RADAR BOGOR - Banyak orang, baru menyadari pentingnya membangun masa depan setelah melewati usia muda.
Kesempatan yang dahulu terasa begitu panjang ternyata tidak selalu datang dua kali.
Kebiasaan menunda, takut mencoba, hingga terlalu lama memikirkan kegagalan bisa menjadi alasan seseorang kehilangan banyak peluang untuk berkembang.
Penyesalan semacam itulah yang menjadi refleksi Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto.
Baca Juga: Tersembunyi di Kawasan Gunung Salak, Balong Endah Tawarkan Kesegaran Kolam Alami
Menurutnya, usia 18 tahun merupakan salah satu fase penting dalam kehidupan karena menjadi masa ketika seseorang mulai membentuk pola pikir, kebiasaan, kedisiplinan, hingga menentukan arah masa depannya.
Ia mengingatkan, usia muda bukan alasan untuk menjalani hidup tanpa tujuan.
"Justru pada fase inilah seseorang perlu berani mengambil keputusan, mencoba berbagai peluang, dan membangun fondasi kehidupan yang lebih baik," jelasnya kepada Radar Bogor, Kamis 5 November 2026.
Ada sejumlah pelajaran penting, kata Rizki, yang sebaiknya dipahami sejak usia 18 tahun agar seseorang tidak terlambat mempersiapkan masa depannya.
1. Jangan Menganggap Waktu Muda Tidak Terbatas
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan anak muda, merasa masih memiliki banyak waktu.
Akibatnya, berbagai hal penting seperti belajar, mencari pengalaman, membangun keterampilan, hingga merintis pekerjaan kerap ditunda.
Padahal, waktu yang terbuang tidak bisa dikembalikan.
"Usia 18 tahun seharusnya menjadi momentum untuk mulai mengenali potensi diri dan menentukan arah kehidupan," kata dia.
Pada fase ini, seseorang memang belum harus memiliki segalanya.
Namun, membangun kebiasaan positif sejak dini akan memberikan bekal berharga untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.
2. Berani Salah dan Jangan Takut Gagal
Ketakutan terhadap kegagalan sering kali membuat seseorang memilih diam daripada mencoba.
"Kekhawatiran akan penilaian orang lain, bisa menghambat keberanian untuk mengambil langkah pertama," ungkapnya kepada Radar Bogor.
Baca Juga: Yamaha NMAX E Resmi Diperkenalkan, Motor Listrik Setara 125 cc Tempuh Jarak 104 Km
Padahal, kesalahan merupakan bagian dari proses pembelajaran.
Seseorang tidak mungkin berkembang jika selalu menghindari tantangan.
Dalam refleksi yang disampaikan, Rizki menekankan, pentingnya keberanian untuk mencoba meskipun hasilnya belum sempurna.
Sebab, kesempatan yang dilewatkan karena rasa takut justru bisa menjadi penyesalan di kemudian hari.
3. Bangun Disiplin, Jangan Hanya Mengandalkan Motivasi
Semangat terkadang datang dan pergi.
Ada hari ketika seseorang merasa sangat produktif, tetapi ada pula saat ketika rasa malas dan lelah membuat berbagai rencana terbengkalai.
Karena itu, kedisiplinan menjadi salah satu modal penting dalam membangun masa depan.
Disiplin bukan berarti seseorang harus menjalani kehidupan secara kaku.
Lebih dari itu, disiplin merupakan kemampuan untuk tetap menjalankan tanggung jawab meskipun suasana hati sedang tidak mendukung.
"Kalau Anda hanya mengandalkan mood, hidup bakal dikontrol oleh perasaan. Tapi kalau Anda punya disiplin, hidup dikontrol oleh keputusan," paparnya.
4. Pilih Lingkungan Pertemanan yang Mendukung
Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan.
Berada di tengah orang-orang yang memiliki semangat belajar, tujuan hidup, serta kebiasaan positif dapat mendorong seseorang untuk ikut berkembang.
