RADAR BOGOR - Dari menanam cabai di pekarangan hingga mengolah limbah sawit menjadi kompos, Tim Ekspedisi Patriot IPB University mendorong ibu-ibu di Nagari Kamang Makmur, Sumatera Barat, memanfaatkan potensi lokal untuk meningkatkan produktivitas dan membuka peluang usaha.
Pekarangan rumah dan limbah perkebunan, yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal ternyata menyimpan peluang ekonomi.
Potensi tersebut menjadi fokus kegiatan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Pertanian Bogor (IPB) University bersama kelompok perempuan di Nagari Kamang Makmur, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
Baca Juga: Waspada Penyalahgunaan KTP dan KK, Penyebab Bansos Tidak Cair
Melalui dua pelatihan di Kebun Percontohan Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunda Makmur, Jorong Timpeh 4, Kawasan Transmigrasi Muara Takung-Kamang Baru, Selasa (13/10), masyarakat diajak mengenali sumber daya di sekitar mereka dan mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Ketua TEP IPB University, Dr Veralianta Br Sebayang menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi sarana berbagi pengetahuan dan inovasi agar masyarakat mampu mengoptimalkan potensi lingkungan, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun pengembangan usaha.
Menanam Cabai Unggul Tak Harus Punya Lahan Luas
Bagi masyarakat yang ingin mulai berkebun, keterbatasan lahan bukan lagi alasan untuk mengurungkan niat.
Tim Ekspedisi Patriot IPB University memperkenalkan dua varietas cabai hasil rakitan Prof Muhamad Syukur, yaitu Triwarsana IPB dan Bonita IPB, yang dapat menjadi pilihan untuk dibudidayakan di pekarangan.
Triwarsana IPB memiliki keunikan berupa tiga warna buah dalam satu tanaman, yakni kuning, ungu, dan merah.
Sementara itu, Bonita IPB dikenal memiliki tingkat kepedasan tinggi dengan potensi produksi sekitar 156-325 buah per tanaman serta ketahanan terhadap penyakit virus kuning tertentu.
Veralianta mengatakan, budi daya cabai dapat dimulai dari skala sederhana menggunakan pot atau polybag di halaman rumah.
“Budi daya cabai tidak harus dilakukan di lahan yang luas, tetapi juga dapat dimulai dari pekarangan rumah menggunakan pot atau polybag. Kami berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan oleh ibu-ibu KWT dan PKK sehingga pekarangan rumah menjadi lebih produktif,” ujarnya dikutip dari laman resmi IPB.
Dalam pelatihan tersebut, anggota KWT dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Nagari Kamang Makmur mempelajari tahapan budi daya cabai, mulai dari penyemaian hingga perawatan tanaman.
Peserta dikenalkan pada media semai yang terdiri atas tanah, pupuk kandang, dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:1.
Baca Juga: 3 Cara Agar Bansos Tahap 4 Tetap Cair, Berkaca dari Tahap 3
Materi lainnya mencakup pemindahan bibit, pemupukan, serta pengenalan hama dan penyakit tanaman.
Untuk mendukung praktik langsung di rumah, tim membagikan bibit cabai berusia sekitar 20 hari setelah semai, benih, dan leaflet panduan budi daya.
Limbah Sawit Diolah Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Selain mengembangkan pekarangan, masyarakat juga diajak melihat peluang dari limbah perkebunan kelapa sawit.
Dalam pelatihan kedua, Dr Rasidin Karo Karo Sitepu menekankan bahwa pengembangan usaha sawit perlu disertai pengelolaan produk samping dan limbah agar memiliki nilai tambah.
Salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS).
Limbah tersebut dapat diolah menjadi kompos yang berguna untuk mendukung kebutuhan pemupukan tanaman.
Namun, menurut Rasidin, peluang usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk.
Pengetahuan mengenai pengelolaan dan manajemen usaha juga diperlukan agar kegiatan tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.
Anggota TEP IPB University, Sinta Naria Suryani, SP, kemudian memperagakan pengolahan TKKS menjadi kompos menggunakan larutan dekomposer EM4 dan molase.
Peserta juga melihat perbedaan kondisi tandan kosong yang masih segar dengan bahan yang telah menjalani fermentasi selama dua minggu.
Seorang anggota KWT Bunda Makmur mengungkapkan bahwa sebelumnya tandan kosong kelapa sawit langsung diletakkan di sekitar tanaman.
Setelah mengikuti pelatihan, ia memahami bahwa limbah tersebut perlu dicacah dan diolah terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan.
Kotoran Ternak Bisa Menjadi Pupuk Organik Cair
Potensi lain yang diperkenalkan dalam kegiatan ini berasal dari peternakan.
Ridhatul Alpadli, pelaku usaha perkebunan sawit sekaligus peternak, memperagakan pembuatan pupuk organik cair (POC) dengan memanfaatkan kotoran ternak, urine kambing, molase, air, dan Trichoderma.
Ia menjelaskan, kotoran dari 16 ekor kambing yang dipeliharanya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemupukan kebun sawit seluas sekitar 10 hektare.
Pemanfaatan limbah peternakan tersebut menjadi contoh bagaimana kegiatan pertanian dan peternakan dapat saling mendukung.
Bahan yang sebelumnya berpotensi terbuang dapat diolah menjadi produk yang berguna bagi kebutuhan perkebunan.
Kepala Jorong Timpeh 4, Nagari Kamang Makmur, menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan TEP IPB University. Menurutnya, kehadiran tim membantu masyarakat memperoleh pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
Dorong Pekarangan Produktif dan Hilirisasi Sawit
Melalui rangkaian pelatihan ini, TEP IPB University berharap masyarakat Kawasan Transmigrasi Muara Takung-Kamang Baru semakin mampu memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal.
Pengembangan budi daya cabai di pekarangan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas rumah tangga.
Baca Juga: Aturan Terbaru Bantuan PIP 2026: Tujuan, Sasaran, Syarat, dan Cakupan
Sementara itu, pengolahan tandan kosong kelapa sawit dan kotoran ternak menjadi pupuk organik berpotensi membuka peluang pemanfaatan limbah sekaligus mendukung hilirisasi komoditas sawit.
Kegiatan tersebut juga menjadi langkah untuk memperkuat keterampilan masyarakat dalam mengelola potensi pertanian dan peternakan secara lebih produktif, sehingga sumber daya yang tersedia di lingkungan mereka dapat memberikan manfaat yang lebih luas. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti