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai, ketika seseorang mengambil pinjaman baru hanya untuk membayar kewajiban sebelumnya tanpa menyelesaikan akar masalah.

Keputusan tersebut dapat memberikan kelegaan sementara, tetapi berpotensi memperpanjang masalah apabila tidak disertai perbaikan kondisi keuangan.

“Jangan mengambil keputusan ketika sedang panik. 

Tenangkan diri, lihat seluruh kewajiban, kemudian susun langkah pembayaran secara terukur,” ujar Rizki.

Menurutnya, membangun rutinitas sederhana dapat membantu seseorang tetap disiplin. 

Misalnya, secara berkala memeriksa anggaran, mencatat pengeluaran dan mengevaluasi perkembangan pembayaran utang.

7. Setiap Cicilan Lunas Adalah Kemajuan

Perjalanan melunasi utang tidak selalu berlangsung cepat. 

Karena itu, keberhasilan membayar satu cicilan atau menghindari utang baru perlu dilihat sebagai bagian dari kemajuan.

Rizki mengatakan seseorang tidak perlu merasa gagal hanya karena proses pelunasan membutuhkan waktu. 

Yang lebih penting adalah menjaga konsistensi agar kondisi keuangan perlahan bergerak ke arah yang lebih sehat.

“Setiap cicilan yang berhasil dibayar merupakan kemajuan. Jangan menjadikan proses tersebut sebagai alasan untuk kembali mengambil utang baru,” katanya.

Dukungan dari lingkungan juga dapat membantu menjaga kebiasaan finansial. 

Lingkungan yang mendorong pola hidup konsumtif sebaiknya diimbangi dengan pergaulan yang dapat mendukung kebiasaan mengelola keuangan secara lebih bijak.

Pada akhirnya, keluar dari jerat utang membutuhkan dua hal yang berjalan beriringan, yakni strategi finansial dan perubahan kebiasaan.

Baca Juga: Bansos September 2026 Masih Bergerak, Ini 5 Bantuan yang Disebut Cair hingga Akhir Bulan

Dengan mengetahui seluruh kewajiban, menentukan prioritas pembayaran, mengendalikan pengeluaran, menambah pemasukan bila memungkinkan, serta menyiapkan dana darurat, proses pelunasan dapat dilakukan secara lebih terarah.

“Utang bukan akhir dari segalanya. Yang penting adalah berani menghadapi kondisi tersebut, menyusun strategi, dan menjalankannya dengan disiplin,” pungkas Rizki. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor ITB Vinus utang