7 Cara Melatih Otak agar Tak Terjebak Kebiasaan Serba Instan

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Kamis, 5 November 2026 | 08:44 WIB
Otak jangan terjebak dengan kebiasaan serba instan.
Otak jangan terjebak dengan kebiasaan serba instan.

RADAR BOGOR - Banyak orang terlihat sehat dan aktif menjalani kehidupan sehari-hari.

Tetapi, tidak sedikit yang kesulitan mempertahankan fokus, ketika harus mengerjakan sesuatu dalam waktu lama.

Baru beberapa menit membuka buku, tangan sudah ingin mengambil ponsel.

Baca Juga: HVBITAT Cafe Bogor, Tempat Kuliner Japanese-Fusion dengan Menu Unik dan Es Krim Homemade

Saat mulai bekerja, perhatian justru mudah teralihkan oleh notifikasi atau keinginan membuka media sosial.

Kebiasaan tersebut bukan selalu berkaitan dengan tingkat kecerdasan atau kemalasan seseorang.

Pola konsumsi hiburan digital yang serba cepat juga dapat membentuk kebiasaan mencari kesenangan secara instan.

Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto, menyoroti fenomena tersebut sebagai salah satu tantangan masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital.

Menurut Rizki, otak manusia cenderung menyukai sesuatu yang memberikan rasa senang dengan cepat.

"Ketika seseorang terlalu sering mendapatkan rangsangan dari konten singkat, permainan, atau aktivitas digital lainnya, ia bisa semakin terbiasa mencari kepuasan instan," jelas Rizki kepada Radar Bogor, Kamis 5 November 2026.

Akibatnya, kegiatan yang membutuhkan waktu dan kesabaran, seperti belajar, membaca, mengembangkan keterampilan, hingga menyelesaikan pekerjaan, terasa lebih berat untuk dijalani.

Kondisi ini, sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang baru duduk untuk bekerja, tetapi beberapa menit kemudian tangannya sudah mencari ponsel.

Baru membaca dua halaman buku, pikirannya mulai ingin membuka media sosial.

Baca Juga: Toyota Sienta 2016 Bekas Makin Menggoda, Fitur Melimpah dan Bagasi Bisa Rata

Bahkan, jelas dia, ketika sedang mengedit video atau menyelesaikan tugas, muncul dorongan untuk berhenti sejenak dan mencari hiburan lain.

Kebiasaan Serba Instan Bisa Mengganggu Kemampuan Fokus

Rizki menjelaskan, kebiasaan mencari kesenangan secara cepat dapat membuat seseorang kurang terbiasa menghadapi aktivitas yang membutuhkan proses panjang.

Padahal, berbagai pencapaian dalam kehidupan tidak bisa diperoleh hanya dalam waktu singkat.

Mempelajari keterampilan baru, membangun usaha, mengumpulkan uang, memperbaiki kondisi fisik, hingga membentuk karakter membutuhkan konsistensi.

Seseorang yang ingin membangun kanal digital, misalnya, tidak cukup hanya mengunggah satu atau dua konten.

"Ada proses belajar, mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki kualitas yang harus dijalani," kata Rizki.

Begitu pula dengan pendidikan dan pekerjaan.

Hasil yang baik tidak selalu muncul pada hari pertama seseorang memulai sesuatu.

"Masalahnya, orang yang terbiasa mendapatkan kepuasan instan bisa kehilangan kesabaran ketika hasil yang diharapkan tidak segera terlihat," tuturnya.

Menurut Rizki, salah satu ciri kebiasaan tersebut adalah sulit mempertahankan perhatian, mudah melewatkan penjelasan panjang, dan cepat merasa bosan ketika menghadapi pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi.

Baca Juga: Pekerja WNA Bisa Dapat BSU 2026? Cek Penjelasannya

Padahal, informasi penting tidak selalu disampaikan melalui video singkat atau penjelasan yang langsung menuju kesimpulan.

Ada pengetahuan yang membutuhkan pemahaman bertahap.

Terlalu Sering Scroll Bisa Memicu Kebiasaan Membandingkan Hidup

Persoalan lain yang perlu diperhatikan, kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan pencapaian orang lain di media sosial.

Setiap hari, pengguna internet dapat melihat berbagai keberhasilan orang lain.

Mulai dari bisnis yang berkembang, pekerjaan dengan penghasilan tinggi, perjalanan ke berbagai tempat, hingga perubahan penampilan fisik.

Namun, yang terlihat biasanya hanya bagian terbaik dari perjalanan tersebut. Proses panjang, kegagalan, dan pengorbanan di balik pencapaian itu tidak selalu ditampilkan.