Sebaliknya, lingkungan yang dipenuhi kebiasaan negatif berpotensi membuat seseorang kehilangan arah.
Bukan berarti harus menjauhi semua teman lama ketika mulai memperbaiki diri.
Namun, penting untuk memiliki keberanian memilih lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi.
Perubahan terkadang membuat seseorang dianggap berbeda.
Meski demikian, penilaian orang lain tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
5. Jangan Sibuk Terlihat Sukses
Di tengah perkembangan media sosial, keinginan untuk terlihat berhasil sering kali menjadi tekanan tersendiri bagi anak muda.
Memiliki barang bagus, mengikuti tren, dan mendapatkan pengakuan dari orang lain terkadang dianggap sebagai ukuran keberhasilan.
Padahal, pencapaian yang terlihat belum tentu mencerminkan perkembangan diri yang sebenarnya.
"Daripada sibuk membangun citra sukses, lebih baik menggunakan waktu untuk meningkatkan kemampuan, memperluas pengalaman, dan membangun fondasi finansial," jelasnya.
Kesuksesan yang bertahan lama membutuhkan proses, bukan sekadar penampilan yang terlihat menarik di hadapan orang lain.
6. Biasakan Membaca dan Belajar dari Orang Lain
Kemauan untuk terus belajar menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan seseorang.
Membaca buku, mendengarkan podcast edukatif, mengikuti diskusi, maupun bertukar pikiran dengan orang yang memiliki pengalaman lebih luas dapat membuka perspektif baru.
Anak muda tidak harus mengetahui semua hal.
Justru, kesadaran bahwa masih banyak pengetahuan yang belum dipahami merupakan awal dari proses belajar.
"Sikap rendah hati untuk menerima masukan juga membantu seseorang memperbaiki kekurangan dan mengembangkan kemampuan," paparnya.
7. Mulai Sekarang, Jangan Menunggu Sempurna
Banyak rencana tidak pernah terlaksana karena seseorang terlalu lama menunggu waktu yang dianggap tepat.
Ada yang menunggu memiliki modal, menunggu kepercayaan diri meningkat, atau menunggu seluruh persiapan benar-benar sempurna.
Baca Juga: Bawa Persib Lolos 16 Besar ACL Two 2026, Mariano Peralta: Kita Terus Menciptakan Sejarah
Padahal, tidak semua kesempatan datang ketika seseorang sudah merasa siap.
Artinya, sambung dia, keberanian mengambil langkah pertama sering kali menjadi bagian terpenting dalam proses membangun kemampuan dan pengalaman.
8. Fokus pada Perkembangan Diri, Bukan Pencapaian Orang Lain
Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat memunculkan rasa tertinggal dan tidak percaya diri.
Terlebih ketika media sosial menampilkan berbagai pencapaian orang lain, mulai dari keberhasilan pendidikan, karier, bisnis, hingga kehidupan pribadi.
Masalahnya, seseorang hanya melihat hasil akhir tanpa mengetahui proses panjang yang telah dilalui orang tersebut.
Karena itu, anak muda perlu memiliki ukuran keberhasilan sendiri.
Fokus pada perkembangan pribadi, sekecil apa pun kemajuannya, jauh lebih bermanfaat daripada terus-menerus merasa kalah dalam persaingan yang belum tentu sebanding.
9. Jadikan Kegagalan sebagai Bahan Evaluasi
Kegagalan sering dianggap sebagai bukti bahwa seseorang tidak memiliki kemampuan yang cukup.
Padahal, pengalaman tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengenali kekurangan dan memperbaiki strategi.
Tidak semua rencana akan berjalan sesuai harapan.
Ada kalanya seseorang harus mengulang dari awal, mengubah pendekatan, atau bahkan memilih jalan yang berbeda.
Hal terpenting adalah tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti berkembang.
