RADAR BOGOR - Gunung Bunder di kawasan Sukamakmur, Bogor, bisa jadi pilihan bagi pendaki yang ingin trekking singkat tanpa perjalanan panjang.
Gunung ini masih jarang dikunjungi karena berdekatan dengan destinasi yang lebih terkenal seperti Gunung Pakuan, Halimun Ciputri, dan Puncak Lumut.
Meski jalurnya pendek, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mendaki.
Lokasi dan Cara Menuju Gunung Bunder
Baca Juga: Susuri Jeram Sungai Cisadane Bogor, Grand Titik Kumpul Tawarkan Rafting 11 Kilometer
Gunung Bunder berada di Desa Rawa Gede, Sirnajaya, Sukamakmur, Bogor. Posisinya sebelum Situ Rawa Kembar.
Cara termudah menemukannya adalah mengetik "Situ Rawa Gede" di aplikasi peta, lalu mengambil arah menuju basecamp Gunung Pakuan atau Situ Rawa Kembar.
Basecamp Gunung Bunder ada sebelum Situ Rawa Kembar dan ditandai gapura yang cukup besar dan mudah terlihat.
Perlu dicatat, nama Gunung Bunder juga dipakai untuk kawasan di Pamijahan yang terkenal dengan wisata curugnya. Pastikan Anda memilih lokasi yang benar.
Baca Juga: Bogor Punya Wisata Nirmala dengan Hamparan Kebun Teh dan Perbukitan Hijau
Basecamp dan Fasilitas
Basecamp cukup luas dengan fasilitas yang lumayan lengkap, seperti musala dan toilet. Area camp langsung berada di dekat pintu rimba.
Saat kunjungan di hari kerja, basecamp terlihat sepi dan tidak ada petugas yang berjaga, sehingga informasi retribusi belum diketahui. Sebaiknya konfirmasi lebih dulu ke warga sekitar atau pengelola.
Baca Juga: Mata Air Cipondok Jonggol, Wisata Alam dengan Kolam Alami dan Camping
Informasi Pendakian
- Ketinggian puncak: sekitar 1.114 mdpl
- Ketinggian basecamp: sekitar 1.070 mdpl
- Total elevasi: jalur naik-turun, dengan akumulasi sekitar 200 sampai 300 meter
- Durasi: sekitar 30 sampai 45 menit bagi yang santai, tidak sampai 1 jam
- Waktu tempuh saat kunjungan: berangkat sekitar pukul 09.32, tiba di puncak sekitar pukul 09.47
Baca Juga: Bingung Cari Wisata Akhir Pekan? Pameran Seni Gratis di Jakarta Ini Bisa Jadi Pilihan
Kondisi Jalur Trekking
Jalur dimulai dengan turunan sebelum menanjak ke puncak. Beberapa hal yang ditemui:
- Pohon besar berakar menjulur di sepanjang jalur.
- Jalur sempat tertutup dan rapat, sehingga perlu dibuka sambil berjalan.
- Ada tangga buatan yang tampak jarang dilewati dan rapuh.
- Tanjakan terakhir cukup terjal, tetapi sudah dipasang webbing yang membantu, terutama saat turun.
- Banyak akar di jalur yang berpotensi licin saat hujan.
Baca Juga: Bingung Cari Wisata Akhir Pekan? Pameran Seni Gratis di Jakarta Ini Bisa Jadi Pilihan
Meski sekilas tampak seperti gunung untuk pemula, jalurnya cukup rimbun dan tidak sepenuhnya ramah bagi pemula, jadi tetap perlu berhati-hati.
Pemandangan dari Puncak
Dari puncak, terlihat panorama terasering sawah di sisi Sukamakmur, serta Gunung Pakuan di kejauhan. Sebagian pepohonan sudah cukup tinggi sehingga memengaruhi pandangan.
Hal yang Perlu Diwaspadai di Puncak
Baca Juga: 5 Curug di Bogor yang Hits dan Punya Pemandangan Estetik, Cocok buat Healing Akhir Pekan
- Terdapat area bekas longsor dengan tebing curam, meski sudah ditanami bambu. Jaga jarak dari tepi.
- Puncak tidak memiliki area tertutup sehingga cukup panas di siang hari.
- Camping di puncak kurang direkomendasikan.
Tips Trekking ke Gunung Bunder
Baca Juga: Tak Perlu ke Pantai, Megamendung Bogor Punya Wisata Pasir Putih, Tiket Mulai Rp25 Ribu
- Gunakan alas kaki dengan cengkeraman baik karena banyak akar.
- Bawa air minum secukupnya, meski durasi singkat.
- Hindari mendaki saat atau setelah hujan deras.
- Konfirmasi retribusi dan kondisi basecamp sebelum berangkat.
- Jangan mendekati area bekas longsor di puncak.
- Pertimbangkan kombinasi dengan Gunung Pakuan atau Situ Rawa Kembar dalam satu kunjungan.
Baca Juga: Tak Perlu ke Pantai, Megamendung Bogor Punya Wisata Pasir Putih, Tiket Mulai Rp25 Ribu
Gunung Bunder cocok untuk trekking singkat di pagi hari dengan view terasering sawah dan suasana yang masih sepi.
Waktu tempuhnya pendek, tetapi jalur akar dan tebing bekas longsor membuat kewaspadaan tetap diperlukan. Cocok sebagai tambahan setelah camping di Situ Rawa Kembar.***
Editor : Eli KustiyawatiSumber : YouTube Opal Raufal