"Akibatnya, seseorang bisa memiliki ekspektasi yang tidak realistis mengenai waktu untuk mencapai keberhasilan," kata Rizki.

Ketika hasil yang diperoleh tidak secepat apa yang dilihat di media sosial, muncul perasaan tertinggal atau menganggap diri sendiri gagal.

Padahal, setiap orang memiliki kemampuan, pengalaman, kesempatan, dan kondisi yang berbeda.

Rizki mengingatkan, proses panjang memang tidak selalu menyenangkan.

Baca Juga: Cek Saldo Bansos Reguler di KKS 2017 dan 2018, Ternyata Hasilnya Begini

Belajar bisa terasa membosankan, menabung tidak langsung memberikan kepuasan, sedangkan olahraga juga tidak serta-merta menghasilkan perubahan fisik.

Namun, kebiasaan bertahan dalam proses tersebut justru menjadi bagian penting dalam membangun kedisiplinan.

7 Cara Melatih Otak agar Lebih Fokus dan Tidak Mudah Terdistraksi

Menghadapi kebiasaan serba instan bukan berarti seseorang harus membenci teknologi atau menghindari seluruh hiburan digital.

Rizki menyarankan, agar masyarakat mulai melatih kembali toleransi terhadap aktivitas yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsentrasi.

Perubahan dapat dilakukan secara bertahap melalui kebiasaan sederhana yang diterapkan setiap hari.

Berikut tujuh cara yang bisa dicoba.

1. Jangan Langsung Membuka Media Sosial pada Pagi Hari

Kebiasaan membuka media sosial sesaat setelah bangun tidur sebaiknya mulai dikurangi.

Rizki menyarankan, agar waktu pada awal hari digunakan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat bagi perkembangan diri.

Misalnya, membaca buku, menulis, menyusun rencana pekerjaan, belajar keterampilan baru, atau menjalankan aktivitas ibadah.

Alokasikan sekitar satu jam pertama untuk aktivitas pribadi sebelum mulai mengonsumsi hiburan digital.

Baca Juga: Berawal dari Iseng, Suci Sukses Bikin Mie Jebew Jadi Buruan di Jasinga Bogor

Dengan begitu, seseorang dapat menentukan prioritas harian tanpa langsung terdistraksi oleh berbagai informasi dari luar.

2. Terapkan Teknik Fokus 25 Menit

Melatih konsentrasi tidak harus dimulai dengan bekerja selama berjam-jam.

Salah satu metode yang bisa dicoba adalah teknik Pomodoro, yakni bekerja selama 25 menit dengan fokus penuh, kemudian beristirahat selama lima menit.

Selama periode tersebut, usahakan hanya mengerjakan satu pekerjaan. Hindari memeriksa notifikasi, berpindah aplikasi, atau mencari hiburan di tengah pekerjaan.

Jika sudah terbiasa, durasi fokus dapat ditingkatkan secara bertahap menjadi 40 menit hingga satu jam sesuai kemampuan.

3. Kurangi Konsumsi Konten Pendek

Menikmati video singkat memang bisa menjadi hiburan.

Namun, kebiasaan tersebut sebaiknya tidak menghabiskan seluruh waktu luang.

Seseorang dapat mulai membagi waktu antara menonton konten pendek dengan membaca buku, mengikuti kursus, mendengarkan podcast edukatif, atau menyimak materi yang lebih panjang.

Pada awalnya, aktivitas tersebut mungkin terasa kurang menarik.

Namun, kebiasaan memahami informasi secara mendalam perlu terus dibangun agar seseorang tidak hanya terbiasa menerima potongan-potongan informasi.

4. Biasakan Menghasilkan Karya, Bukan Hanya Menonton

Rizki juga mendorong masyarakat untuk lebih banyak menghasilkan sesuatu daripada sekadar mengonsumsi konten.

Aktivitas produktif bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menulis artikel, membuat video, mengedit foto, menyusun ide bisnis, atau mempelajari keterampilan tertentu.

Ketika seseorang mencoba menghasilkan karya sendiri, ia akan memahami bahwa sebuah hasil membutuhkan proses, tenaga, kreativitas, dan kesabaran.

Kebiasaan tersebut juga dapat membangun apresiasi terhadap usaha orang lain.

5. Matikan Notifikasi yang Tidak Penting

Notifikasi pesan, informasi viral, video menarik, hingga perdebatan di media sosial dapat mengalihkan perhatian dari pekerjaan utama.

Tanpa disadari, seseorang bisa menghabiskan banyak waktu untuk merespons hal-hal kecil, sementara pekerjaan yang lebih penting justru tidak terselesaikan.

Karena itu, matikan notifikasi aplikasi yang tidak diperlukan, terutama ketika sedang belajar atau bekerja.

Langkah sederhana ini dapat membantu mengurangi gangguan dan membuat perhatian lebih terarah pada aktivitas utama.

6. Jauhkan Ponsel Saat Sedang Bekerja

Selain mengatur notifikasi, meletakkan ponsel di tempat yang tidak mudah dijangkau juga bisa membantu mengurangi godaan untuk terus memeriksa layar.

Ketika sedang mengerjakan tugas, hindari membuka aplikasi hiburan hanya karena merasa bosan atau ingin mencari kesenangan sebentar.

Jika membutuhkan istirahat, manfaatkan waktu tersebut untuk berdiri, berjalan sejenak, atau melakukan peregangan.

Dengan mengurangi akses terhadap gangguan digital, seseorang bisa lebih mudah mempertahankan konsentrasi.

7. Buat Target Produktivitas Harian

Membangun fokus membutuhkan tujuan yang jelas dan realistis.

Seseorang bisa memulainya dengan target sederhana, seperti membaca 10 halaman buku, belajar keterampilan baru selama 15 menit, menyelesaikan satu pekerjaan utama, atau membuat satu karya setiap hari.

Target tersebut, dapat ditingkatkan secara bertahap seiring terbentuknya rutinitas.

Hal terpenting adalah menjaga konsistensi, bukan memaksakan diri untuk langsung menjadi sangat produktif dalam waktu singkat.

Jangan Sampai Hiburan Mengalahkan Hal yang Lebih Penting

Rizki menilai, hiburan bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Setiap orang tetap membutuhkan waktu untuk bersantai setelah menjalani berbagai aktivitas.

Persoalan muncul ketika hiburan justru mengambil alih waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan penting.

Misalnya, seseorang lebih disiplin membuka media sosial dibandingkan belajar, lebih sering menonton daripada mengembangkan keterampilan, atau terus bermain gim ketika pekerjaan belum selesai.

Karena itu, perlu ada aturan pribadi dalam menggunakan teknologi.

Hiburan bisa dijadikan hadiah setelah pekerjaan utama selesai.

Selesaikan tugas terlebih dahulu sebelum membuka media sosial atau menikmati konten digital.

Selain itu, seseorang juga perlu menghindari kebiasaan berpindah-pindah tujuan hanya karena melihat keberhasilan orang lain.

Tidak semua pencapaian bisa diraih dalam waktu singkat.

Ada faktor pengalaman, kualitas, kesempatan, dan proses panjang yang tidak terlihat dari sebuah unggahan di media sosial.

Konsistensi Menjadi Kunci Mengubah Kebiasaan

Mengubah kebiasaan serba instan tidak bisa dilakukan hanya dalam satu hari.

Dibutuhkan latihan dan kesabaran agar seseorang terbiasa menghadapi aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama.

Pada tahap awal, perubahan mungkin terasa sulit.

Membaca buku bisa terasa membosankan, bekerja tanpa membuka ponsel membutuhkan usaha, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa mencari hiburan bisa menjadi tantangan tersendiri.

Namun, kebiasaan tersebut dapat dibangun secara perlahan melalui target yang realistis.

Seseorang tidak perlu langsung menuntut dirinya mampu fokus selama berjam-jam.

Mulailah dari durasi pendek, kemudian tingkatkan secara bertahap.

Baca Juga: Kabar Bansos 5 November 2026: KPM BPNT Murni Ada yang Dapat PKH Validasi

Perlu diingat, kemampuan fokus juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kualitas tidur, kondisi fisik, stres, dan lingkungan. Karena itu, menjaga keseimbangan antara produktivitas dan istirahat tetap penting.

Pada akhirnya, persoalan bukan terletak pada keberadaan ponsel atau media sosial, melainkan bagaimana seseorang mengendalikan penggunaannya.

Jangan sampai seseorang menjadi generasi yang kuat mengonsumsi konten, tetapi kesulitan menghasilkan karya.

Sebab, keberhasilan tidak dibangun dari kesenangan sesaat. Ada proses panjang, kebiasaan disiplin, dan kesediaan untuk terus belajar yang perlu dijalani.

Melatih diri untuk sabar, fokus, dan menyelesaikan pekerjaan merupakan langkah sederhana yang dapat membantu seseorang membangun kehidupan yang lebih terarah. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor ITB Vinus ponsel