Pengalaman sulit justru dapat membentuk ketahanan mental, kesabaran, dan kedewasaan dalam mengambil keputusan.
10. Bangun Konsistensi Melalui Kebiasaan Kecil
Memulai sesuatu dengan penuh semangat bukanlah perkara sulit.
Tantangan sebenarnya adalah mempertahankan kebiasaan tersebut dalam jangka panjang.
Banyak orang bersemangat ketika mulai berolahraga, belajar keterampilan baru, atau menjalankan sebuah proyek.
Namun, tidak sedikit yang berhenti setelah beberapa hari karena kehilangan motivasi.
Padahal, perkembangan tidak selalu membutuhkan perubahan besar dalam waktu singkat.
Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan kemajuan yang berarti.
Kuncinya adalah menjaga komitmen meskipun hasilnya belum langsung terlihat.
11. Jangan Takut Dianggap Berubah
Keinginan untuk diterima oleh lingkungan terkadang membuat seseorang enggan memperbaiki diri.
Ada yang takut dianggap sombong ketika mulai lebih disiplin.
Ada pula yang khawatir dijauhi teman karena memiliki tujuan dan prioritas berbeda.
Padahal, perubahan merupakan bagian alami dari proses pendewasaan.
Seseorang berhak menentukan arah hidupnya sendiri, termasuk mengubah kebiasaan, memperluas pergaulan, dan menetapkan standar kehidupan yang lebih baik.
Tidak semua orang harus memahami perubahan yang sedang dijalani.
Yang terpenting adalah memastikan perubahan tersebut membawa dampak positif.
12. Kejar Kehidupan yang Bermakna, Bukan Kesempurnaan
Keinginan untuk memiliki kehidupan sempurna sering kali membuat seseorang terlalu sibuk memikirkan kekurangan.
Semua hal ingin berjalan sesuai rencana.
Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, muncul rasa kecewa yang berlebihan.
Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan mulus.
Ada kesalahan, kegagalan, dan berbagai situasi yang tidak bisa dikendalikan.
Daripada terus mengejar kesempurnaan, seseorang perlu membangun kehidupan yang memiliki makna.
Hal tersebut dapat dimulai melalui tindakan sederhana, seperti menjalankan tanggung jawab, membantu orang lain, terus belajar, serta berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.
13. Jangan Menunggu Terlambat untuk Memulai Perubahan
Seluruh pelajaran tersebut bermuara pada satu hal, yakni keberanian mengambil kendali atas kehidupan sendiri.
Masa muda merupakan kesempatan untuk membangun fondasi, bukan sekadar menikmati waktu tanpa arah.
Keputusan kecil yang dilakukan hari ini dapat memberikan pengaruh terhadap kehidupan pada masa mendatang.
Namun, bukan berarti seseorang yang sudah melewati usia 18 tahun kehilangan kesempatan untuk berubah.
Setiap orang tetap memiliki peluang untuk memperbaiki kebiasaan, meningkatkan kemampuan, dan menentukan arah hidup yang lebih baik.
Baca Juga: HVBITAT Cafe Bogor, Tempat Kuliner Japanese-Fusion dengan Menu Unik dan Es Krim Homemade
Pesan pentingnya, kata Rizki Riyanto, jangan terlalu lama terjebak dalam rencana tanpa tindakan.
Ia menambahkan, seseorang tidak bisa kembali memperbaiki keputusan masa lalu.
Akan tetapi, ia masih bisa menentukan keputusan yang lebih baik mulai hari ini.
Pada akhirnya, masa depan bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar mimpi yang dimiliki, melainkan juga oleh keberanian untuk memulai, kedisiplinan dalam menjalani proses, dan konsistensi dalam mempertahankan perubahan.
Sebab, kesempatan terbaik untuk membangun kehidupan yang lebih baik bukan selalu datang besok.
"Terkadang, kesempatan itu justru ada di hadapan kita hari ini," pungkas Rizki. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti