RADAR BOGOR - Pernah memiliki banyak rencana, tetapi justru menghabiskan waktu berjam-jam untuk rebahan atau bermain ponsel?
Keinginan untuk menjadi lebih produktif sebenarnya sudah ada, tetapi memulai satu pekerjaan saja terasa begitu berat.
Kondisi seperti ini kerap dianggap sebagai tanda kurang disiplin atau rendahnya motivasi.
Padahal, kebiasaan menunda pekerjaan juga berkaitan dengan cara otak merespons kenyamanan, tekanan, dan aktivitas yang memberikan kesenangan secara instan.
Baca Juga: Jualan Sejak 2003, Pisang Krispi Diki di Dramaga Bogor Kini Ramai Berkat Pakai Ini
Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto menjelaskan, otak manusia cenderung memilih aktivitas yang terasa mudah, aman, dan memberikan kenyamanan dalam waktu singkat.
Di tengah kemudahan teknologi digital, kebiasaan mencari hiburan melalui media sosial, menonton video, atau bermain ponsel bisa membuat seseorang semakin terbiasa memperoleh kesenangan tanpa perlu mengeluarkan banyak usaha.
Namun, bukan berarti kebiasaan malas tidak bisa diubah.
"Dengan memahami pola perilaku dan membangun rutinitas yang lebih sehat, seseorang dapat melatih dirinya agar lebih mudah memulai pekerjaan," kata Rizki kepada Radar Bogor, Sabtu 7 November 2026.
Ada 7 langkah yang bisa diterapkan untuk mengurangi kebiasaan menunda dan membangun produktivitas.
1. Pahami Mengapa Otak Lebih Memilih Kenyamanan
Salah satu alasan seseorang sulit memulai pekerjaan, kecenderungan otak memilih aktivitas yang membutuhkan usaha lebih sedikit.
Ketika dihadapkan pada tugas yang rumit, melelahkan, atau berpotensi menimbulkan kegagalan, seseorang bisa merasa lebih nyaman melakukan aktivitas lain yang menyenangkan.
Misalnya, kata dia, ketika seharusnya belajar atau menyelesaikan pekerjaan, seseorang justru memilih membuka media sosial, mencari makanan, atau melakukan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak mendesak.
Kebiasaan menghindari pekerjaan tersebut dapat terbentuk karena seseorang berulang kali mendapatkan kenyamanan setelah menunda tugas.
Baca Juga: Karhutla Masih Mengancam, Pemerintah Siapkan Penanganan di 4 Lokasi Rawan Kebakaran
Akibatnya, pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi semakin mudah dianggap sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan.
Karena itu, langkah awal untuk mengatasi rasa malas adalah mengenali pemicunya.
"Dengan memahami alasan di balik kebiasaan menunda, seseorang dapat mulai mencari cara yang lebih tepat untuk mengubah perilakunya," paparnya.
2. Jangan Menunggu Mood untuk Mulai Bekerja
Banyak orang beranggapan, produktivitas baru bisa muncul ketika suasana hati sedang baik.
Padahal, menunggu motivasi datang justru bisa membuat pekerjaan semakin tertunda.
"Seseorang sebenarnya mampu berkonsentrasi ketika melakukan aktivitas yang menarik minatnya, seperti bermain gim, berdiskusi, atau mempelajari sesuatu yang membuat penasaran," kata dia.
Artinya, kemampuan untuk fokus bukan semata-mata persoalan ada atau tidaknya motivasi.
Lingkungan, kebiasaan, dan cara seseorang memandang pekerjaan juga ikut berpengaruh.
Cobalah membangun hubungan yang lebih positif dengan aktivitas yang selama ini terasa membebani.
Jangan selalu menganggap belajar atau bekerja sebagai kewajiban yang menekan.
Jadikan aktivitas tersebut sebagai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan mencapai target pribadi.
3. Mulai dari Pekerjaan Kecil agar Tidak Mudah Menyerah
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika ingin menjadi produktif adalah menetapkan target terlalu besar dalam satu waktu.
Keinginan menyelesaikan seluruh pekerjaan sekaligus justru dapat membuat seseorang merasa kewalahan sebelum memulai.
Baca Juga: 6 Kebiasaan Sederhana Ini Bisa Membuat Cara Berpikir Lebih Tajam
Untuk mengatasinya, pecah pekerjaan besar menjadi beberapa langkah sederhana.
Jika ingin belajar satu bab, mulailah dengan membuka buku dan membaca beberapa paragraf.
Jika harus menyelesaikan proyek, awali dengan membuka laptop dan memeriksa dokumen yang diperlukan.
Langkah kecil tersebut membantu membuat pekerjaan terasa lebih ringan dan mudah dilakukan.
Setelah berhasil memulai, seseorang biasanya lebih mudah melanjutkan aktivitas berikutnya karena sudah memiliki gambaran mengenai apa yang harus dikerjakan.
"Jadi, jangan selalu menunggu semangat muncul. Terkadang, tindakan sederhana justru menjadi awal terbentuknya motivasi," tuturnya.
4. Atur Lingkungan agar Tidak Mudah Terdistraksi
Lingkungan sekitar memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan seseorang dalam mempertahankan fokus.
Bayangkan ketika sedang belajar, ponsel berada tepat di samping tangan dengan berbagai notifikasi yang terus bermunculan.
Godaan untuk memeriksa pesan atau membuka media sosial tentu semakin besar.
Karena itu, mengatasi rasa malas tidak selalu harus dilakukan dengan mengandalkan kemauan yang kuat.
Mengatur lingkungan juga menjadi strategi penting.
Baca Juga: Pebalap Indonesia Veda Ega Pratama Kena Penalti 6 Grid di Moto3 Qatar 2026, Ini Penyebabnya
Mulailah dengan menjauhkan ponsel ketika sedang bekerja, mematikan notifikasi yang tidak diperlukan, serta membatasi akses ke aplikasi yang sering membuat waktu terbuang.
Sebaliknya, sambung Rizki, siapkan segala sesuatu yang mendukung pekerjaan.
Rapikan meja, letakkan buku di tempat yang mudah dijangkau, dan pastikan perangkat kerja sudah siap digunakan.
Lingkungan yang tertata dapat membantu seseorang mengurangi gangguan sekaligus mempermudah proses memulai pekerjaan.
5. Gunakan Instruksi yang Jelas untuk Memulai Aktivitas
Target yang terlalu umum sering kali membuat seseorang kebingungan menentukan langkah pertama.
Misalnya, mengatakan kepada diri sendiri bahwa hari ini harus produktif belum memberikan gambaran mengenai pekerjaan yang harus dilakukan.
Agar lebih efektif, ubah target tersebut menjadi instruksi yang spesifik.
"Contohnya, duduk di meja kerja, membuka laptop, membaca materi selama 10 menit, atau menulis satu paragraf," jelasnya.
Instruksi sederhana seperti ini membuat pekerjaan lebih mudah dipahami dan langsung bisa dikerjakan.
Semakin jelas langkah yang harus dilakukan, semakin kecil pula kemungkinan seseorang menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan pekerjaan tanpa benar-benar memulainya.
Biasakan menentukan aktivitas utama yang ingin diselesaikan setiap hari agar waktu dan tenaga dapat digunakan dengan lebih terarah.
6. Bedakan Rasa Malas dengan Kondisi Tubuh yang Kelelahan
Tidak semua keinginan untuk berhenti beraktivitas berarti seseorang sedang malas.
Ada kalanya tubuh memang membutuhkan istirahat karena kurang tidur, kelelahan, terlalu banyak aktivitas, atau mengalami tekanan pikiran.
Memaksakan diri untuk terus bekerja dalam kondisi tidak bugar, justru dapat membuat konsentrasi semakin menurun.
Karena itu, penting untuk mengenali kondisi tubuh sebelum menyimpulkan bahwa diri sendiri kurang produktif.
Jika memang membutuhkan istirahat, berikan waktu yang cukup untuk memulihkan energi.
Istirahat bisa dilakukan dengan tidur yang berkualitas, minum air putih, melakukan peregangan, atau berjalan sebentar tanpa terus-menerus melihat layar ponsel.
Hal yang perlu diperhatikan adalah membedakan istirahat yang benar-benar memulihkan tenaga dengan aktivitas yang justru membuat seseorang semakin larut dalam distraksi.
Dengan kondisi tubuh yang lebih segar, pekerjaan biasanya dapat diselesaikan dengan lebih baik.
7. Bangun Kebiasaan Baru melalui Langkah Kecil
Mengubah kebiasaan tidak bisa dilakukan hanya dengan membuat rencana atau menunggu datangnya motivasi.
Diperlukan tindakan nyata yang dilakukan secara berulang agar pola baru dapat terbentuk.
Jika sebelumnya terbiasa menghindari pekerjaan ketika merasa kesulitan, cobalah mengubah respons tersebut dengan memulai satu langkah sederhana.
Tidak perlu langsung menargetkan perubahan besar.
Pilih satu pekerjaan yang selama ini tertunda, kemudian kerjakan dalam waktu singkat.
Misalnya, mulai membaca buku, merapikan meja, menyusun jadwal kegiatan, atau menyelesaikan satu tugas yang paling mendesak.
Ketika kebiasaan memulai sudah terbentuk, seseorang akan lebih mudah membangun kedisiplinan dalam aktivitas sehari-hari.
Kuncinya bukan menjadi pribadi yang selalu sempurna, melainkan konsisten melakukan perbaikan meskipun dimulai dari hal kecil.
Produktif Bukan Berarti Harus Memaksakan Diri
Mengatasi rasa malas bukan tentang memaksa diri bekerja sepanjang waktu tanpa istirahat.
Produktivitas yang baik justru membutuhkan keseimbangan antara aktivitas, konsentrasi, dan pemulihan energi.
Rizki Riyanto mengingatkan, pentingnya memahami kebiasaan diri sendiri serta membangun pola aktivitas yang lebih terarah.
Baca Juga: Modal Rp2 Juta, Toko Hera Kini Punya Dua Cabang
Pada akhirnya, perubahan tidak harus dimulai dengan target yang besar.
Seseorang cukup memilih satu pekerjaan yang selama ini ditunda dan mengambil langkah pertama untuk menyelesaikannya.
Jangan menunggu hari esok atau suasana hati yang sempurna.
Sebab, kebiasaan produktif dibangun melalui tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
"Semakin sering seseorang melatih dirinya untuk memulai, semakin besar peluang kebiasaan positif tersebut menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari," pungkasnya. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti